
Meyer meletakkan tubuh sang kekasih di kursi penumpang sebelah kiri. Sementara Meyer duduk di belakang bangku si pengemudi.
Sepanjang perjalanan Dena hanya diam sembari menatap keluar jendela mobil. Meyer lagi-lagi menghela napas panjang melihat mood berubah-ubah sang kekasih.
"Sayang--"
"Diam!" dengus Dena tanpa membalikkan tubuhnya.
"Hey! aku cuma mau bertanya! apa kamu mau makan sesuatu?" tanya Meyer mengembalikan mood buruk kekasihnya.
Dena tidak menjawab pertanyaan Meyer sama sekali. Diamnya Dena membuat Meyer sedikit gusar. Pria itu lalu menyandarkan punggungnya mengabaikan Dena. Ia cukup lelah semalaman menjaga Dena tanpa tidur untuk memenuhi ngidam sang kekasih.
#
#
Setibanya di parkiran apartemen
"Tuan, kita sudah sampai." ucap Gerry membangunkan Meyer.
Meyer yang merasa mobil sudah berhenti langsung membuka kedua matanya. Ia lalu mengalihkan pandangannya menatap keluar jendela.
"Ternyata sudah sampai." gumam Meyer menegakkan duduknya. Meyer keluar dari dalam mobil dan melangkah membukakan pintu mobil untuk sang kekasih.
Meyer langsung mengendong tubuh terlelap Dena ala bridal style masuk ke bangunan apartemen itu. Sementara Gerry membawa barang-barang milik Dena selama di rawat di rumah sakit.
Setibanya di depan pintu apartemen, Meyer langsung menekan kode password apartemennya dengan satu tangan.
"Dari mana saja kau?" tanya Tuan Lendsky memincing kedua matanya menatap sang cucu.
"Sebentar Kek. Aku memilih kabar membahagiakan untuk Kakek. Tunggu sebentar!" ujar Meyer melangkah menuju kamar utama. Ia lalu membaringkan tubuh Dena di atas tempat tidur dan menyelimutinya.
Meyer lalu keluar dari kamar menemui Kakeknya, setelah memastikan Dena masih tertidur lelap.
Tuan Lendsky menatap tajam kedatangan sang cucu.
"Kabar bahagia apa yang ingin kau sampaikan?" tanya Tuan Lendsky meletakkan tongkat yang bisa Ia bawa di atas sofa.
Meyer tersenyum lebar mendengar pertanyaan kakeknya. "Kakek tahu, Meyer sebentar lagi akan menjadi Papa. Sekarang Dena sedang hamil anak Meyer. Ini menandakan kalau sebentar lagi, Kakek akan memiliki seorang cicit diusia senja!" ujar Meyer antusias mendudukkan bokongnya di depan Kakeknya.
Bukannya bahagia, Tuan Meyer malah menatap dingin sekaligus datar kearah cucunya. "Apa itu kabar bahagia yang kau maksud?" tanya Tuan Lendsky menatap sinis kearah cucunya.
Senyum Meyer langsung surut melihat raut wajah dingin sekaligus datar yang dikeluarkan kakeknya. "Harusnya Kakek senang mendengar kabar membahagiakan ini." lirih Meyer menundukkan sedikit kepalanya.
"Aku tidak akan bahagia, kalau kau masih menemui wanita itu! kalau kau masih tidak mau menjauhi wanita itu! maka kau harus mau menikah dengan Katherine! Kakek hanya akan merestui hubungan mu dan Katherine! bukan dengan wanita itu!"
Meyer mengangkat kepalanya agar tatapan mereka sejajar. Ia menatap dalam sorotan kedua mata kakeknya. Di dalam sorotan itu terlihat tatapan terluka, dendam, amarah sekaligus kekhawatiran.
"Aku sangat mencintai Dena, Kek. Aku menemukan sebuah rumah saat ada didekatnya dan selama tinggal bersamanya. Sedari kecil Meyer sudah kehilangan kasih sayang dari kedua orang tua Meyer. Apa salahnya untuk kali ini Kakek mengalah dengan pilihan Meyer." lirihnya dengan mata berkaca-kaca. Ia tidak mungkin membentak Kakek yang selama ini berjuang membesarkannya.
"Apa alasan kakek tidak menyukai Dena?" sambung Meyer ingin tahu.
...***Bersambung***...