
" Maaf jika perkataan ku menyinggung mu. Aku hanya tidak sanggup jauh dari kalian." ujar Meyer bermanja-manja mencium leher jenjang sang kekasih.
"Tidak apa-apa. Lagian itu kenyataan kok." balas Dena tersenyum tipis.
"Sudah sana. Arden sudah menunggu mu." usir Dena cukup geli dengan tingkah Meyer.
"Baiklah. Jangan lupa kabari aku sejam sekali. Aku tidak mau menahan rindu ini. Karena dilan pernah berkata kalau rindu itu berat. Jadi, sejam sekali kamu harus mengabari aku dan Pap semua aktivitas kamu selama aku tidak ada."
"Baiklah, Tuan posesif..... udah sana." usir Dena.
"Papa pergi dulu, Boy. Jangan rewel dan buat Mama kecapean."
Cup
Cup
"Anak Papa..." Meyer membelai pipi cabi Richardo dengan lembut.
"Baiklah.... sudah waktunya aku berangkat." ujar Meyer menghela napas berat.
Cup
Lagi-lagi Meyer curi-curi kesempatan mengecup bibi manis sang kekasih.
"Sampai jumpa dua hari lagi, Sayang. Jaga diri kalian baik-baik." Meyer berlari keluar dari kediamannya. Ia tidak mau mendengar omelan Dena, karena curi-curi kesempatan.
Dena tersenyum tipis melihat tingkah Meyer. Ia benar-benar merasa dicintai oleh Meyer. Meskipun terkadang sikap posesif Meyer membuat Dena jengkel.
Sepanjang perjalanan menuju perusahaan college bisnisnya, Meyer terlihat sibuk mengawasi aktivitas kekasihnya. Dena terlihat menemani Richardo bermain di ruang tamu. Rasa rindunya sedikit terobati melihat kegiatan mereka dari CCTV.
"Bagiamana dengan tugas yang aku berikan kepadamu dan Gerry? Apa kalian sudah menemukan bukti-bukti kejadian dimasa lalu?"
"Sudah, Tuan. Semua informasi yang Anda inginkan sudah Gerry kirim ke email Anda." jawab Arden melirik sekilas kearah kaca spion mengamati raut wajah Meyer.
Meyer dengan cepat membuka email-nya dan mengakses informasi yang didapatkan Arden.
"Bagaimana dengan situasi di mansion?"
"Anda bisa melihat situasi sekitar mansion dari CCTV, Tuan. Informasi selebihnya belum saya terima dari Gerry." jawab Arden kembali melirik sekilas ekspresi wajah Meyer.
"5ialan! Bajin9an! ternyata kedua orang tua Denada difitnah oleh kedua orang tua Katherine! Ternyata mereka yang sudah membunuh kedua orang tua ku."
"Like Father like daughter. Licik dan brengsek!"
"Aku tidak akan membiarkan hidup kalian tenang setelah hari ini." gumam Meyer penuh kebencian.
"Percepat kepulangan kita. Aku ingin secepatnya bertemu dengan Kakek dan menyerahkan bukti dan informasi ini" tambah Meyer mengepalkan kedua tangannya.
Tiba-tiba terbesit sedikit perasaan khawatir di hari Meyer, ketika mengingat masa kecil Dena. Karena kesalahpahaman itu, Dena harus berpisah dari kedua orang tua kandungnya. Dan Kakek Meyer andil alih dalam kejadian ini.
Benar saja, setelah meeting penting di perusahaan rekan bisnisnya. Meyer dan Arden langsung kembali ke Kolombia.
"Apa nomor Gerry sudah bisa dihubungi?" tanya Meyer dengan perasaan gelisah.
"Belum, Tuan. Nomor Gerry tiba-tiba sudah tidak aktif lagi." cicit Arden menambah kecepatan laju mobil yang dikendarainya.
"Lebih cepat lagi. Perasaan ku tiba-tiba tidak enak. Aku khawatir telah terjadi sesuatu di mansion." ujar Meyer mencoba menghubungi nomor telepon rumah.
Sejam kemudian, Meyer dan Arden tiba di halaman rumah yang ditempati oleh Dena dan Richardo. Rumah itu terlihat sunyi, dan tak ada satupun pengawal yang berjaga diluar.
Meyer dengan cepat keluar dari mobil dan mengamati kondisi kediamannya.
"Sayang! Aku pulang!" ujar Meyer mencari-cari keberadaan Dena.
"Cek CCTV!" perintah Meyer berlari menuju kamar utama.
Ceklek
"Sayang.... Aku pulang..."
Meyer terkejut melihat keadaan kamar ternyata gelap. Seperti tak ada kehidupan di dalamnya. Tiba-tiba Arden sudah berdiri di belakangnya.
"Tuan, Saya melihat dapur terlihat berantakan. Sepertinya telah terjadi sesuatu kepada Nona muda."
"Sementara rekaman CCTV telah di manipulasi, Tuan. Rekaman yang selama ini kita lihat merupakan rekaman palsu." tambah Arden memperlihatkan layar laptopnya.
"Sialan! pasti kejadian ini ada hubungannya dengan keluarga Matthew!"
Meyer mengepalkan kedua tangannya hingga urat-urat nadi di kulitnya menonjol keluar.