YOUR LOVE HURTS ME

YOUR LOVE HURTS ME
Bab 71



"Sayang... sepertinya besok aku memiliki pekerjaan di luar kota. Aku pergi selama 2 hari. Apa kalian mau ikut?" tanya Meyer menatap Dena.


"Pergilah.... kami tinggal di rumah saja."sahut Dena tersenyum tipis.


"Aku khawatir meninggalkan kalian berdua di rumah, tanpa penjagaan ketat." tutur Meyer mengutarakan kekhawatirannya.


"Di luar banyak anak buah kamu. Jadi, apa lagi yang harus di takutkan? kecuali.... mereka berkhianat." celetuk Dena tersenyum lebar.


"Baiklah.... aku tidak akan memaksa kalian ikut bersamaku. Tapi, kabari aku sejam sekali, agar aku tenang dan tidak merasa cemas selama berada di luar kota." seru Meyer mengenggam tangan kekasihnya.


Meyer lalu beranjak dari duduknya, dan melangkah menuju kamar putranya. Sementara Dena membersihkan meja makan dan piring kotor.


Tak beberapa lama, Meyer datang sambil mengendong Richardo.


"Ternyata anak Mama udah bangun, ya."ujar Dena mengelus muka bantal putranya.


"Tunggu sebentar, sayang... aku mau membuatkan susu untuk putra kita." timpal Dena menatap Meyer.


"Siap, Nyonya Lendsky!" seru Meyer tersenyum lebar.


Dena berlalu dari sana dan melangkah menuju dapur.


"Anak Papa udah gemoy banget sekarang, ya. Giginya juga udah mulai tumbuh lagi."ucap Meyer memperhatikan gusi putranya.


"Biarkan aku yang mengendong putra kita. Kan, kamu mau berangkat kerja juga sebentar lagi." seru Dena mengulurkan tangannya meminta Richardo masuk ke dalam pelukannya.


Meyer langsung memberikan Richardo kepada Dena, ia juga baru ingat, kalau hari ini ia memiliki meeting dengan kliennya.


"Sayang... aku mau ke kantor dulu ya. Jangan pergi kemana-mana tanpa pengawal."ujar Meyer mengecup kening kekasihnya.


"Papa pergi dulu, jangan nakal, sampai membuat Mama kelelahan." timpal Meyer mengecup gemas pipi cabi putranya.


Richardo tersenyum lebar merasa geli dikecup tiga kali oleh Meyer.


Cup


Cup


Cup


"Sayang.... aku pergi dulu, ya." timpal Meyer mengacak-ngacak rambut panjang Dena.


"Hati-hati, Papa.... jaga mata, jaga hati." ujar Dena meniru suara anak kecil.


"Siap Tuan muda." seru Meyer melangkah keluar rumah minimalis yang mereka tinggali.


"Aku merasa kita tidak akan bertemu lagi." gumam Dena menatap punggung Meyer semakin hilang dari pandangannya.


"Apa kamu juga merasakan hal yang sama?" tanya Dena menatap putranya.


"Mommy berharap suatu hari nanti kamu tumbuh menjadi pria yang baik dan mampu mengayomi keluargamu." timpal Dena mengelus kepala putranya.


"Apa kamu mau berjemur di taman?" tanya Dena melangkah kearah jendela, lalu menatap keluar jendela.


"Sepertinya langit sangat cerah hari ini." gumam Dena kembali melangkah menuju pintu keluar. Ia ingin berjemur di gajebo halaman rumah. Mumpung matahari pagi masih sehat dan tidak membuat tubuh gosong.


"Mari kita berjemur di halaman depan.... kamu juga harus mengenakan kaca mata ini." kata Dena memasangkan kacamata mini menutupi kedua mata putranya.


Dena kemudian melangkah ke depan gajebo bersama Richardo.


Sejam lebih Mereka berjemur di bawah sinar matahari, hingga rengekan Richardo membuat Dena menyudahi acara berjemur mereka.


Dena tidak menyadari, kalau sepasang mata tajam, penuh kebencian, sedari tadi mengikuti kemanapun kakinya melangkah.


"Aku akan memisahkan mu dari Meyer. Aku tidak akan gagal kali ini, setelah apa yang Meyer perbuat kepadaku." gumam orang itu berlalu dari sana.


"Bagaimana? apa kita memiliki celah masuk ke dalam?" tanya wanita itu mengenakan kacamatanya.


...***Bersambung***...