
Setelah kepergian Gerry Meyer lalu berdiri dari duduknya melangkah ke samping ranjang agar lebih leluasa mengobrol dengan kekasihnya.
Setibanya di samping ranjang, Meyer terkejut melihat sang kekasih mengeluarkan air mata.
"Sayang---"
"Kam-kamu?" ucapan Meyer terhenti saat melihat Dena tiba-tiba menangis kencang.
"Huaaaa!!!!"
"Hiks hiks hiks"
"Kamu bau! kamu bau Meyer!!! menjauh!!!" teriak Dena sesenggukan.
Meyer dengan cepat meletakkan mangkok mie ayam bakso yang ada di tangannya. Ia takut pasien lain terganggu dengan teriakan Dena.
Dengan cepat pria itu mendekap erat tubuh sang kekasih.
"Cup, cup, cup--"
"Lepaskan aku!! kamu bau!!" ucap Dena mendorong kuat tubuh Meyer hingga tanpa sengaja selang infus yang tadi terpasang langsung terlepas dari telapak tangan. Tetesan darah mengalir dari punggung tangan Denada.
Meyer semakin melotot melihat darah menetes dari punggung tangan sang kekasih.
"Diam!!!" bentak Meyer meninggikan suaranya. Ia takut pasien lain di luar sana terganggu dengan suara tangis Dena. Apa lagi jam menunjukkan jam istirahat.
Dena terkejut mendengar bentakan Meyer, ada sedikit rasa nyeri dihatinya dibentak seperti itu. Dena mengigit pelan bibir bawahnya menahan suara tangisnya agar tidak keluar.
"Kita panggil suster dulu agar infus kamu dipasang kembali. Supaya besok kita bisa memeriksa kandungan kamu di dokter kandungan." sambung Meyer mengecup kepala Dena.
Meyer lalu melepaskan pelukannya dan berdiri menekan satu tombol di atas kepala ranjang rawat sang kekasih.
Tak beberapa lama seorang perawat masuk ke dalam kamar rawat inap Dena. Perawat itu langsung membersihkan darah yang mengalir dari punggung tangan Dena. Setelah membersihkan area luka itu. Perawat lalu memasangkan selang infus yang baru di punggung tangan Dena. Setelah beres perawat itu keluar dari kamar rawat Dena.
"Apa kamu sudah merasa lebih baik?" tanya Meyer menatap mata sembab sang kekasih.
Dena diam tak bergeming mendengar pertanyaan Meyer. Ia masih sedikit kesal karena tadi Meyer membentaknya.
"Maafkan aku sayang...."
"Apa kamu tahu ini sudah malam! pasien lain pasti terganggu mendengar suara teriakan dan tangisan kamu. Nanti kalau kita sudah pulang. Aku membebaskan kamu berteriak dan menangis sepuasnya di apartemen kita. Hem." bujuk Meyer membuat perasaan Dena semakin bergemuruh.
Dena tidak memperdulikan perkataan Meyer sama sekali. Ia langsung membaringkan tubuhnya menghiraukan Meyer. Dena memejamkan matanya melupakan mie ayam bakso permintaannya tadi.
Sebenarnya Ia masih mau memakan makanan itu. Tapi rasa gengsi dan kesalnya masih melingkupi hatinya.
Meyer sedikit merasa bersalah sudah membentak sang kekasih. Pria itu lalu melangkah menuju kamar mandi mencuci wajahnya agar sedikit lebih segar. Malam ini kemungkinan Ia akan begadang melihat tingkah Dena yang akhir-akhir ini suka berubah-ubah.
Dena membuka matanya setelah mendengar suara pintu dibuka, lalu ditutup kembali. Ia menghembuskan napasnya menatap kosong ke arah pintu. Ia pikir Meyer sudah keluar dari kamar rawat inapnya, dan meninggalkannya sendirian di rumah sakit.
Dena menangis tersedu-sedu menutup mulutnya menahan rasa sesak di hatinya. Ia tidak mau suara tangisannya kedengaran sampai luar. Dena juga tidak tahu mengapa akhir-akhir ini perasaannya menjadi sedikit lebih sensitif.
...***Bersambung***...