
Dua bulan kemudian
Dena sudah kembali beraktivitas seperti biasanya, Ia tidak menemukan hal yang janggal mengenai kejadian 3 bulan yang lalu. Namun terkadang Ia sedikit bingung dengan tatapan perihatin sekaligus sinis orang-orang kearahnya.
Dena tidak akan mengetahui apa yang terjadi 3 bulan yang lalu, karena dengan kekuasaannya, Meyer mampu menutup mulut semua pemberitaan media 3 bulan yang lalu.
Dena melamun memikirkan apa yang sebenarnya sudah terjadi sebelum Ia masuk rumah sakit. Panggilan Olivia membuyarkan lamunan Denada.
"Dena!"
"Hey! Dena!"
"Are you okey?" tanya Olivia mendudukan bokongnya di kursi sebelah Dena.
"Olivia--" lirih Dena mengeser posisi duduknya agar lebih leluasa mengobrol dengan sahabatnya itu.
"Kamu kenap Dena?" tanya Olivia mengamati ekspresi penasaran Dena.
"Sebenarnya apa yang sudah terjadi sebelum aku masuk rumah sakit? aku merasa akhir-akhir ini tatapan orang-orang terlihat berbeda. Aku merasa kadang aku ditatap dengan ekspresi kasihan, perihatin dan terkadang orang-orang menatap ku dengan ekspresi kesal, jijik dan juga sinis.
Deg
Olivia terkejut mendengar perkataan sahabatnya itu. Ia juga tidak tahu mengapa orang-orang bertingkah seperti itu.
"Aku kurang tahu Dena. Karena kamu tahu sendiri aku sedang sibuk dengan koas ku. Karena bulan depan aku akan bekerja bersama seniorku bernama Tom di kediaman rahasia keluarga Douglas." bisik Olivia dengan suara pelan.
"Tapi yang aku tahu, waktu acara met gala, kalian sedikit bertengkar. Karena Meyer datang mengandeng nenek ngesot, saingan mu ke acara itu!" ucap Olivia. Karena memang disitu terakhir kali pertemuan mereka sebelum Dena kembali ke jati dirinya yang sesungguhnya. Apa lagi kalau bukan menjadi seorang dokter seperti keinginan kedua orangtuanya.
Dena terdiam sebentar mendengar perkataan sahabatnya Olivia. Ia semakin curiga dengan tingkah aneh Meyer selama dua hari ini. Mereka tinggal bersama kembali setelah Dena keluar dari rumah sakit.
"Apa ada yang mengganggu pikiranmu?" tanya Olivia mengamati ekspresi wajah Denada.
"Ti-tidak Olivia. Selamat ya! sebentar lagi kau akan menjadi seorang dokter yang hebat. Kau mengulurkan tangan mu dengan tulus membantu orang-orang yang sedang membutuhkan bantuanmu sembuh dari penyakit mereka." ucap Dena tersenyum kecil.
"Terima kasih sahabatku." ucap Olivia mendekap tubuh ramping Denada.
Tak beberapa lama suara sang manajer menghentikan obrolan mereka.
"Baik kak!" ucap mereka bersamaan.
"Apa kau akan tetap menggeluti hobimu menjadi seorang model?" tanya Dena sembari memeriksa dan merapikan kembali rias wajahnya.
"Tentu saja. Aku masih bisa menerima pemotretan di waktu-waktu tertentu."
"Lagian, aku akan menjadi dokter pribadi. Tentu saja aku akan memiliki banyak waktu luang." ucap Olivia.
Dena menganggukkan kepalanya mendengar perkataan Olivia.
"Semangat untuk pemotretan hari ini!!" ucap mereka bersamaan mengepalkan kedua tangannya keatas saling mendukung.
Mereka tertawa cekikikan melihat tingkah mereka
#
#
Sementara di kantor Meyer
"Apa Anda memanggil saya Tuan?" tanya Gerry berdiri di depan meja kerja Meyer.
"Apa kau sudah menemukan kelemahan Katherine?" tanya Meyer.
"Belum Tuan. Sangat sulit menemukan kelemahan wanita itu." ucap Gerry sedikit gugup.
"Mengapa kau jadi tidak becus begini Ger!! apa karena kau sudah tidur dengannya dan mengambil kegadisannya sehingga kau berusaha melindunginya!!" tanya Meyer meninggikan suaranya.
"Dia memiliki tangan kanan yang cukup cerdik sehingga saya kesulitan menembus keamanan data-data pribadinya, Tuan." ucap Gerry menundukkan kepalanya.
"Semakin lama kita bergerak, semakin sulit bagiku terlepas dari manusia egois seperti Katherine. Ini akan mempengaruhi hubunganku dengan Dena."
"Aku takut Dena tahu, kalau selamat ini aku memberikan obat--"
...***Bersambung**"...