YOUR LOVE HURTS ME

YOUR LOVE HURTS ME
Bab 83



Di pesawat


Dena menatap langit negara Kolombia dengan perasaan bersalah. Ia seakan tidak sanggup meninggalkan negara itu. Apa lagi bila mengingat Richardo yang semakin hari tumbuh menjadi anak yang aktif dan cerdas. Ia sekaan merasa rindu dengan tingkah aktif anaknya.


Setelah berjam-jam mengudara, mereka akhirnya mendarat di bandara Soekarno Hatta.


"Nona kita sudah sampai." ujar Radit.


"Oh, benarkah." Dena mengamati sekitarnya dengan seksama.


"Aku merasa tubuhku kurang sehat. Bolehkan aku beristirahat beberapa saat lagi." cicit Dena dengan wajah sedikit pucat.


"Tidak, apa-apa, Nona. Lagian pesawat yang ditumpangi Nona muda juga belum tiba. Anda bisa beristirahat selama dua jam ke depan." jawab Radit.


Dena kembali memejamkan kedua matanya. Setelah 30 menit tertidur pulas. Dengan merasa insiden penculikan dan teror sebelumnya kembali terngiang-ngiang di kepalanya.


"Aku akan membunuh bayi mu! Aku tidak akan membiarkanmu bahagia, Denada!"


"Hahaha!!"


Tawa Katherine terdengar sangat mengerikan di telinga Denada. Hingga membuat Dena terbangun dari mimpinya.


"Aaa! Tidak Katherine! Aku tidak akan membiarkan mu menyakiti bayiku!"


"Tidak! Aku tidak akan membiarkan mu menyakiti bayiku untuk kedua kalinya!"


Tiba-tiba Radit berlari kearah Dena. Ia melihat wajah Dena penuh dengan keringat.


"Apa Anda baik-baik saja, Nona?"


"Ya, saya baik-baik saja. Saya hanya bermimpi buruk."jawab Dena tersenyum tipis.


"Sebaiknya Anda beristirahat di dalam mobil saja, Nona. Supir pribadi kediaman Tuan besar sudah menunggu kita di luar bandara." kata Radit membuat Dena beranjak dari duduknya.


"Baiklah, lagian aku sudah merasa lebih baik." balas Dena tersenyum tipis.


Mereka kemudian melangkah keluar dari jet pribadi keluarga Olivia. Saat akan melangkah keluar dari bandara. Dari kejauhan Dena melihat seorang pria melangkah mendekatinya.


"Nona muda." sapa pria itu tersenyum tipis.


"Ah! Akhirnya kita tiba juga." tiba-tiba Olivia sudah berdiri di belakang Dena.


"Ayo masuk. Apa kau tidak capek mengudara berjam-jam." lanjut Olivia menarik tangan Denada.


Sementara Denada masih bingung melihat keberadaan Olivia. Bagaimana bisa pesawat ekonomi bisa sampai secepat itu di Indonesia.


Di dalam mobil


"Tuan muda Greyson seperti akan datang ke Indonesia bersama istrinya." cicit Olivia sembari mengetik sesuatu di ponselnya.


Entah kenapa mendengar nama Greyson membuat sebuah ide muncul di kepala Denada. Dengan penasaran Dena membuka ponselnya. Ia tersenyum tipis melihat berita utama yang beredar di media.


"Greyson. Pada akhirnya kita akan bertemu lagi." gumam Dena menatap layar ponselnya.


"Pergilah. Aku akan menemani supir pribadi orang tuaku ke bagaimana resepsionis." kata Olivia.


Olivia melangkah ke resepsionis bersama supir pribadinya untuk meminta kunci kamar hotel.


Sementara disisi lain


Dena berulangkali memuntahkan cairan putih di toilet kamar mandi. Hingga ia merasa tubuhnya sedikit lemas. Setelah merasa lebih baik, Dena berusaha melangkah keluar dari dalam kamar mandi. Saat akan keluar dari lorong kamar mandi. Dena tiba-tiba merasa kepalanya pusing.


Seorang pria tiba-tiba menangkap tubuh Dena agar tidak terjatuh.


"Are you okey, Miss?"


"Aku merasa kepala ku pusing." cicit Dena.


Betapa terkejutnya pria itu saat melihat wajah pucat Dena.


"Saya akan membawa Anda ke klinik kesehatan hotel. Anda jangan khawatir. Karena perusahaan kami juga menyediakan fasilitas kesehatan untuk setiap pelanggan yang menginap di hotel kami."


Pria itu lalu memapah Dena menuju klinik hotel Royal.


"Apa Anda karyawan hotel ini?" tanya Dena penasaran.


"Tidak. Hanya saja saya sering diminta atasan saya mengawasi bagaimana kinerja karyawan hotel Royal. Sekalian mengambil beberapa berkas yang harus di tandatangani oleh CEO perusahaan." ujar pria itu dengan ramah.


"Siapa namamu?" tanya Dena lagi merasa cukup nyambung mengobrol dengan pria itu.


"Dean." jawab pria itu tersenyum manis.


"Dean? namamu terdengar hampir sama seperti namaku."


"Oh, ya. Siapa nama Anda, Nona?" tanya Dean penasaran.


"Dena. Denada. Kau bisa panggil aku dengan salah satunya." jawab Dena.


"Denada. Namamu terdengar seperti nama seorang wanita yang cukup terkenal di Kolombia." celetuk Dean dengan ceplas-ceplos.


"Tapi, sayang. Aku tidak menyukainya. Karena dia pernah digosipkan dekat dengan atasanku. Aku merasa wanita itu hanya ingin menaikkan popularitasnya sebagai seorang model."


Deg


Dena merasa tidak nyaman setelah mendengar perkataan Dean. Saat sampai di klinik hotel Royal. Dena memintanya kembali melanjutkan pekerjaannya.


"Sudah sampai. Saya akan masuk sendiri menemui dokter yang berjaga. Anda bisa melanjutkan pekerjaan Anda Tuan Dean. Dan terima kasih atas bantuannya." kata Dena mengakhiri obrolan mereka.


Dean melirik sekilas kearah jam tangannya.


"Baiklah. Senang berjumpa dengan Anda Nona."


Dean kemudian berlalu dari sana dan melangkah masuk ke dalam lift. Karena terlalu asik mengobrol dengan Dena hingga ia hampir lupa dengan janjinya.


Saat melihat pintu lift terbuka, Dean langsung masuk ke dalam lift. Saat sampai di lantai tujuannya, Dean juga melangkah keluar dari lift dengan terburu-buru. Ia masih bisa mendengar umpatan dari seorang wanita yang satu lift dengannya. Namun, Dean tidak terlalu memperdulikannya. Karena pertemuannya lebih penting.