
"Aish! sial!" teriak Greyson mendengus kesal.
"Apa kau mau kita mati kecelakaan Jack?" sambung Greyson menggerutu Greyson sembari mengusap-usap dahinya.
Alih-alih menjawab perkataan Greyson, Jack malah bertanya balik kepada Greyson. "Apa Anda serius, Tuan?"
Jack menatap dalam kedua bola mata Greyson yang duduk di kursi penumpang. Karena pria itu belum pernah melihat Greyson tidur dengan wanita mana pun, terkecuali Stevi.
"Ya! aku serius! aku ingin merasakan sensasi lain dari milik wanita di luar sana, Jack. Sudah sejak dua bulan yang lalu anakonda milikku berpuasa. Aku ingin mencobanya lagi setelah melepas keperjakaanku kepada wanita itu." celetuk Greyson dengan wajah datar.
"Maafkan saya Tuan. Kebetulan barusan salah satu rekan bisnis kita menghubungi saya. Ia berkata malam ini, Ia akan mengirim seorang model yang bisa kita jadikan sebagai model iklan untuk proyek baru kita." sahut Jack pada akhirnya. Ia tidak mungkin menceramahi Greyson setelah menghancurkan hidup orang lain.
Jack lalu melanjutkan perjalanan mereka sembari lanjut mengobrol dengan Greyson.
"Dimana pertemuannya?" tanya Greyson sembari melonggarkan dasinya. Ia merasa sedikit lega setelah melonggarkan dasi hitam yang sedari tadi melingkar di kerah kemejanya.
"Restoran T Tuan." sahut Jack melirik sekilas ke kaca spion belakang yang ada di atas kepalanya.
"Kita kembali ke penthouse. Setelah aku mandi, kita langsung kesana menemui wanita itu." pinta Greyson menatap anakonda miliknya sekilas.
"Sebentar lagi kau akan masuk sarang baru. Kau pasti senang bisa buka puasa setelah dua bulan puasa." gumam Greyson dalam hati. Ia lalu mengalihkan pandangannya keluar jendela mobil menatap jalanan ibukota Italia.
#
#
Sementara di Restoran T
Dena melirik sekilas jam tangan merek rolex yang melingkar dipergelangan tangannya. Ia cukup kesal dan jenuh menunggu kedatangan Greyson selama berjam-jam.
"Cih! seganteng dan sekaya apa sih pria itu, hingga tidak menghargai waktu sama sekali seperti ini." celetuk Dena kesal. Sudah dua jam lebih Ia menunggu kedatangan Greyson. Namun pria itu tidak kunjung datang dan menampakkan wujudnya.
TAK
TAK
TAK
Suara sepatu pantofel Greyson mengusik pendengaran para pelanggan dan pelayan Restoran T. Mereka terpukau saat melihat wajah tampan pria bermata biru keabu-abuan itu.
"Wah tampannya...." gumam para pelayan dan
pelanggan dalam hati. Mereka kagum sekaligus terpesona melihat tubuh kekar, rahang tegas dan wajah memikat Greyson.
"Bukankah pemuda itu pewaris Hotel Royal?" celetuk seorang pria tiba-tiba bertanya kepada temannya. Ia merupakan seorang reporter TV Internasional.
"Ayo! aku akan diam-diam mengambil gambar mereka. Aku yakin rating berita kali ini akan naik drastis." sambung kameraman itu.
"Tolong sedikit bergeser kesamping." pinta kameraman kepada temannya.
Sementara sang reporter tidak mau ketinggalan berita. Ia lalu mengeluarkan ponselnya memvideokan acara makan malam antara Dena dan Greyson. Ia juga mengambil beberapa gambar dari jarak jauh.
Dena terdiam lama menatap wajah tampan Greyson. "Mengapa pria ini terlihat sedikit lebih tampan dari Meyer. Tatapan kedua mata biru pria ini, mampu memikat hati para wanita diluar sana." gumam Denada dalam hati.
Ia menatap lama wajah tampan Greyson, hingga pertanyaan pria itu membuyarkan tatapan Dena.
"Ehem! apa kau akan terus menatapku seperti itu?" tanya Greyson menaikkan sebelah alisnya. Greyson tidak habis pikir dengan wanita yang baru saja Ia temui itu.
Dena langsung berdiri dari duduknya mendengar perkataan Greyson. Ia lalu mengulurkan tangannya ke depan Greyson. Namun Greyson menghiraukan uluran tangan Denada.
Dena cukup terkejut melihat respon Greyson. Pria itu sama sekali tidak menyambut baik uluran tangannya. Dengan sedikit canggung, Dena langsung mendudukkan bokongnya di seberang meja Greyson.
"Langsung saja ke intinya, Jack." ujar Greyson menatap datar wajah gugup sekaligus canggung Denada.
"Baiklah Nona, langsung saja."
"Apa anda yang bernama Denada Wilims?" tanya Jack menatap Dena dengan wajah datarnya. Ia berdiri di samping kursi yang diduduki Greyson.
"Ya, Anda benar. Saya Denada Wilims!" sahut Dena menetralkan degup jantungnya. Bukan karena takut namun Ia sedikit nervous berbicara dengan pria kaku, dingin dan datar seperti Jack dan Greyson.
"Tidak hanya Tuannya yang terlihat dingin, datar dan kaku. Ternyata asistennya juga dingin, datar dan kaku." monolog Dena dalam hati menetralkan ekspresinya.
"Kami akan menerima Anda sebagai model iklan proyek baru kami. Tapi dengan satu syarat --" ucap Jack menghentikan ucapannya.
"Anda baca baik-baik kompensasi yang akan Anda dapatkan. Dan ini pekerjaan yang harus Anda lakukan." sambung Jack menyerahkan dua lembar kertas, berisi beberapa persyaratan kerja sama antara perusahaan Greyson dan Denada.
"Syarat istimewanya akan Anda laksanakan, setelah Anda menandatangani kontrak ini." papar Jack lagi menyerahkan map berisik kontrak kerja sama.
"Kompensasi dan keuntungan ini akan sangat bermanfaat untuk meningkatkan popularitas karir Anda! bukankah tawaran ini sangat bermanfaat apabila Anda menerima kerja sama ini." ucap Jack datar.
"Syarat istimewa itu seperti apa?" tanya Denada dengan memberanikan diri menatap Greyson dan Jack bergantian.
"Memuaskan hasrat Tuan saya!" bisik Jack sedikit membungkukkan tubuhnya. Ia tidak mungkin mengatakan itu secara terang-terangan di depan umum. Apa lagi sedari tadi Jack merasa beberapa kamera mengawasi gerak-gerik mereka.
Deg
...***Bersambung***...