YOUR LOVE HURTS ME

YOUR LOVE HURTS ME
Bab 8 Kepergian Dena Ke Italia



"--Tuan sedang dalam pengaruh obat-obatan! hal ini tentu saja akan membahayakan, Tuan Muda. Tadi seorang wanita berniat memperkosa, Tuan Muda. Apa Anda tidak kasihan melihat tubuh kekar ini, digagahi oleh wanita bayaran diluar sana?" celetuk anak buah Meyer bertanya.


Keduanya memperlihatkan ekspresi sedih mereka untuk menyakinkan Denada. Meskipun ucapan anak buah Meyer terdengar sedikit berlebihan. Namun setidaknya Dena mau berbesar hati memaafkan Meyer. Pada akhirnya ekspresi sedih itu bisa juga meluluhkan hati Denada.


"Masuklah...." ucap Dena pada akhirnya melirik sekilas kearah Meyer.


"Untuk terakhir kalinya." batin Dena melipat kedua tangannya di depan dada. Ia kemudian mempersilahkan kedua anak buah Meyer masuk ke dalam apartemennya.


Dua orang anak buah Meyer memapah tubuh tinggi, dan besar pria itu masuk ke dalam apartemen Dena.


Kedua pria itu lalu membawa tubuh Meyer menuju kamar Dena. Karena setahu mereka, Dena dan Meyer biasanya tidur di kamar yang sama. Namun teguran Dena membuat mereka terkejut.


"Jangan membawanya masuk ke dalam kamarku! baringkan tubuhnya di sofa ruangan tamu!" ujar Dena menatap kedua anak buah Meyer dari pintu apartemen.


"Ta-tapi nona--"


"Aku tidak mau dibantah! kalau kalian tidak mau mendengarkan perkataan ku, lebih baik bawa pria itu keluar dari apartemen ku!!" sela Dena dengan tegas tidak mau dibantah.


Kedua anak buah kembali memapah tubuh Meyer menuju sofa ruang tamu. Mereka membaringkan tubuh pria itu di atas sofa panjang.


"Kalau begitu kami permisi Nona." pamit kedua anak buah Meyer bersamaan.


Dena diam tak bergeming dan tidak juga menyahuti ucapan anak buah Meyer. Wanita itu langsung mengunci pintu apartemennya dari dalam, setelah kedua anak buah Meyer keluar.


Dena melangkah menuju kamarnya, tanpa ada niat sedikitpun mengecek kondisi Meyer di ruangan tamu.


Cklek


Dena lalu membaringkan tubuhnya di atas ranjang sembari menatap langit-langit kamarnya. Tak beberapa lama, Denada kemudian memejamkan kedua matanya. Setetes air mata keluar dari sudut kedua kelopak matanya.


"Aku berharap kebahagiaan segera menghampiri ku." gumamnya dalam hati sebelum terlelap.


#


#


Keesokan harinya


Dena bangun pagi-pagi sekali, tepatnya pukul 5 subuh. Ia memasukkan beberapa perlengkapan yang mungkin akan Ia butuhkan selama di Italia. Dena memoleskan make up tipis di wajahnya, sebelum berangkat ke Bandara.


Hari ini Dena akan melakukan perjalanan menuju Italia, seperti janjinya kemaren malam dengan manajernya. Ia menyimpan perlengkapannya selama disana di dalam koper kecil. Khusus untuk pakaian, Dena berniat membelinya langsung disana saja.


Dena menyeret kopernya keluar dari dalam kamar, sampai tiba di depan pintu keluar. Ia lalu menempelkan sebuah note di depan pintu keluar, agar dibaca Meyer saat mau keluar dari apartemennya nanti.


[Keluar dari apartemen ku sebelum aku kembali!]


Cklek


Dena lalu menyeret kopernya keluar dari apartemennya tanpa membangunkan Meyer sama sekali. Dena sudah tidak lagi memperdulikan bagaimana kelanjutan hubungan mereka berduaan.


Dena membanting pintu apartemennya dengan kuat, sebelum melangkah menuju lift.


#


#


Sementara di sofa ruang tamu


Meyer cukup terkejut mendengar suara bantingan pintu. Ia langsung terbangun dari tidurnya. Pria itu menyeritkan dahinya meneliti ruangan itu.


"Mengapa aku bisa sampai disini?"


"Dimana ini?" monolognya bertanya-tanya.


Pria itu lalu mengeluarkan ponselnya dari kantong celananya dan menghubungi Gerry sang asisten.


"Hallo?"


"Kau kemaren malam yang mengantarku ke tempat ini? apartemen siapa ini?" tanya Meyer datar kepada sang asisten.


[Tidak Tuan. Kemaren saya memerintahkan dua orang anak buah klan kita mengantar Anda ke tempat Nona Dena.] sahut Gerry dari seberang sana.


Meyer langsung mematikan panggilannya setelah mendengar perkataan asistennya. Ia lalu berlari menuju kamar Dena mencari keberadaan kekasihnya itu.


"Sayang!"


"Dena!"


Cklek


Kamar yang di tempati Dena sudah terlihat rapi dan bersih. Tercium aroma wangi parfum yang biasa digunakan Dena di Indar penciuman Meyer.


"Apa dia sudah pergi bekerja?" gumam Meyer keluar dari kamar Dena.


Kertas note kecil persegi empat yang menempel di pintu keluar menarik atensi Meyer. Pria itu lalu melangkah menuju pintu keluar apartemen.


"Keluarlah dari apartemen ku sebelum aku kembali!!" ucap Meyer membaca kertas note itu.


"Apa dia masih marah padaku?" tanya Meyer pada dirinya sendiri.


Pria itu lalu melangkah keluar dari apartemen Dena setelah menerima telepon dari asistennya.


"Baiklah! aku akan langsung turun ke bawah!" sahut Meyer menerima panggilan telepon dari Gerry. Ia lalu mematikan panggilan teleponnya dan menutup pintu apartemen Dena.


...***Bersambung***...