YOUR LOVE HURTS ME

YOUR LOVE HURTS ME
Bab 46 KML Part 4



"Aku ingin kau menculik bayi perempuan dari pria bernama Dede Wildan. Lalu kau bawa bayi itu menjauh dari ibukota. Aku ingin keluarga pria itu juga merasakan apa yang keluarga ku rasakan!" ucap Tuan Lendsky dengan sorotan mata tajam penuh dendam.


"Kau boleh membawanya ke panti asuhan atau membuangnya. Aku menyerahkan tugas ini padamu." ucap Tuan Lendsky masuk ke kamar rawat Enzo dan Marisa.


Pria itu termenung lama, sebelum berlalu dari sana melaksanakan perintah dari sang Tuan.


Setibanya di kamar rawat istri Dede, pria itu terdiam lama sebelum masuk ke dalam. Bayi Dede terlihat sudah tertidur pulas, begitupun dengan istri Dede. Namun Dede entah dimana. Pria itu, tidak melihat Dede ada di dalam kamar.


Dengan hati-hati pria itu mengangkat tubuh bayi itu, agar tidak menganggu tidurnya. Pria itu akhirnya bernapas lega setelah keluar dari rumah sakit. Ia lalu membawa bayi itu menjauh dari rumah ibukota Bogota. Tiga jam kemudian, mobil yang dikemudikan oleh pria itu tiba di sebuah jembatan.


Pria itu meletakkan bayi itu dibawah jembatan dan membalikkan tubuhnya kembali ke mobil. Namun tangisan nyaring bayi itu menghentikan langkah pria itu.


Di sudut hati kecilnya, pria itu sebenarnya tidak tega membuang bayi suci itu. Kulit bayi itu juga masih berwarna merah sedikit kebiruan. Itu menandakan kalau bayi itu baru lahir beberapa jam yang lalu.


"Ma-maafkan aku...." gumam pria itu dengan lirih. Ia masuk ke dalam mobil meninggalkan jembatan itu. Mobil itu melaju menjauh, meninggalkan bayi malang itu. Namun tak beberapa lama mobil itu memutar arah dan kembali kearah jembatan.


Pria itu turun dari mobil dan melangkah kebawah jembatan. Ia bernapas lega, kala melihat bayi itu masih ada disana.


Pria itu mendekap tubuh bayi mungil itu dengan penuh kasih sayang, hingga bayi itu sedikit lebih tenang. Bayi itu terlihat ngemut bibirnya seperti sedang haus dan minta susu.


"Apa kau haus?" tanya pria itu dengan suara lembut. Meskipun nada suara dan ekspresi wajahnya terlihat sangat kaku.


Pria itu lalu membawa bayi itu, ke panti asuhan di daerah terpencil Kolombia. Ia akan menjauhkan bayi itu dari ibukota Bogota, sesuai perintah Tuannya. Lima jam kemudian, mereka tiba di depan gerbang panti asuhan. Bangunan panti asuhan itu terlihat sudah tua, tetapi masih terawat dengan baik.


Tin


Tin


Tin


Sementara di dalam panti


Seorang wanita berusia kira-kira 30 tahun melangkah keluar dari dalam panti, ketika mendengar suara klakson dari luar gerbang. Wanita itu melangkah membuka gerbang, ketika melihat sorotan lampu berwarna kuning mengarah kearah gerbang panti asuhan. Cahaya itu terlihat kontras, karena hari sudah mulai gelap. Sementara anak-anak panti sedang berkumpul di aula panti asuhan menunggu jam makan malam tiba.


"Permisi, Tuan. Ada yang bisa saya bantu?" tanya wanita itu tersenyum ramah.


"Bolehkah kita berbicara di dalam, Nona." ucap pria itu, ia menurunkan kaca mobilnya hingga setengah.


"Boleh, Tuan. Silahkan masuk." ucap wanita itu membuka lebar gerbang panti itu.


Pria itu memarkirkan mobilnya di halaman bangunan panti itu. Ia menatap sekilas kearah wajah bayi cantik itu.


