
Setelah merasa tenggorokannya lebih nyaman, Dena mulai memperhatikan sekelilingnya. Ia menyeritkan dahinya melihat sekelilingnya.
"Mengapa aku ada di rumah sakit?" gumam Dena dengan lirih. Tanpa sadar tangan Dena mengarah mengelus perutnya. Mungkin karena sudah mulai terbiasa sejak perutnya membuncit.
Deg
Dena terdiam beberapa saat. Ia tidak lagi merasakan keberadaan bayinya.
"Meyer...." panggil Dena dengan lirih.
"Bayi kita....apa bayi kita baik-baik saja?" tanya Dena dengan suara bergetar.
"Ma-maafkan aku sayang.... putra kita tidak bisa diselamatkan. Ma-maafkan aku.... aku gagal menjaga kalian."
Meyer langsung mengenggam tangan Dena, supaya Dena tidak tertekan memikirkan berita duka mengenai kematian putra mereka.
"Meyer.... ini semua karena wanita sialan itu. Dia-dia-- memaksaku meminum jus yang wanita itu bawa. Wanita itu jahat Meyer...."
"Aku tahu sayang.... aku akan membalasnya." kata Meyer mengelus lembut pipi kekasihnya.
"Hiks.... hiks.... hiks...."
Dena tiba-tiba menangis tersedu-sedu. "Meyer.... aku gagal menjadi seorang ibu.... aku gagal...."kata Dena dengan suara bergetar.
"Tidak sayang.... kita tidak gagal.... tapi Tuhan lebih sayang kepada putra kita. Kita harus merelakan putra kita, agar dia tenang di alam sana." seru Meyer mendekap kekasihnya.
"Cepatlah sembuh. Mati kita bersama-sama mengubur putra kita." sambung Meyer. Ia sudah mempersiapkan makam putranya di sebuah pulau terpencil. Lokasinya tidak terlalu jauh dari mansion keluarga Lendsky.
"Bolehkah aku mengendong putra kita." pinta Dena tidak mampu lagi membendung air matanya. Hatinya benar-benar terluka dengan perbuatan Katherine. Wanita itu benar-benar memiliki jiwa seperti iblis. Ia tega membunuh bayi mungil yang tidak berdosa.
Meyer meletakkan putranya di dekapan kekasihnya. Air mata membanjiri wajah mereka. Hati mereka benar-benar hancur melihat kulit pucat dan membiru putra mereka. Tubuh bayi itu benar-benar masih kecil.
"Hiks....hiks....hiks.... Meyer...."
"Aku-- aku tidak sanggup melihat keadaan putra kita...."
Dena mendekap putranya dengan penuh kasih sayang sembari terisak-isak. "Apa kau tahu.... Mama sangat menyayangi mu. Andaikan waktu bisa di putar kembali.... Mama akan membawamu pergi jauh dari negara ini." bisik Dena dengan suara bergetar.
"Anak ku yang malang.... anakku sayang...."
"Mungkin Tuhan lebih sayang kamu. Maafkan Mama tidak bisa menjagamu. Jika suatu hari nanti kita
dipertemukan kembali. Mama berharap kamu bisa mengenal Mama sebagai ibumu." timpal Dena. Pipi pucat itu sedari tadi tidak berhenti dibanjiri air mata.
"Sudah sayang.... ikhlaskan putra kita. Biar dia tidur dengan tenang." nasehat Meyer. Meskipun pada kenyataannya Meyer juga tidak ikhlas putranya telah tiada.
Tiga hari kemudian, Dena sudah diijinkan pulang oleh dokter. Dena belum diijinkan melakukan pekerjaan yang berat. Tubuh mungil putra Meyer dan Dena juga sudah di suntik formulir tiga hari yang lalu.
Hari ini Meyer dan Dena berencana menguburkan jasad putra mereka agar tenang di sorga. Mereka sudah belajar ikhlas melepas kepergian bayi mungil mereka. Meskipun luka di hati mereka masih terbuka lebar.
Jika kalian bertanya Katherine ada dimana? maka jawabnya tidak tahu. Batang hidung wanita itu tidak terlihat selama 3 hari ini. Mungkin saja wanita itu sedang bersenang-senang di luar sana atas keberhasilan rencananya.
...***Bersambung***...