YOUR LOVE HURTS ME

YOUR LOVE HURTS ME
Bab 52



Kandungan Dena sudah menginjak 4 bulan. Meyer tidak pernah lelah menuruti keinginan kekasihnya. Namun yang membuat Dena masih sedih sampai sekarang adalah. Kakek Meyer tak kunjung memberi restu kepada hubungan mereka. Perut Dena juga sudah terlihat membuncit. Dan gejala morning sick yang di alaminya tidak separah pertama kali.


Hari ini Dena berniat pergi ke perusahaan untuk mengajukan surat pemutusan kontrak ke perusahaan sang kekasih. Dena memutuskan istirahat dari dunia modeling hingga bayi mereka berusia 3 tahun. Dena sangat antusias menanti kelahiran sang buah hati.


"Sayang.... nanti aku jemput ya. Jangan pulang sendiri! jangan dekat-dekat dengan pria lain. Ingat jaga jarak!" ucap Meyer dengan tegas. Meyer akhir-akhir ini bertingkah sangat posesif terhadap Denada. Ia terlihat seperti seorang suami yang suka membatasi pergaulan istrinya.


Mereka sebenernya memiliki rencana menikah sebelum Dena melahirkan. Namun mereka tidak mungkin menikah tanpa restu Kakek Meyer. Sementara Tuan Lendsky merupakan keluarga inti satu-satunya yang di miliki Meyer. Keluarga dari ibu Meyer sudah lama tidak bertemu.


"Siap, Pak bos." sahut Dena tersenyum manis.


"Boy.... jaga Mama, okey. Kalau Mama dekat-dekat dengan pria lain dimarahi saja. Bawa Mama jauh dari pria itu." seru Meyer mengelus lembut perut kekasihnya.


Dena menyeritkan dahinya mendengar perkataan kekasihnya. "Bagaimana caranya memarahi Ibunya?" pikir Dena dalam hati.


Cup


"Hati-hati...." ujar Meyer lagi setelah mengecup perut buncit kekasihnya.


"Jangan lupa menghubungiku, kalau urusan kamu sudah selesai." sambung Meyer menatap serius kekasihnya.


"Iya, Papa. Mama nanti akan mengabari Papa." seru Dena tersenyum lebar.


Meyer lalu turun dari mobil dan membukakan pintu samping pengemudi untuk kekasihnya.


"Terima kasih sayang...."kata Dena setelah turun dari mobil.


"Masuklah.... aku mau menunggu kamu disini sampai masuk ke dalam perusahaan." ucap Meyer mengelus kepala Dena.


Dena melanjutkan langkahnya masuk ke dalam perusahaan. Ia ingin secepatnya menemui sang manajer. Karena beberapa hari yang lalu Meyer sudah membicarakan hal ini kepada sang manajer.


Katherine tersenyum menyeringai melihat kedatangan Dena dengan gaun sedikit longgar. Kehamilannya masih disembunyikan dari media dan rekan kerjanya. Karena Dena tidak mau orang-orang berpikir yang tidak-tidak. Apa lagi dicap sebagai perebutan tunangan orang lain.


"Aku tidak akan kalah dengan wanita miskin sepertimu!" ucap Katherine penuh ambisi. Beberapa hari yang lalu Meyer menemuinya. Pria itu tetap kekeuh pada keputusannya. Pria itu membatalkan pernikahan mereka secara sepihak. Katherine tidak terima dengan penghinaan pria itu. Ia mau menghancurkan hubungan Dena dan Meyer hingga berkeping-keping. Ambisi dan dendam itu sudah mendarah daging di tubuh wanita itu.


Katherine melangkah ke dapur perusahaan sembari mengenggam sesuatu di tangannya. Ia memotong-motong buah naga merah dan memasukkannya ke dalam blender. Katherine menuangkan buah naga itu ke dalam gelas. Katherine membawa jus itu menuju sebuah ruangan.


Tak beberapa lama segelas jus buah naga sudah tersaji di atas meja Dena.


Sementara Dena menyeritkan dahinya melihat segelas jus di atas mejanya.


"Apa ini?" tanya Dena menatap curiga kearah Katherine.


"Aku mendengar gosip dari beberapa rekan model lain, kalau kau akan keluar dari perusahaan. Jadi, aku memberikan jus ini sebagai ucapan terima kasih kepadamu. Terima kasih sudah mundur dari posisimu. Sekarang aku sudah tidak perlu lagi capek-capek mengeluarkan mu dari model perusahaan. Aku juga sudah tidak memiliki saingan lagi." jelas Katherine dengan datar.


