
"Aku mau mendonorkan darahku kepada Denada, asalkan kau mau menuruti dua permintaan ku!" ucap Katherine tersenyum licik. Tentu saja Ia tidak mau rugi memberikan darahnya menolong saingannya.
"Apa kau sedang mencoba mencari kesempatan dibalik duka orang lain? betapa egois dan liciknya kau menjadi seorang wanita!!" bentak Meyer menatap Katherine tajam.
"Tuan waktu terus berjalan! apa Anda mau kekasih Anda kehilangan nyawanya?" tegur perawat itu cukup jengah mendengar pertengkaran sepasang pria dan wanita di hadapannya.
"Baiklah.... Aku akan menuruti permintaan mu itu!" ucap Meyer pada akhirnya.
"Okey! aku sudah merekam perkataan mu di ponselku!" ucap Katherine tersenyum puas meninggalkan Meyer.
Katherine mengikuti langkah perawat itu menuju lab memastikan apakah golongan darah mereka sama atau tidak. Tak beberapa lama Katherine masuk ke dalam ruangan UGD mengikuti langkah perawat tadi. Karena golongan darah Katherine dan Denada sama.
#
#
Dari kejauhan seorang pria melangkah tergesa-gesa menghampiri Meyer.
"Tuan!" panggil Gerry dengan ngos-ngosan.
Meyer menatap tajam kedatangan asistennya. "Siapa yang menyuruhmu membawaku ke apartemen Dena!!" bentak Meyer dengan dingin.
"Anda yang merengek dan menangis tersedu-sedu minta di antar ke apartemen Nona Dena, Tuan." jawab Gerry sedikit menundukkan kepalanya.
"Sial!!!" maki Meyer mengayunkan kakinya menendang angin lalu di lorong rumah sakit itu.
"Cari tahu kelemahan Katherine! aku tidak mau wanita itu meminta yang tidak-tidak kepadaku, setelah mendonorkan darahnya kepada Denada!" ucap Meyer memijit pelipisnya.
Gerry menyeritkan keningnya mendengar perkataan Meyer. Bukankah kemaren Dena masih baik-baik saja meskipun wajahnya terlihat bengkak dan sedikit lebam pikirnya.
"Apa kau akan diam saja tanpa melaksanakan tugas yang aku berikan!!" sindir Meyer melirik sekilas wajah termenung Gerry.
"Bak-baik Tuan!" ucap Gerry membungkukkan sedikit tubuhnya lalu berlalu dari sana.
#
#
Katherine keluar dari ruangan UGD dengan keringat dingin membasahi wajahnya. Wajah wanita itu terlihat sedikit pucat.
"Apa kau sudah mendonorkan darahmu?" tanya Meyer tanpa memperdulikan kondisi Katherine sama sekali.
"Ya, aku sudah mendonorkan darahku untuk Dena!kuharap kau menepati janji mu!" ucap Katherine tersenyum puas meninggalkan Meyer dengan ekspresi datarnya.
"Aku berharap wanita itu tidak meminta yang aneh-aneh." monolog Meyer melirik sekilas punggung kurus Katherine semakin menjauh dari pandangannya.
Dua jam kemudian dokter dan seorang perawat keluar dari ruangan UGD. Dokter itu menghela napas panjang menghilangkan rasa lelahnya.
"Bagaimana keadaan kekasih saya dokter?" tanya Meyer kepada dokter paruh baya di depannya.
"Tuan beberapa kali saya memeriksa tubuh kekasih Anda, saya menemukan beberapa hal yang sedikit jangga." ucap dokter itu memperhatikan reaksi Meyer dengan teliti. Dokter itu mengenal Meyer sebagai salah satu donatur tetap di rumah sakit itu. Dan beberapa hari yang lalu wajah tampan pria itu tersebar di beberapa media mengenai pertunangannya dengan Katherine. Putri kedua dari pemilik rumah sakit itu.
"Kejanggalan?" tanya Meyer menyeritkan dahinya mendengar perkataan dokter yang sedang berdiri di hadapannya.
"Nona itu sepertinya berniat bunuh diri karena alasan mengalami kekerasan dan pemerkosaan! saya menemukan lebam di wajah pasien, bukan hanya itu, area **** * pasien juga lecet dan bengkak. " ucap dokter itu memperhatikan gerak-gerik Meyer.
"Apa Anda yang melakukannya?"sambung dokter itu membuat Meyer sedikit gugup. Namun pria itu masih bisa menormalkan ekspresinya.
"Kalau bukan Anda yang melakukannya, lebih baik laporkan peristiwa ini ke kantor polisi. Bukti visum akan rumah sakit keluarkan, jikalau Anda membutuhkannya!"ucap dokter itu sebelum berlalu dari sana.
Dalam hati, Ia tak habis pikir dengan perbuatan orang yang menyakiti Denada. Menyakiti wanita selemah itu.
...***Bersambung***...