YOUR LOVE HURTS ME

YOUR LOVE HURTS ME
Bab 17 Kebejatan Meyer



Di Apartemen Dena


Dena baru saja selesai membersihkan diri setelah dua jam lebih menangis mengeluarkan semua luka batinnya. Ia terdiam lama duduk di meja riasnya sembari menatap lama wajahnya. Lagi-lagi air matanya mengalir dari sudut matanya.


Pipi Dena terlihat bengkak dan berwarna biru keunguan. Belum lagi mata sembabnya mempengaruhi bentuk wajahnya.


"Ini terakhir kalinya, Meyer! aku akan memenjarakan mu kalau sampai berani menyakitiku lagi." ucap Dena mengepalkan kedua tangannya.


"Aku lebih baik pergi menjauh dari Meyer. Hubungan seperti ini tentu saja akan membuatku semakin tertekan dan sakit hati!" sambung Dena mengelus lembut pipinya.


"Ah!!"


"Mengapa jadi sakit begini?" gerutu Dena.Ia lalu melangkah menuju dapur. Ia mengambil beberapa es kecil dari freezer dan membalutnya dengan handuk kecil.


Dena lalu melangkah menuju ruang tamu sembari mengompres pipinya dengan es batu.


Namun ketuk pintu dari luar apartemennya menarik atensinya. Dena langsung melangkah menuju pintu keluar.


Cklek


Dena terdiam lama menanti kedua pria yang ada di hadapannya. Sementara Gerry juga ikut terkejut melihat wajah bengkak Dena.


"Sialan si Meyer! apa harus menyakiti anak orang separah itu!!" gerutu Gerry dalam hati. Pemuda itu tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya.


"Tuan sedang dalam keadaan mabuk, Nona. Dan beliau menyuruh saya mengantarnya ke apartemen, Anda." jelas Gerry. Ia lalu mengalihkan pandangannya kearah Meyer yang sedari tadi sibuk meracau.


"Bawa dia pulang! aku tidak mau menemuinya lagi!" tolak Dena berniat menutup pintu apartemennya. Namun dorongan kuat Meyer membuat tubuh Dena sedikit terdorong mundur kebelakang.


"Wanita sialan!!" maki Meyer berjalan sempoyongan.


Meyer lalu melangkah mendekati Denada


"Apa kau tahu? aku sangat mencintaimu! aku juga takut kehilanganmu! ta-tapi--?"


"Mengapa kau mau tidur dengan pria lain!!"


"Ha!! jawab sialan!!" racau Meyer melampiaskan amarahnya.


Gerry sedikit risih melihat beberapa tetangga Dena terusik dengan racauan Meyer. Mereka menatap sinis kearah Gerry yang sedari tadi berdiri diluar.


"Nona saya tutup pintunya. Soalnya beberapa tetangga Anda cukup terusik dengan suara makian, Tuan!" ujar Gerry menutup pintu apartemen Dena dari luar.


Brak


Gerry mengelus lembut dadanya. "Akhirnya tugasku malam ini selesai juga." ucap Gerry berlalu dari sana.


#


#


Meyer lalu melangkah mencengkeram kuat dagu bengkak Dena.


"Ah!! sa-sakit Meyer--" lirih Dena dengan mata berkaca-kaca.


"Apa kau tidak capek menjalani hubungan toxic seperti ini?" tanya Dena menatap kedua mata Meyer.


"Aku capek Meyer, bukan hanya sekali ataupun dua kali kau menyakiti ku!" sambung Dena sesenggukan.


"Apa aku harus mati dulu baru kau menyerah dengan hubungan kita?" tanya Dena lagi


Meyer langsung membuka lebar kedua matanya mendengar perkataan Dena. Ia mengerjapkan matanya berulangkali untuk memastikan penglihatannya.


"Mari kita akhir hubungan ini secara baik-baik. Hem?" ucap Dena memohon kepada Meyer.


Rahang Meyer mengeras mendengar perkataan Dena. Pria itu tidak rela berpisah dengan Dena, wanita pertama dalam hidupnya. Dan wanita pertama yang membuatnya jatuh cinta.


Dengan kasar Meyer mencium bibir Dena dengan rakus.


"Ah! Ngeh-- Mey--- lepas---" Dena berusaha melepaskan diri dari keganasan Meyer. Namun tenaga Dena tidak sebanding dengan tenaga Meyer.


Pria itu lalu menganggkat tubuh Dena, lalu dengan kasar Meyer membanting tubuh Dena di atas sofa.


"Aku tidak akan melepaskan mu!!" racau Meyer berusaha memulihkan kesadarannya. Namun rasa amarah dan sakit hatinya lebih mendominasi. Meyer lalu melakukan penyatuan tanpa pemanasan.


Pria itu lalu menggagahi tubuh Dena melampiaskan napsu bejatnya. Dena merasa hatinya hancur mendapatkan perilaku seperti itu dari Meyer.


"Meyer kau tidak mengunakan pengaman? jangan keluarkan di dalam Meyer!! aku tidak mau mengandung anak mu!!" teriak Dena mendorong kuat tubuh Meyer.


Alih-alih mendengarkan teriakan Dena, Meyer malah mendorong anakonda-nya semakin masuk ke dalam rahim Dena. Pria itu lalu menyemburkan kecebong unggulannya di rahim Dena.


"Aku membencimu Meyer!! aku membencimu!! aku akan menghilang dari hidupmu!! dan aku berharap kehilangan ku akan membuatmu menyesal!!" teriak Dena sesenggukan. Ia menatap kosong keatas langit-langit kamar Meyer. Ia merasa jijik dengan dirinya sendiri.


"Mengapa...."


"Mengapa aku harus jatuh cinta kepada pria seperti mu?" tanya Dena dengan lirih. Ia benar-benar kecewa dan terluka dengan apa yang Meyer lakukan kepadanya.


Sementara Meyer langsung tertidur pulas di atas tubuh Denada tanpa melepaskan penyatuan mereka.


...***Bersambung***...