YOUR LOVE HURTS ME

YOUR LOVE HURTS ME
Bab 24 Rayuan Meyer



30 puluh menit kemudian, mereka telah selesai makan siang. Meyer dengan lembut menghapus sisa minyak makanan yang menempel di sudut bibir kekasihnya menggunakan jari jempolnya.


"Terima kasih sayang"


Cup


Dena mengecup sekilas bibir kekasihnya.


Meyer menarik lembut tangan Dena duduk dipangkunya. "Bagaimana pekerjaan kamu hari ini? apa ada kendala?" tanya Meyer melingkarkan tangannya di pinggang Dena.


"Ya! hari ini pemotretan ku tidak terlalu banyak, karena Olivia sudah masuk bekerja hari ini." ucap Dena melingkarkan tangannya di leher Meyer.


"Bagaimana kalau malam ini kita ngedate." tawar Meyer tersenyum hangat menatap wajah ceria kekasihnya.


"Kemana?" tanya Dena menyeritkan dahinya. Tidak biasanya Meyer mengajaknya ngedate ketempat umum.


"Bioskop." ucap Meyer meletakkan dagunya di sebelah pundak Dena. Dena merasa panas dingin merasakan hembusan napas hangat Meyer.


"Baiklah! tapi aku tidak membawa pakaian ganti sama sekali, Sayang...." ucap Dena memelas.


"Masalah itu, aku akan menyuruh Gerry membelinya di butik langganan ku." sahut Meyer.


Dena langsung tersenyum menyeringai mendengar perkataan Meyer. "Aku mau nanti malam kita menggunakan pakaian couple." ujar Dena tersenyum lebar memamerkan jejeran gigi rapinya.


"Anything for you my love." ucap Meyer menarik lembut tengkuk leher Dena mempersempit jarak antar wajah mereka.


"Tapi itu tidak gratis sayang" ucap Meyer mencium rakus bibir tipis Denada.


"Em---" Dena berusaha melepaskan ciuman intens kekasihnya namun tidak bisa. Pada akhirnya Dena ikut menikmati ciuman itu tanpa canggung membalas ciuman kekasihnya.


Meyer menghentikan ciumannya saat merasa pukulan kuat tangan Dena di dadanya.


"Aku kesulitan bernapas!" dengus Dena mencebik bibirnya.


"Emang kenapa?" tanya Dena memonyongkan bibirnya cemberut menatap Meyer.


"Itu membuat anakonda ku minta lebih."


Cup


"Gemas deh!" ucap Meyer tersenyum hangat menatap wajah cemberut Dena.


"Ih! jangan cium- cium terus!" dengus Dena lagi-lagi memonyongkan bibirnya.


"Dengan ekspresi seperti ini. Kamu membuat anakonda ku bangun sayang. Aku mau---"


"No! aku tidak mau sampai hamil!!" ujar Dena memalingkan wajahnya kesamping.


Akhir-akhir ini mereka memang sering melakukan lebih dari sekedar ciuman. Tapi yang membuat Dena terkadang sedikit was-was saat Meyer melakukannya tanpa menggunakan pengaman sama sekali. Pria itu seringkali mengeluarkannya di dalam. Dena takut hamil disaat karirnya sedang naik-naiknya. Meskipun Meyer sudah melamarnya seminggu yang lalu. Tapi entah mengapa ada ketakutan sendiri yang selalu menghimpit hatinya.


"Sayang sekali saja ya! aku tidak akan mengeluarkannya di dalam. Lagian kalau kamu hamil, bukakan itu lebih baik? kita pasti akan memiliki bayi kecil yang lucu-lucu." celetuk Meyer mengelus lembut pipi putih kekasihnya.


"Ta-tapi aku merasa ada sesuatu yang akan memisahkan kita." lirih Dena sedikit menunduk.


Meyer mengangkat dagu kekasihnya agar tatapan mereka sejajar. "Itu hanya perasaan kamu saja sayang. Percayalah, secepatnya hubungan kita akan diresmikan kejenjang yang lebih serius." sahut Meyer memenangkan keresahan kekasihnya.


"Baiklah!" ucap Dena percaya dengan kalimat yang keluar dari mulut Meyer.


Sementara Meyer tersenyum bahagia mendengar persetujuan kekasihnya. Pria itu langsung mengunci pintu ruangannya melalu remote control. Ia lalu mengangkat tubuh kekasihnya ala bridal style menuju kamar pribadinya.


"Sepertinya anakonda ku hari ini akan mendapatkan jatah setelah 6 hari 6 malam tidak mendapat asupan vitamin." ucap Meyer meletakkan tubuh Dena di atas ranjang.


...***Bersambung***...