YOUR LOVE HURTS ME

YOUR LOVE HURTS ME
Bab 50



Dena tertegun mendengar obrolan Meyer dan Tuan Lendsky. Ia tidak percaya dengan semua obrolan yang terdengar sedikit omong kosong di otak dan hati kecilnya.


"Apa benar apa yang di ucapkan kakek Meyer? jika itu benar, berada di samping Meyer adalah keputusan yang salah." ucap Dena dengan lirih membekap mulutnya.


Baru saja mereka mendapatkan kabar bahagia mengenai kehamilannya. Dan sekarang hubungan mereka malah ditentang oleh Tuan Lendsky. Bagaimana nasib bayi yang sedang dikandung oleh Dena. Wanita itu tidak tahu harus melakukan apa.


"Aku tidak bisa terus menerus begini! aku harus tegar dan kuat! aku juga harus bisa meluluhkan hati kakek Meyer." gumam Dena penuh dengan keyakinan.


Dena melangkah keluar dari kamar. Senyuman manis tidak pudar dari wajahnya. Ia pura-pura tidak mendengar pembicaraan mereka.


"Kakek...." sapa Dena melangkah mendekati Tuan Lendsky. Saat Dena ingin menyalami tangan Tuan Lendsky, pria setengah baya itu langsung berdiri. Ia benar-benar menolak salaman dari Denada.


"Ingat apa yang Kakek katakan tadi. Jangan sampai kau menyesal." nasehat Tuan Lendsky keluar dari apartemen Meyer.


"Apa kamu membutuhkan sesuatu?" tanya Meyer menatap wajah termenung Dena.


"Aku hanya ingin menyapa Kakek mu." sahut Dena melewati Meyer begitu saja. Ia melangkah masuk ke dalam kamar.


Meyer mengikuti langkah kekasihnya masuk ke dalam kamar. "Apa kamu baik-baik saja? jangan


terlalu pikirkan sikap Kakek. Kalau butuh sesuatu katakan saja kepadaku. Atau, apa kamu sedang ingin makan sesuatu? es krim? atau makan makanan Asia kesukaan kamu?" ucap Meyer beruntun mengembalikan mood kekasihnya.


"Aku ingin istirahat." ujar Dena membaringkan tubuhnya di atas kasur.


"Baiklah."


Meyer menyelimuti tubuh kekasihnya hingga sebatas leher. "Aku ada di ruangan kerja. Panggil aku, kalau kamu butuh apa-apa." ujar Meyer sebelum keluar dari kamar.


Dena tidak menjawab perkataan Meyer, karena Ia langsung memejamkan matanya. Akhir-akhir ini perasaan Dena sedikit sensitif. Pikiran-pikiran negatif berputar-putar di kepalanya.


#


#


Sementara di ruangan kerja Meyer


"Datanglah ke apartemen ku. Aku memiliki tugas penting untuk mu." ujar Meyer menghubungi nomor seseorang.


[Baik, Tuan.] sahut pria itu mematikan panggilan telepon dari Meyer.


"Aku mencium aroma-aroma konspirasi." gumam Meyer mengingat-ingat cerita Kakeknya.


"Tunggu dulu. Apa tadi Dena mendengar pembicaraan kami?" tanya Meyer memijit pelipisnya.


"Semoga saja tidak.".


Meyer melanjutkan pekerjaannya memeriksa beberapa dokumen penting perusahaan dan dokumen penting dari bisnis gelapnya. Tak beberapa lama terdengar suara bel dari luar pintu apartemennya. Meyer langsung berdiri dari kursi kerjanya dan melangkah keluar.


Cklek


"Masuklah." ujar Meyer kepada seorang pria tak dikenal.


Pria itu langsung masuk ke dalam apartemen Meyer setelah mendengar instruksi Bosnya.


#


#


"Apa yang ingin Anda sampaikan Bos?" tanya pria itu menatap Meyer.


