
Tak beberapa lama duduk disana, Dena lalu beranjak dari duduknya. Ia melihat cuaca di atas langit mulai terlihat gelap. Ia merasa suasana hatinya lebih baik sekarang. Dena langsung melangkah menuju parkiran umum.
Tak beberapa lama Dena tiba di apartemen, tempat tinggalnya dan Meyer. Ia tiba-tiba mendengar suara kegaduhan dari dalam apartemen mereka. Dena mempercepat langkahnya mendekati pintu apartemen yang masih terbuka. Ia melihat sekilas Meyer sedang berbicara dengan Tuan Lendsky.
Sebelumnya
Disaat Meyer sedang mencemaskan keberadaan Dena yang tak kunjung tiba di apartemen. Tuan Lendsky tiba-tiba datang ke apartemen Meyer. Meyer dengan tenang menyambut kedatangan Kakeknya.
"Ada keperluan apa Kakek datang kemari?" tanya Meyer dengan ekspresi datar dan dingin.
"Tinggalkan gadis itu! menikahlah dengan Katherine." ucap Tuan Lendsky dengan tegas.
"Mengapa Kakek tetap kekeuh menyuruhku menikah dengan wanita itu? sementara wanita itu telah membunuh putraku! apa Kakek gila? atau apa Kakek memiliki affair dengan wanita sialan itu, setelah kematian grandma?" sarkas Meyer menuduh Tuan Lendsky mengkhianati Neneknya.
Tuan Lendsky mengepalkan tangannya mendengar tuduhan Meyer.
"Kakek tidak mau tahu, kau harus menikah dengannya."
Darah Meyer semakin mendidih mendengar kalimat paksaan Kakeknya. Meyer ingin menyela perkataan Kakeknya, namun Meyer mengurungkan niatnya saat melihat Dena sudah berdiri di depan pintu.
"Meyer... dengarkan perkataan Kakekmu. Berbaktilah padanya. Aku tidak akan menghalangi pernikahan mu." ucap Dena dengan suara bergetar.
"Dena, tapi--"
"Hanya tinggal dia yang kau miliki di dunia ini. Hargai selagi masih ada." sela Dena melangkah menuju kamar.
Dena berusaha kuat, namun air matanya malah mengkhianati harapannya.
Hiks
Hiks
Hiks
Dena tiba-tiba menangis tersedu-sedu di kamar mandi. Ia merasa benci dengan takdir hidupnya. Bukannya membuat perasaannya menjadi lebih baik, perkataan kakek Meyer malah membuat Dena semakin terguncang.
Tok
Tok
Tok
Meyer menggedor-gedor pintu kamar mandi dari luar. Dan memanggil-manggil Denada. Namun Dena tidak menyahuti panggilan Meyer. Ia tidak mau Meyer melihatnya menangis. Dena langsung membasuh wajahnya dengan air dingin.
Cklek
Meyer mendekap tubuh Dena, entah hanya karena perasannya atau tidak. Meyer merasa Dena sepertinya akan pergi jauh dari hidupnya.
"Aku tidak akan menikah dengan wanita iblis itu. Aku hanya mencintai kamu. Jangan pergi dari hidupku. Aku tidak bisa hidup tanpamu."pinta Meyer dengan suara bergetar.
Dena tidak merespon ucapan Meyer, tapi air mata mengalir deras membasahi pipinya.
"Hanya cinta yang bisa membuat hatiku merasakan sesakit ini." gumam Dena dalam hati. Ia menangis terisak-isak di dalam dekapan Meyer.
Hiks
Hiks
Hiks
"Jangan menangis, Sayang.... semuanya akan baik-baik saja. Aku akan memperjuangkan cinta kita." ucap Meyer mengeratkan pelukannya.
"Aku merasa sepertinya kau akan pergi jauh meninggalkan ku."
Tubuh Dena tiba-tiba menegang mendengar kalimat yang terucap dari bibir Meyer. Dena semakin menenggelamkan wajahnya di dekapan Meyer dan menangis tersedu-sedu.
"Meyer.... mengapa mencintaimu sesakit ini..... mengapa mencintaimu membuatku selemah ini?"kata Dena dengan mata berkaca-kaca menatap kedua bola mata Meyer.
"Mengapa takdir seakan tidak mengijinkan kita bersama. Atau semua ini hanya perasaanku saja?"
"Sayang.... Tuhan sedang menguji cinta kita. Jangan terlalu dipikirkan."ujar Meyer mengelus kepala Dena.
"Meyer.... aku ingin pergi ke panti asuhan tempatku dibesarkan. Aku ingin menemui Ibu." kata Dena melonggarkan dekapan mereka.
"Ayo kita pergi bersama-sama." seru Meyer tersenyum hangat.
"Aku ingin pergi kesana sendirian. Aku ingin menginap beberapa hari bersama Ibu." ujar Dena penuh harapan.
"Baiklah, aku akan menyuruh anak buahku menjaga kamu dari jarak jauh." ucap Meyer mengalah.
"Hem." gumam Dena mendekap tubuh Meyer. Ia memutuskan untuk menyerah. Menyerah bukan berarti kalah. Ia hanya ingin mencari suasana baru.
Meyer membalas dekapan kekasihnya.
"Maafkan aku, Meyer. Jika, suatu hari nanti, tiba-tiba aku tidak ada kabar lagi." seru Dena dalam hati.
"Aku merasa kamu sedang merencanakan sesuatu sayang...." seru Meyer dalam hati.
...***Bersambung***...