
Keesokan harinya, Dena terlihat sibuk berkemas. Bukan karena banyak pakaian yang ingin Dena bawa. Tapi semua itu Dena lakukan untuk mengulur waktu. Ia ingin menemui Olivia sebelum berangkat ke panti asuhan.
"Sayang.... apa kamu masih lama berkemasnya?" tanya Meyer masuk ke dalam kamar.
"Sebentar lagi, tidak akan lama kok." sahut Dena mengancing resleting koper miliknya.
Dena menyeret kopernya keluar dari kamar. Koper itu tidak terlalu besar ataupun tidak terlalu kecil. Karena ukuran koper itu berada diantara ukuran koper besar dan kecil.
"Hati-hati disana dan jangan lupa kabari aku. Ingat, jaga jarak dari pria lain." ucap Meyer penuh peringatan.
"Apa kamu masih cemburuan sampai sekarang?" goda Dena menatap Meyer.
"Aku mencintaimu! jadi tidak salah dong, kalau aku cemburu melihat kekasihku didekati pria lain."ucap Meyer dengan jujur.
"Baiklah, Tuan Lendsky. Aku akan menjaga hatiku dan menjaga jarak dari pria lain." seru Dena tersenyum tipis.
Meyer mengangkat koper kekasihnya menuju basemen. Karena anak buah Meyer yang akan menjadi sopir Dena selama berada di panti asuhan.
Anak buah Meyer langsung memasukkan koper Dena ke bagasi mobil. Sementara Meyer membukakan pintu penumpang untuk sang kekasih.
Cup
"Hati-hati disana." ujar Meyer mengecup kening Dena.
Dena tersenyum tipis membalas ucapan Meyer. Namun jauh di dalam lubuk hatinya, Dena merasa berat melanjutkan perjalanannya.
Tak beberapa lama anak buah Meyer masuk ke dalam mobil. Ia duduk di bangku pengemudi menunggu Dena dan Meyer selesai berbincang-bincang.
Meyer lalu menutup pintu penumpang setelah mengobrol lama dengan kekasihnya.
"Hati-hati mengemudi. Jaga kekasihku dengan baik, jangan sampai lecet. Jaga dia layaknya kau menjaga nyawamu sendiri." ucap Meyer penuh peringatan.
"Ba-baik, Tuan." sahut pria itu, keringat dingin langsung membasahi dahinya mendengar peringatan Meyer.
Mobil itu melaju meninggalkan basemen apartemen yang ditempati Dena dan Meyer selama ini. Meyer menghilangkan perasaan khawatir-nya setelah kepergian Dena. Meyer masuk ke dalam mobil dan melajukan kendaraan roda empatnya menuju perusahaan.
Tak beberapa lama, terdengar suara dering panggilan masuk dari ponsel Dena. Ia melihat nama Olivia yang terpampang di layar ponselnya. Dena langsung mengangkat panggilan telepon dari Olivia.
"Hallo"
[Dena, apa kamu sudah berangkat menuju panti asuhan?] tanya Olivia dari seberang sana.,
"Sudah, anak buah Meyer mengantarku kesana." seru Dena mengarahkan pandangannya sekilas kearah bangku pengemudi.
[Sial!] umpat Olivia dari seberang sana.
Dahi Dena berkerut mendengar umpatan Olivia, tidak biasanya Olivia mengumpat seperti itu.
[Dena, kamu harus turun dari mobil. Minta anak buah Meyer putar arah kembali ke kota.] ujar Olivia dengan nada suara khawatir.
"Mengapa kamu berkata seperti itu, Olivia? sebenarnya ada apa?" tanya Dena penasaran. Tidak biasanya Olivia berbicara penuh khawatir seperti itu.
[Aku baru saja menguping pembicaraan Katherine dengan seseorang di telepon. Ia menyewa seorang pembunuhan bayaran untuk membunuhmu. Apa kau melihat mobil hitam di belakang mobil kalian? itu adalah mobil pembunuh bayaran yang disewa Katherine.] terang Olivia dengan cepat.
Dena langsung mengalihkan pandangannya kebelakang. Ia memang melihat sebuah mobil hitam melaju dengan kecepatan sedang dibelakang mobil yang Dena tumpangi.
[Dena bersikap tenanglah.... jangan panik. Aku tidak menyangka, kalau Katherine merupakan iblis berwajah manusia. Dia tidak segan-segan membunuh saingannya. Ia memiliki jiwa psikopat di tubuhnya.] seru Olivia dengan tubuh gemetaran. Ia benar-benar merinding mengetahui sifat asli Katherine.
Dena tertegun mendengar perkataan Olivia. Ia tidak menyangka kalau Katherine akan sekejam itu.
[Dena....hallo.... apa kamu masih ada disana?] tanya Olivia dengan perasaan gusar.
"Aku masih ada disini, Olivia. Tenanglah.... semua pasti akan baik-baik saja." ucap Dena menenangkan Olivia.
[Aku akan menghubungi Meyer, agar secepatnya datang kesitu menolong kalian. Cari cara mengulur waktu atau berhenti ketika kalian melewati lingkungan penduduk.] ujar Olivia mematikan panggilannya.
...***Bersambung***...