"Tolong cari tahu kejadian 23 tahun yang lalu. Apa yang menyebabkan kedua orang tuaku tewas dalam kecelakaan. Dan hal yang harus kau cari tahu terlebih dahulu adalah.... apa yang dilakukan orang tuaku sebelum kejadian itu, dan bagaimana masa lalu kedua orang tua ku sebelum mereka menikah." ujar Meyer dengan wajah serius.


"Kau harus diam-diam melakukannya tanpa sepengetahuan siapapun. Aku merasa ada konspirasi dan kejanggalan atas kematian kedua orangtuaku." sambung Meyer menatap kosong ke pintu kamar Denada.


"Aku percaya sayang... orangtuamu bukan lah pelakunya. Aku akan menemukan pelaku yang sebenarnya." gumam Meyer dalam hati.


"Oh iya. Pantau terus klan mafia kita. Jangan sampai ada yang berani mengkhianati klan kita. Jika sampai ada, jangan ragu-ragu mencabut nyawanya." ucap Meyer menatap tajam pria itu.


"Kau merupakan orang yang paling ku percaya. Jadi bekerjalah dengan hati-hati." sambung Meyer dengan tegas.


Meyer melanjutkan pekerjaannya setelah kepergian pria itu. Pria itu merupakan salah satu anak buah kepercayaan Meyer selain Gerry. Pria itu merupakan bayangan Meyer di dunia mafia.


Tak terasa sudah lebih dari dua jam Meyer bergelut dengan pekerjaannya. Ia mengalihkan pandangannya menatap keluar jendela. "Ternyata hari sudah mulai gelap."gumamnya sembari beranjak dari duduknya.


Meyer lalu melangkah menuju kamar yang ditempatinya dan Dena. Setibanya disana Ia melihat lampu di kamar boleh dihidupkan.


Meyer menghidupkan lampu dan melangkah kearah kasur membangunkan kekasihnya.


"Sayang.... bangun yuk. Apa kamu tidak kasihan dengan baby kita. Dia pasti lapar karena belum makan malam." kata Meyer mengelus lembut kepala dan mencium kedua pipi tirus Dena bergantian.


Cup


Cup


"Ayo bangun." ucap Meyer membangunkan Dena. Ia tidak peduli jika Dena merasa terusik dengan tindakannya.


"Engh...." Dena melenguh kecil.


"Ayo bangun. Kamu belum makan malam. Kasian bayi kita pengen makan tapi Mama nya belum makan malam." ujar Meyer lagi memencet pelan hidung sang kekasih. Jika tidak diusik seperti itu, Dena tidak akan bangun. Apa lagi semenjak Dena hamil. Tingkah dan mood wanita itu suka berubah-ubah.


Dena tidak bergeming sama sekali. Ia menatap dalam wajah Meyer.


"Kenapa? Hem? ayo bangun. Diluar sudah mulai gelap. Apa kamu mau makan sesuatu?" tanya Meyer mengelus lembut pipi Dena.


"Mau makan pie daging." gumam Dena dengan suara serak.


"Apapun untuk kalian berdua. Ayo bangun." ujar Meyer mengangkat tubuh kekasihnya.


"Kamu yang masakin." ujar Dena lagi menatap dalam mata Meyer.


"Siap, Nyonya Lendsky...." seru Meyer tersenyum hangat menatap kekasihnya.


Bukannya bahagia, Dean terlihat termenung mendengar ucapan Meyer. Namun tak beberapa lama, Dena kembali menormalkan ekspresinya. Ia tidak mau Meyer berpikir yang tidak-tidak.


"Apa aku bisa menyematkan nama itu di belakang namaku suatu hari nanti? jika kakekmu tidak pernah merestui hubungan kita. Walaupun sekarang sudah tumbuh keturunan Lendsky di rahimku." gumam Dena dalam hati menatap wajah Meyer.


...***Bersambung***...