"Maafkan aku. Semoga ditempat ini kau tumbuh dengan baik. Aku akan selalu memantau keadaan mu dari jarak jauh." ucap pria itu mengelus pipi merah bayi itu.


"Perkenalkan nama saya Rosalie. Saya pemilik panti Glora kasih. Ada yang bisa saya bantu, Tuan?" tanya wanita itu tersenyum ramah. Ia menatap sekilas kearah pangkuan pria itu.


"Saya Devendra, saya memiliki suatu tujuan penting datang kemari." ucap Deven.


"Saya datang kemari ingin menitipkan bayi saya kepada Anda. Saya baru saja bercerai dengan istri saya. Mantan istri saya tidak mau merawat bayi kami. Saya berniat merantau keluar negeri mencari pekerjaan untuk memenuhi kebutuhan bayi saya. Setiap kali gajian, saya akan mengirim uang membeli susu untuk putri saya." jelas Deven.


"Apa Anda bisa membantu saya merawat bayi mungil saya. Saya pasti akan menjemputnya kembali, saat saya memiliki cukup uang." ucap Deven berbohong.


Wanita itu tertegun mendengar perkataan pria di depannya. Ia tidak menyangka ada ayah seperti pria di depannya ini. Harusnya pria itu bekerja keras merawat dan menjaga bayinya. Bukan malah meninggalkan bayinya di panti asuhan.


"Bayi yang malang" gumam wanita itu dalam hati.


"Baik, Tuan. Saya akan merawat bayi Anda dengan baik. Anda tidak usaha khawatir dengannya." sahut wanita itu pada akhirnya. Jauh di dalam lubuk hatinya, wanita itu merasa sedih dan kasihan melihat keadaan bayi itu. Ia yakin bayi yang dibawa Deven merupakan bayi yang baru saja dilahirkan beberapa hari yang lalu. Karena kulit bayi itu masih berwarna merah.


Deven langsung menyerahkan bayi kecil itu kepada Rosalie. Bayi itu terlihat sangat anteng berada di dekapan wanita berusia tiga puluh tahun itu. Ia tidak menangis ataupun merengek.


"Sebentar, saya akan mengambilkan perlengkapan untuk keperluan putri saya beberapa hari ke depan." ucap Deven menatap kearah bayi mungil itu sekilas. Ia lalu melangkah ke mobil mengambil perlengkapan bayi.


Ada tas berisi pakaian, susu, mainan, sepatu mungil, dan juga bahan-bahan makanan untuk orang dewasa. Pria itu membeli semuanya diam-diam, tanpa sepengetahuan Tuan Lendsky. Ia tidak tega meninggalkan bayi itu tanpa memiliki pakaian ganti sama sekali.


Rosalie terkejut melihat barang-barang perlengkapan yang dimaksud Deven. Ia pikir perlengkapan yang dimaksud pria itu hanya pakaian putrinya. Namun pria itu juga membeli beberapa bahan makanan.


"Aduh.... terima kasih, Tuan. Maaf sudah merepotkan Anda. Padahal saya bisa memanggil anak-anak panti yang sudah remaja, membantu Anda mengangkat barang-barang itu." ujar Rosalie tidak enakan.


"Tidak apa-apa, Nona."ujar Deven.


"Kalau begitu saya permisi, Nona. Tolong jaga putri saya. Dan terima kasih atas kebaikan Anda." ucap pria itu.


"Baik, Tuan. Saya akan merawat putri Anda dengan baik." ucap Rosalie tersenyum hangat.


"Kamu sangat cantik sayang. Apa kamu sudah diberi nama?" tanya Rosalie, ketika matanya memandang teliti wajah bayi mungil di dekapan-nya.


Langkah Deven langsung terhenti ketika mendengar ucapan Rosalie. Deven membalikkan tubuhnya menatap kearah Rosalie dan bayi mungil yang ada di gedongan wanita itu.


"Nona, namanya Denada.... panggilan dia Denada Wilims." seru Deven tiba-tiba.


Rosalie mengalihkan pandangannya menatap kearah Deven. Ia tersenyum tipis mendengar ucapan pria itu. "Baiklah, Tuan.... Saya akan memanggil menyematkan nama itu untuknya."


...***Bersambung***...