
Keesokan paginya
Katherine bangun pagi-pagi sekali pergi ke salon mempercantik dirinya. Ia melakukan facial, creambath, dan juga luluran agar tubuhnya semakin terlihat bersih. Ia melakukan semua itu agar terlihat cantik di mata orang-orang, termasuk keluarga Meyer.
Jam 9 pagi Katherine langsung melajukkan kendaraannya menuju kediaman kakek Meyer. Wanita itu berharap kakek Meyer bisa dibujuk dan dihasut menyetujui permintaannya memisahkan Meyer dan Dena.
Katherine memarkirkan mobilnya setibanya di halaman kediaman kakek Meyer. Ia turun dari mobil, lalu melangkah masuk ke dalam mansion besar itu.
"Ada keperluan apa Anda datang kemari Nona Matthew?" tanya seorang anggota Mafia berwajah sangar menghentikan langkah Katherine.
"Aku ingin menemui Tuan besar Lendsky." ucap Katherine angkuh.
"Tuan sedang istirahat dan tidak bisa diganggu!" ucap pria itu datar.
Katherine langsung mengeluarkan ponselnya menghubungi nomor Tuan besar Lendsky.
"Hallo"
"Kakek aku ada di depan mansion. Seorang pelayan tidak mengijinkan ku masuk ke dalam bertemu dengan kakek!" celetuk Katherine dengan raut wajah dan suara menyedihkan yang dibuat-buat.
Sementara anak buah Meyer terkejut mendengar sandiwara yang dibuat oleh Katherine. Pria itu mengepalkan kedua tangannya menatap tajam wajah Katherine.
"Apa? pelayan?" monolognya dalam hati
"Cih! wanita sialan!" sambungnya mengerutu dalam hati.
Anak buah Meyer itu lalu mempersilahkan Katherine masuk ke dalam kediaman Tuan besar Lendsky. Setelah Katherine masuk ke dalam kediaman Tuan besar Lendsky, pria itu langsung menghubungi nomor Meyer.
"Bos! wanita itu datang ke mansion Tuan Besar!" ucapnya sedikit menggebu-gebu.
[Apa! mengapa kau mengijinkan-nya masuk? apa kau sudah lupa dengan tugas yang ku berikan.] sahut Meyer meninggikan suaranya.
Sementara sang kekasih cukup terusik dengan suara Meyer.
"Baiklah. Aku akan kesana. Awasi wanita itu." ucap Meyer mematikan panggilan telepon anak buahnya.
"Sayang.... Kenapa?" tanya Dena dengan suara sedikit serak. Wajah wanita itu terlihat sayu dan sedikit bantal, karena baru tidur jam 4 subuh. Sekembalinya kemaren dari ngedate, Meyer minta jatah kepada Dena. Hati Dena yang memang cukup berbunga-bunga kemaren, mau-mau saja menuruti kemauan kekasihnya.
"Sayang. Sepertinya aku mau pergi ke mansion kakek dulu. Hari ini apa kamu bekerja?" tanya Meyer mengelus lembut muka bantal sang kekasih.
"Hari ini aku ada pemotretan. Pergilah. Tapi, apa kamu tidak mau makan terlebih dahulu?" kata Dena sembari bertanya.
"Tidak sayang. Setelah mandi, aku mau langsung ke mansion kakek."
Cup
"Vitamin untuk hari ini." ucap Meyer mengecup bibir Dena.
Dena tersenyum tipis mendapatkan kecupan selamat pagi dari kekasihnya.
Sementara Meyer langsung turun dari tempat tidur setelah mengecup bibir sang kekasih. Jadi pria itu tidak bisa melihat senyuman itu.
#
#
Di kediaman Tuan besar Lendsky
Seorang pria paruh baya, duduk di gajebo belakang mansion yang ditinggalinya sembari memberi makan ikan koi kesayangannya. Istrinya sudah meninggal dunia 23 tahun yang lalu. Setelah mendengar kabar kecelakaan tragis yang dialami putra dan menantunya. Istrinya meninggal ditempat kalau itu.
Sehari setelah kecelakaan, putra dan menantunya ikut menyusul kepergian istrinya. Kejadian itu benar-benar menghancurkan hati pria paruh baya itu. Pria itu dengan kuat dan tegar, merawat Meyer Lendsky dengan keras. Karena usia Meyer saat itu masih 4 tahun. Tentu saja pemuda itu tidak tahu apa-apa mengenai kejadian dimasa lalu.
...***Bersambung***...