YOUR LOVE HURTS ME

YOUR LOVE HURTS ME
Bab 59



Satu bulan kemudian


Hubungan Meyer dan Dena semakin hari terasa semakin hambar. Dena menjalani hari-harinya seperti biasanya. Ia juga tidak pernah lagi melihat batang hidung Katherine.


Dena baru saja selesai melakukan pemotretan bersama Olivia.


"Dena.... apa kamu memiliki sebuah rencana malam ini?" tanya Olivia mendudukan bokongnya di kursi ruangan ganti.


"Sepertinya tidak. Emang kenapa?" tanya Dena menghentikan aktivitasnya. Ia mengurungkan niatnya berganti pakaian.


"Aku ingin mengajakmu healing sebelum aku cuti beberapa hari ke depan." ujar Olivia menatap Dena.


"Kemana?" tanya Dean penasaran.


Olivia berpikir sebentar, lalu menjawab pertanyaan Dena. "Bagaimana kalau kita pergi ke luar negeri? aku ingin liburan di luar negeri. Sepertinya Spanyol dan Italia merupakan negara yang ingin aku kunjungi." ujar Olivia.


Dena terdiam sebentar memikirkan tawaran Olivia. Ia juga ingin healing keluar negeri. Kalau bisa tinggal jauh dari Meyer. Ia sudah mulai lelah dan bosan menunggu-nunggu restu dari Kakek Meyer. Hubungan mereka sudah jalan dua tahun setengah, namun Kakek Meyer tak kunjung merestui hubungan mereka.


Jika Meyer tetap kekeuh tak mau pisah dengan Dena. Maka pilihan terakhir adalah pergi menjauh dari keluarga Lendsky.


"Baiklah, aku akan mempertimbangkannya. Tentukan kapan waktunya. Dan juga...." Dena menghentikan ucapannya, lalu menatap kosong kearah langit-langit ruangan ganti.


"Dan juga apa?" tanya Olivia penasaran.


"Olivia.... apa kamu tahu dimana kita-kita tempat persembunyian yang paling aman?" tanya Dena ragu-ragu.


"Persembunyian?" ulang Olivia memastikan pendengarannya.


"Iya, benar. Tempat persembunyian."jawab Dena tersenyum kecil.


"Mengapa kamu ingin bersembunyi? apa kamu punya musuh atau kamu ingin menjauh dari seseorang?" tanah Olivia memelankan suaranya.


"Ya, kamu benar, Olivia. Aku ingin menjauh dari seseorang...." ujar Dena dengan suara bergetar.


"Hei, apa kamu baik-baik saja? apa ada orang yang menyakitimu?" tanya Olivia khawatir.


"Apa Meyer yang menyakitimu?" tanya Olivia ulang menatap Dena dengan dalam. Akhir-akhir ini Dena terlihat sering murung dan melamun. Olivia mengira itu semua karena Dena baru saja kehilangan putranya.


"Apa kamu masih belum bisa mengiklaskan kepergian putramu?"


Hanya itulah alasan yang membuat psikis Dena terguncang. Ia masih belum bisa mengiklaskan kepergian putranya. Memang dibibir Dena akan berucap aku baik-baik saja. Namun isi hati yang sesungguhnya siapa yang tahu.


Alih-alih menjawab pertanyaan Olivia, Dena tiba-tiba menangis tersedu-sedu. Tentu saja Olivia terkejut melihat itu.


"Apa kamu mau menyamar? agar bisa terhindar dari Meyer beberapa hari ke depan? aku akan mengantar kamu ke panti asuhan kalau begitu." saran Olivia tidak tahu harus berbuat apa. Mungkin memenangkan diri di panti asuhan, tempat tumbuh kembang Dena adalah jalan terbaik.


"Baiklah, mati kita menyamar." sambung Olivia tersenyum lebar.


Olivia lalu merias wajah Dena semirip mungkin dengan wajahnya. Mereka memiliki warna bola yang sama. Jadi tidak akan ada yang curiga dengan penyamaran mereka.


Sejam kemudian Olivia selesai merias Dena dan dirinya juga. Wajah mereka benar-benar sudah berubah.


"Olivia.... wajah mu benar-benar sudah berubah! tapi.... sepertinya gaya berpakaian kita juga harus diganti, agar 99.99% sama persis." kata Dena memberi saran.


"Ya, kamu benar Dena." sahut Olivia menyetujui saran Dena.


Mereka lalu menukar pakaian mereka ganti yang tadi mereka bawa dari apartemen.


Mereka saling memandang satu sama lain setelah berganti pakaian. "Wow...." Dena dan Olivia berdecak kagum menatap penampilan mereka.


"Tubuh kita terlihat seperti benar-benar tertukar." gumam Olivia menatap penampilan Dena. Ia merasa wajah dan gaya berpakaian Dena terlihat persis seperti wajah dan gaya berpakaiannya.


"Iya, kau benar, Olivia. Aku juga merasakan hal yang sama." sahut Dena menatap wajah dan gaya berpakaian Olivia.


"Saat keluar nanti, kau harus mengikuti gaya jalan dan gaya bicaraku. Jangan sampai ketahuan, karena mata-mata Meyer pasti banyak di perusahaan." ujar Olivia tersenyum tipis.


"Siap!45!"seru Dena tersenyum lebar.


"Oh iya, sepertinya bukan depan aku mau pulang ke Indonesia. Apa kau mau ikut bersamaku? aku akan memperkenalkan budaya Indonesia kepadamu."kata Olivia tiba-tiba membuat Dena terdiam. Dena berpikir beberapa saat mendengar perkataan Olivia.


"Sepertinya itu ide yang bagus. Aku juga belum pernah berkunjung ke Indonesia. Aku ingin liburan ke pulau Bali dan Lombok" seru Dena membayangkan Hawai kedua yang dikenal dunia.


"Kalau kau setuju, aku akan sangat senang. Sepertinya kedua orang tuaku juga sedang tidak ada disana." ujar Olivia tersenyum miris.


"Apa mereka lebih suka tinggal di luar negeri, ketimbang tinggal di negara asal mereka?" tanya Dena. Ia tahu selama ini Olivia kekurangan kasih sayang dari kedua orang tuanya. Ia tidak butuh barang-barang mewah, karena Olivia hanya ingin diperhatikan dan diberi kasih sayang penuh.


"Entahlah. Aku tidak terlalu mengintrogasi kegiatan sehari-hari mereka."jawab Olivia tersenyum kecil.


"Sabar lah... semua akan indah pada waktunya." nasehat Dena tersenyum manis.


"Ya, kamu benar. Semua akan indah pada waktunya. Hanya saja sekarang belum waktunya. " seru Olivia tersenyum kecil.


"Lalu bagaimana dengan pekerjaan mu? apa profesor itu masih kekeuh menyuruhmu menjaga mesin itu?" tanya Dena penasaran.


"Iya, profesor Tom menyuruhku mengawasi mesin itu. Karena mesin itu memiliki kekuatan istimewa. Dengar-dengar dari obrolan beberapa dokter yang bekerja disana. Mesin itu berfungsi untuk melintasi waktu. Tuan Greyson ingin masuk ke dalam ruang waktu dan melintasi waktu. Aku tidak tahu alasan sebenarnya dibalik semua itu." terang Olivia dengan nada pelan. Ia tidak mau orang-orang mendengar pembicaraan mereka.


...***Bersambung***...