
Dena menganggukkan kepalanya mendengar penjelasan Olivia. "Apa mesin itu bisa mengembalikan kita ke masa lalu?" tanya Dena penasaran. Entah mengapa pertanyaan itu tiba-tiba terucap dari bibirnya.
"Sepertinya bisa. Karena mesin itu berfungsi untuk melintas waktu."
"Tapi aku kurang tahu juga sih." seru Olivia. Ia hanya disuruh menjaga benda itu tanpa diminta mengajukan pertanyaan. Olivia mendengar kegunaan alat itu juga, karena menguping perbincangan seniornya.
"Sekitar itu juga, tiba-tiba melintas ide kecil di pikiran Dena. Bagaimana kalau aku bersembunyi di tempat itu. Aku bisa menyamar jadi dirimu, dan dirimu bisa menyamar jadi diriku." saran Dena penuh harapan.
"Kau tidak tahu mengenai ilmu kedokteran sama sekali. Bagaimana caranya kau membantu proses persalinan istri tuan Greyson nanti."celetuk Olivia menatap sahabatnya.
"Istri? apa pria itu sudah menikah?" tanya Dena penasaran.
Sepertinya.... soalnya beberapa hari yang lalu, tanpa sengaja Olivia mendengar pembicaraan antara Greyson dan asistennya. Mereka sepertinya sedang mencari seorang wanita hamil. Olivia menyakini kalau wanita hamil itu adalah istri tersembunyi Greyson.
"Ya, sepertinya tuan Greyson memiliki istri yang disembunyikannya selama ini. Mungkin Tuan Greyson tidak mau keberadaan istrinya diketahui semua orang." ucap Olivia menduga-duga.
Dena mengangguk-angguk kepalanya mendengar perkataan sahabatnya.
"Tapi aku lebih penasaran dengan mesin itu." gumam Dena dengan suara pelan.
"Mengapa kamu harus penasaran dengan mesin itu?" tanya Olivia menyeritkan dahinya mendengar ucapan sahabatnya.
"Hem.... tidak....tidak.... menurutmu, apa aku harus berhenti jadi model? aku ingin mencari ketenangan jauh dari hiruk-pikuk keramaian ibu kota." seru Dena mengalihkan topik pembicaraan mereka.
"Aku akan tetap mendukung apapun keputusan mu. Pikirkan baik-baik selama satu hari ini. Jangan sampai menyesal. Karena menjadi seorang model merupakan impianmu sedari kecil." nasehat Olivia tersenyum hangat.
"Jam kerja telah usai. Saatnya kita kembali ke tempat kita masing-masing. Tapi sebelum itu.... sepertinya make up ini harus di hapus terlebih dahulu. Kau tidak mungkin menggunakan wajah itu kembali ke apartemen Meyer, kan?" kata Olivia menaik-turunkan alisnya.
"Iya, kau benar. Hampir saja aku keluar menggunakan wajah ini." gumam Dena menggaruk kepalanya tidak gatal.
Mereka menghapus make up yang menutupi wajah mereka.
Setengah jam kemudian mereka keluar dari perusahaan, menuju tempat tinggal masing-masing.
"Bye.... hati-hati dijalan Olivia." ujar Dena tersenyum lebar melambaikan tangannya kearah sahabatnya.
Dena langsung masuk ke dalam mobilnya setelah kepergian Olivia. Ia menghembuskan napasnya sebelum menghidupkan mobilnya.
"Sepertinya aku mau melakukan me time hari ini. Aku ingin belajar hidup mandiri tanpa embel-embel nama Meyer." gumam Dena menghidupkan mobilnya. Mobil yang dikendarai Dena melaju menuju taman bermain. Ia ingin melihat anak-anak kecil bermain di taman. Karena hanya dengan melakukan hal seperti itu, perasaan Dena akan lebih tenang.
Diam-diam selama ini Dena menggunakan obat penenang tanpa sepengetahuan Meyer. Dena juga sekarang lebih berhati-hati memakan makanan yang diberikan orang lain. Termasuk makan yang dibuat Meyer sendiri. Selama sebulan ini, Dena merasa dirinya terkadang fobia dengan makanan yang dibuat langsung oleh tangan orang lain. Ia takut orang itu memasukkan sesuatu ke dalam makannya.
Hubungan mereka akhir-akhir ini sangat dingin, apa lagi Meyer jarang meluangkan banyak waktu bersama Dena. Dena benar-benar tidak tahu ataupun bertanya sedikitpun dengan kegiatan Meyer.
Dena memarkirkan mobilnya di parkiran umum. Ia lalu mengenakan kaca mata hitam menutupi matanya. Ia tahu anak buah bayangan Meyer akan mengikuti kemanapun Dena pergi. Itu semua atas perintah Meyer. Ia tidak mau kekasihnya kenapa-napa diluar sana. Cukup satu kali Ia kecolongan, hingga membuat putra mereka meninggal.
Dena duduk di kursi sekitar area taman bermain. Ia melihat banyak anak-anak kecil tertawa lebar bermain bersama ibu mereka. Dena terkadang merasa iri melihat kebahagiaan itu. Tanpa sadar sebelah tangan Dena mengelus perutnya dengan lembut. Ia mengira bayi itu masih ada di dalam rahimnya.
Seorang wanita paruh baya tiba-tiba duduk di samping Dena. Wanita itu menatap hangat wajah sendu Dena.
"Apa kamu sedang mengandung?" tanya wanita itu melirik sekilas kearah Dena.
"Saya baru saja kehilangan putraku. Aku kehilangan putraku di dalam kandungan." gumam Dena dengan suara bergetar. Setetes air mata mengalir dari sudut matanya.
"Bersabarlah.... mungkin ini ujian dari Tuhan. Tidak akan lama, kau akan segera di karuniai momongan baru, Nak. Teruslah berdoa dan berserah kepada Tuhan." nasehat wanita itu tersenyum hangat.
"Aku juga pernah terpuruk.... namun aku punya keyakinan dan tekat agar bangkit kembali setelah berbulan-bulan terpuruk. Disaat keluargaku memojokkan ku, ada suamiku yang setia mendukungku." sambung wanita itu menatap kearah taman bermain.
Tak beberapa lama seorang pria paruh baya mendekat ke arah mereka. "Sayang, ayo kita kembali." ujar pria itu sembari mengetik sesuatu di ponselnya.
"Iya, Mas." seru wanita itu langsung berdiri.
"Ikhlas lah, Nak. Kebahagiaan akan segera menghampiri mu." ujar wanita itu mengelus kepala Dena dengan lembut.
Dena merasa ada desiran aneh menerpa hatinya. Ia merasa sedikit familiar dengan sentuhan wanita paruh baya itu.
Dena menatap dalam kepergian wanita paruh baya itu dengan suaminya. "Mungkin perasaan ku saja." gumam Dena menghembuskan nafasnya.
...***Bersambung***...