
"Apa tujuanmu ke Italia? menjual tubuhmu pada pria brengsek itu!!!" bentak Meyer mencengkram kuat bahu Dena.
"Jawab sialan!!!" benak Meyer semakin emosi di dekat wajah Dena langsung.
Dena menatap kosong kearah Meyer. Bibirnya terasa kelu untuk berkata-kata. ataupun menjelaskan apa yang terjadi selama Dena di Italia.
"Apa kau akan diam saja! jawab aku Dena! apa kau menjual tubuhmu kepada pria brengsek itu!!" tanya Meyer lagi. Darahnya terasa mendidih, karena Dena hanya diam dan tidak menjawab pertanyaannya sedari tadi.
Dena diam tak bergeming sama sekali, ketika mendengar pertanyaan Meyer. Ia merasa mulutnya tiba-tiba terkunci, sehingga suaranya juga ikut menghilang. Karena dipikirannya, setengah perkataan Meyer itu adalah kebenaran. Bukankah kemaren disana pria itu memintanya melayaninya.
PLAK
"Sialan!! Brengsek!!"
PLAK
Meyer menampar pipi kiri dan kanan Denada dengan kuat. Hingga membuat sudut bibir Denada pecah dan mengeluarkan darah segar.
Sementara Dena hanya bisa mengepalkan tangannya menerima kekerasan dari Meyer. Air mata mengalir deras dari sudut kelopak matanya. Bukan sekali dua kali Dena mendapatkan perlakuan seperti itu.
"Itulah mengapa kedua orang tuamu membuang mu dulu di panti asuhan!! karena mereka berpikir, ketika kau dewasa, kau akan tumbuh menjadi wanita murahan!" ucap Meyer tanpa rasa bersalah menatap Denada dengan sinis.
Dena lagi-lagi tidak bergeming, Ia hanya bisa diam dan menatap kosong ke lantai. Air mata mengalir deras membasahi kedua pipinya.
"Mulai besok kau tidak usah bekerja! besok beberapa anak buah ku akan berjaga-jaga di depan apartemen mu!" ujar Meyer meninggalkan Denada dengan hati hancur berkeping-keping.
Denada langsung luruh kelantai setelah kepergian Meyer. Ia menangis tersedu-sedu mendengar semua perkataan meyakinkan yang keluar dari mulut Meyer. Ia memukul-mukul kuat dadanya merasa sesak sulit bernapas.
"Hiks, hiks, hiks"
#
#
Sementara di sisi Meyer
"Apa kau menggunakan kekerasan lagi?" tanya Gerry menatap sahabat sekaligus bosnya.
"Dia menjual tubuhnya kepada pria brengsek itu!!" racau Meyer meletakkan botol alkohol dengan keras di atas meja.
"Apa kau langsung percaya dengan dugaanmu? kau hanya melihat bukti dari berita. Bisa saja berita itu sudah ditambah dengan bumbu-bumbu penyedap agar ratingnya naik." ucap Gerry berpikir positif.
"Kau tidak akan paham dengan perasaanku!!" dengus Meyer meneguk langsung satu botol alkohol.
"Sudahlah Meyer, hentikan. Kau sudah menghabiskan alkohol dua setengah botol." nasehat Gerry menghentikan gerakan tangan Meyer.
Alih-alih mendengarkan perkataan Gerry, Meyer malah meneguk botol alkohol yang masih penuh. "Jika aku mabuk! antarkan aku ke apartemen Dena!" perintah Meyer benar-benar mabuk.
"Ayo aku akan mengantarmu pulang! kau setiap kali patah hati, pasti merepotkan!" seloroh Gerry memapah tubuh kekar Meyer.
"Dena sialan!! apa karena milik pria itu lebih besar dan memuaskan, ketimbang milikku! makanya kau mau tidur dengannya!" racau Meyer memaki Denada.
"Hiks, Hiks, Hiks--"
"Mengapa kau mengkhianati ku, sesudah aku mencintaimu Dena...." racau Meyer lagi menangis sesenggukan. Namun tidak ada setetes air mata pun mengalir dari kedua matanya.
"Apa kau tidak malu menangis tersedu-sedu di tengah jalan seperti ini? apa lagi kita masih berada di depan parkiran Club. Banyak orang yang memandang kasihan kepadamu" bisik Gerry cukup kesal mendengar racauan Meyer.
"Apa kau tidak malu, seorang mafia yang paling di takuti di Kolombia menangis di depan Club karena sedang patah hati."gerutu Gerry.
Gerry lalu membaringkan tubuh berat Meyer di kursi penumpang.
"Ternyata kau berat juga, Meyer. Bersyukurlah karena aku masih menghargai mu sebagai bosku. Dan itu pun karena kau selalu memberikanku gaji besar. Kalau tidak, kau sudah ku tinggalkan di dalam Club sampai pagi." ucap Gerry menghembuskan napasnya.
Gerry lalu menutup pintu penumpang setelah membaringkan tubuh Meyer di atas kursi, dengan kaki sedikit dimiringkan.
Mobil yang mereka tumpangi berlalu meninggalkan parkiran Club.
...***Bersambung***...