
Sejam kemudian Meyer tiba di kediaman Tuan Lendsky. Ia melihat kakeknya sedang menyeduh teh hijau di gajebo belakang bersama Katherine.
"Kakek!" panggil Meyer melangkah mendekati gajebo.
"Hem!" gumam Tuan Lendsky tanpa membalikkan tubuhnya.
Sementara Katherine tersenyum senang melihat kedatangan Meyer. Ia langsung berdiri dari duduknya dan menghampiri Meyer.
"Meyer.... akhirnya kau datang juga, sayang. Apa kau mau menemaniku menemui Wedding Organizer besok pagi?" tanya Katherine melingkarkan tangannya di lengan berotot Meyer.
Meyer cukup risih melihat tingkah agresif Katherine, namun pria itu tidak mungkin menghempaskan sentuhan Katherine di lengannya. Apa lagi, posisinya mereka sedang berada di hadapan kakeknya.
Tuan Lendsky tersenyum melihat kemesraan cucu dan calon cucu menantunya.
"Tumben kau datang kemari. Ada apa? apa kau baru ingat menemui kakek setelah beberapa kali bekerja sama dengan Jerry memanipulasi apa yang kau lakukan diluar sana?" tanya Tuan Lendsky menatap tajam kearah cucunya.
"Tinggalkan wanita itu! dan menikahlah dengan Katherine! kakek tidak mau dibantah!" ucap Tuan Lendsky berlalu dari sana.
Katherine semakin kegirangan mendengar perkataan Tuan Lendsky. Ia merasa sedang berada di atas awan, karena rencana pertamanya perlahan-lahan sudah dimulai.
Rahang Meyer mengeras mendengar perkataan kakeknya. Pria itu dengan kasar melepaskan tangan Katherine yang melingkar di lengannya. Ia sangat benci, kalau hidupnya diatur-atur oleh orang lain. Apa lagi, ini adalah masalah percintaannya. Ia ingin kakeknya membiarkannya menemukan kebahagiaannya sendiri. Dan tidak perlu pakai menjodoh-jodohkan nya segala. Apa lagi wanita yang dijodohkan kakeknya adalah wanita ular.
"Aw!!" Katherine meringis merasakan cengkraman kuat Meyer di dagunya.
"Aku tidak akan menikah dengan wanita piala bergilir seperti mu! aku seorang Meyer Lendsky! memiliki banyak uang dan kekuasaan! aku bisa mendapatkan wanita baik-baik, jika aku mau!" ucap Meyer mencengkram dagu tirus Katherine.
"Meyer--"
"Kau masih memiliki utang kepadaku. Dua permintaanku juga belum kau kabulkan...." ucap Katherine dengan suara bergetar. Ia pura-pura mengeluarkan air matanya agar pria itu bersimpati padanya.
"Hiks, hiks, hiks."
"Cih! kau pikir aku mau menuruti permintaanmu yang berlebihan itu!" dengus Meyer menghempaskan wajah Katherine kesamping.
"Meyer--" lirih Katherine menangis terisak-isak menutup wajahnya. Padahal jika orang melihat dengan jeli, terlihat jelas senyum menyeringai di bibir tipis Katherine.
"Tidak usah sok polos di depanku! apa kau tahu, aku tidak tertarik sama sekali kepada wanita seperti mu!" potong Meyer menatap sinis kearah Katherine.
"Wanita yang rela melebarkan selangkangannya untuk memenuhi ambisi dan keserakahannya."
Sementara Meyer langsung berlalu masuk ke mansion menemui kakeknya.
Katherine mengepalkan tangannya melihat kepergian Meyer.
"Jika melalui rencana ini, aku tidak bisa mendapatkan mu? maka aku akan mendapatkan mu melalui rencana selanjutnya. Aku sendiri yang akan membuat Dena pergi dari hidupmu." gumam Katherine penuh dendam. Katherine lalu keluar dari kediaman keluarga Lendsky.
#
#
Di ruangan Tuan Lendsky
Tuan Lendsky mendudukkan bokongnya di meja kerjanya. Ia sangat suka beristirahat disana sembari membaca buku-buku kesukaannya.
Cklek
Tiba-tiba Meyer masuk ke ruangan itu tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
"Kakek! Meyer tidak setuju menikah dengan Katherine!" ucap Meyer penuh penekanan.
"Itu keputusan terakhir kakek agar kau menjauh dari wanita itu!" ucap Tuan Lendsky tanpa mengalihkan pandangannya dari buku bacaannya.
"Kakek! apa kakek mau memiliki cicit dari wanita murahan seperti Katherine!!" bentak Meyer tiba-tiba membuat Tuan Lendsky terkejut.
Pria itu tiba-tiba merasa kesulitan bernapas. Ia mencari-cari obatnya di meja kerjanya.
Sementara Meyer ikut terkejut melihat keadaan kakeknya. Dengan cepat Meyer mengangkat tubuh kakeknya menuju kamar pria paruh baya itu.
"Sersan!! Sersan!!!" teriak Meyer nyaring membuat langkah pria paruh baya itu terhenti saat kembali dari ruang penyiksaan.
"Sersan!! sialan! cepat ambil obat kakek!" umpat Meyer emosi.
Meyer tiba-tiba merasa bersalah sekaligus cemas melihat keadaan kakeknya. Meyer tidak tahu kalau selama ini kakeknya ternyata menyimpan kesakitannya sendiri.
Pria itu terkejut mendengar umpatan Meyer. Tanpa berpikir lama, Sersan langsung melangkah menuju kamar Tuan Lendsky mencari obat rutin yang biasanya Tuan Lendsky konsumsi.
...***Bersambung***...