"Aku tentu saja harus merayakannya dengan mu." sambung Katherine tersenyum puas.


"Bawa minuman itu kembali, karena aku tidak menyukainya. Bisa saja kau ingin meracuniku kan?" tuduh Dena penuh intimidasi.


"Cih!" Katherine pura-pura berdecih mendengar tuduhan Dena.


"Untuk apa aku meracuni mu di dalam perusahaan? bukankah itu sama saja aku mencoreng nama besar keluarga Matthew?" dengus Katherine menatap sinis Dena.


"Kau tidak mungkin berubah menjadi baik begini, kalau tidak ada maunya. Aku yakin kau sedang merencanakan sesuatu." tuduh Dena tetap tidak percaya dengan Katherine.


"Baiklah, aku akan mencobanya terlebih dahulu. Kalau aku tidak kenapa-napa, kau juga harus mencobanya!" ucap Katherine menaikan sebelah alisnya.


Katherine menuangkan setengah jus buah naga ke dalam gelas kecil wine yang tersedia di ruangan itu. Ia lalu meneguk jus itu hingga habis. Ia ingin Dena percaya dengan ucapannya.


Dena terdiam lama mengamati ekspresi Katherine, Ia melihat wanita itu baik-baik saja setelah meneguk jus itu. Dena lalu mengalihkan pandangannya menatap sisa jus yang ada di gelas.


"Aku tidak mungkin menghancurkan karir yang susah payah ku bangun untuk membunuh mu. Apa lagi di dalam perusahaan sedang banyak orang yang berlalu lalang kesana kemari." sambung Katherine melirik jengah kearah Dena.


"Kita tidak pernah tahu bagaimana hati seseorang. Bisa saja Ia berusaha pura-pura baik karena niat terselubung." sindir Dena menatap Katherine curiga.


"Aku tidak akan meminum jus itu. Karena aku lagi tidak ingin meminum apapun!" tukas Dena tetap kekeuh dengan keputusannya.


Katherine mengepalkan tangannya mendengar perkataan Denada. Katherine melangkah mendekati Dena, lalu Katherine tiba-tiba mencengkram kuat pipi Dena dan memasukkan minuman itu secara paksa. "Kau harus meminumnya dan menghargai usahaku membuat minuman ini!" bentak Katherine emosi.


"Cepat! telan!" ketus Katherine membentak Denada.


"Emm...."


Dena berusaha melepaskan cengkraman Katherine di pipinya, namun tidak bisa.


"Telan!!" bentak Katherine membekap mulut Dena agar tidak memuntahkan cairan itu.


Mau tidak mau Dena meneguk jus itu hingga habis. Dena belum merasakan apapun setelah meneguk jus itu.


Sementara Katherine tersenyum puas melihat minuman itu sudah di teguk habis oleh Dena. "Apa kau merasa ada racun di minuman itu? tidak kan!" dengus Katherine tersenyum puas.


Katherine lalu berlalu keluar dari ruangan Dena dengan perasaan bahagia. Ia senang sebentar lagi rencananya akan berhasil.


Olivia yang melihat Katherine keluar dari ruangan Dena sedikit khawatir. Karena Ia melihat Katherine tersenyum puas penuh dengan kelicikan. "Aku sangat yakin. Jika wanita itu sudah melakukan hal yang tidak-tidak!" gumam Olivia melangkah cepat menuju ruangan Dena.


Cklek


Brak


"Dena! apa kamu baik-baik saja?" tanya Olivia melangkah mendekati Dena. Ia mengamati tubuh sahabatnya dengan teliti.


"Aku baik-baik saja Oli----"


"Argh!!!"


Dena tiba-tiba mengerang kesakitan.


"Oliv.... perutku tiba-tiba sakit...."


Keringat dingin sebiji kacang tanah membanjiri dahinya. Ia merasa kepalanya pusing dan matanya berkunang-kunang.


"Olivia.... aku merasa perutku sakit.... hiks....hiks....hiks...."


Dena tiba-tiba menangis terisak-isak.


"Darah.... darah mengalir dari atas ************ mu...." seru Olivia tiba-tiba cemas.


Olivia mencari-cari keberadaan ponselnya di dalam tasnya.


Tut


Tut


Tut


"Hallo! cepat datang kemari! Dena tiba-tiba kesakitan!" kata Olivia dengan suara kuat, lalu mematikan panggilannya.


...***Bersambung***...