
"Baiklah, aku akan membantu mu keluar dari kediaman Meyer. Tapi, tidak sekarang. Tunggu beberapa hari lagi selalu aku cuti."
"Baiklah. Jaga rahasia ini dengan baik." ujar Dena dengan wajah serius.
Olivia tersenyum tipis mendengar perkataan sahabatnya.
Tak beberapa lama terdengar suara langkah kaki seseorang. Siapa lagi kalau bukan Meyer. Pria itu menatap tajam kearah Dena dan Oliva.
"Mengapa kalian berdiri disitu. Apa kalian sedang menyembunyikan sesuatu?" tanya Meyer penuh dengan kecurigaan menatap Dena dan Olivia bergantian.
"Tidak, Dena memintaku untuk menangkap kecoa yang lari ke arah tangga." jawab Olivia cengengesan.
"Aku ingin bertemu dengan keponakan ku. Sebaiknya kalian mengobrol saja." tambah Olivia melangkah cepat menuju kamar bermain Richardo.
Setelah kepergian Olivia, Meyer melangkah mendekati Dena. Namun,Dena melengos pergi begitu saja.
"Sayang, Apa kamu masih marah padaku?" tanya
Meyer tergesa-gesa mengikuti langkah cepat Dena.
"Sayang, aku hanya takut kamu kenapa-napa. Gerry sampai sekarang belum juga ditemukan. Begitu juga dengan keberadaan Katherine. Aku sungguh mengkhawatirkan kamu dan putra kita. Aku takut Katherine masih bersembunyi dan berkeliaran di sekitar kita." terang Meyer menghentikan langkah Dena. Meyer dengan cepat memeluk tubuh Dena dari belakang.
"Aku takut kehilangan kamu. Jadi, tolong menurut lah sekali ini saja." gumam Meyer dengan suara lembut.
Dena membalikkan tubuhnya menatap Meyer dengan perasaan bersalah. "Maafkan aku." bisik Dena dengan suara bergetar.
Tiba-tiba Olivia melangkah dengan tergesa-gesa turun dari lantai 2. Ia tersenyum tipis melihat Meyer dan Dena seperti orang yang sedang berpelukan.
"Maaf mengganggu keromantisan kalian. Aku harus pergi, karena ada urusan urgent." Olivia tidak lagi menunggu jawaban dari Meyer dan Dena.
Setelah melihat kepergian Olivia. Meyer mengajak Dena menemani Richardo bermain. Dena kemudian mengikuti langkah Meyer menuju lantai 2.
Sepanjang hari mereka bermain bersama Richardo. Hingga sebuah panggilan telepon dari Arden menghentikan kebersamaan mereka.
"Sayang, aku tinggal sebentar." ujar Meyer mengelus kepala kekasihnya.
"Aku juga berniat membuat makan malam untuk kita." balas Dena ikut berdiri.
"Bu, tolong jaga Richardo. Aku mau menyiapkan makan malam dulu." ujar Dena menatap Rosyidah.
Meyer dan Dena keluar dari kamar bermain Richardo melanjutkan aktivitas mereka.
#
#
Seminggu kemudian
Meyer sudah masih kekeuh dengan keputusannya tidak membiarkan Dena keluar dari mansion. Selama seminggu ini, Dena menghabiskan waktunya sepenuhnya untuk Richardo dan Meyer. Ia menyiapkan menu makan kesukaan kedua pria beda usia itu.
Dengan perasaan was-was, Dena menunggu kedatangan Olivia. Sudah sejam berlalu, namun gadis itu tak kunjung datang.
Tin
Tin
Suara klakson mobil dari luar terdengar nyaring di pendengarannya. Dena bergegas bangkit dari sofa dan melangkah kearah pintu keluar. Sebelum sampai di pintu luar. Dena melihat Olivia sudah berdiri di depan pintu.
Akhirnya Dena bisa bernapas lega melihat keberadaan gadis itu.
Dena langsung menarik tangan Olivia menuju lantai 2.
"Berapa jam waktu yang kamu butuhkan mengubah wajahku menjadi wajahmu?" tanya Dena setibanya di sebuah kamar kosong yang biasanya ditempat oleh tamu yang menginap.
"Tidak akan lama."jawab Olivia mengeluarkan peralatan make up nya.
"Syukurlah...." balas Dena bernapas lega.
Olivia dengan cepat mengganti pakaiannya dengan pakaian yang tadi dikenakan Dena. Begitu juga sebaliknya. Dena juga mengunakan pakaian yang tadi dikenakan Olivia.
Sejam kemudian, wajah Dena sudah berubah menjadi wajah Olivia. Apa lagi bentuk hidung dan rahang mereka hampir sama. Dengan melihat sekilas saja, orang-orang tidak akan curiga dengan identitas mereka berdua.
Dena keluar dari kediaman Meyer dengan tenang. Ia juga memperagakan bagaimana cara berjalan Olivia. Dan benar saja, anak buah Meyer tidak curiga sedikitpun. Sementara Olivia, melangkah menuju kamar Richardo. Ia tersenyum hangat menatap anak itu.
"Nty...." Richardo mengulurkan tangannya minta di gendong.
Sementara Olivia merasa dejavu mendengar panggilan Richardo.