
Meyer mematikan keran air wastafel kamar mandi rawat inap Dena. Setelah membasuh wajahnya berulang kali. Ia terdiam lama menatap pantulan dirinya di depan kaca.
Cklek
Meyer melangkah keluar dari kamar mandi setelah merasa lebih segar. Lagi-lagi pria itu terkejut melihat Dena menangis tersedu-sedu sembari membekap mulutnya. Bukankah tadi Dena sudah memejamkan matanya pikirnya.
"Sayang, kamu kenapa?" tanya Meyer bergegas mendekati ranjang rawat Dena.
"Kamu tidak akan meninggalkan aku dan bayi kita kan?" tanya Dena sesenggukan.
"Aku pikir kamu pergi meninggalkan kami." sambung Dena menghentikan tangisnya.
"Aku sangat mencintai kalian. Aku tidak akan pergi meninggalkan kalian berdua." ujar Meyer mendekap tubuh kekasihnya.
Ia tahu apa yang dikhawatirkan Dena.
"Ta-tapi aku merasa kamu akan pergi meninggalkan kami." ucap Dena terbata-bata. Ia tidak akan sanggup kehilangan Meyer. Apa lagi Dena sedang hamil dan masih membutuhkan Meyer menemaninya dimasa-masa kehamilannya.
"Tidak akan sayang! itu hanya perasaan kamu saja. aku sangat bahagia mendengar kabar kehamilan kamu. Mana mungkin aku meningkatkan kamu sendirian membesarkan bayi kita." ucap Meyer mengelus lembut kepala Dena.
"Sebaiknya kamu istirahat. Dan jangan memikirkan hal-hal yang dapat menganggu tumbuh kembang bayi kita." sambung Meyer melepaskan pelukannya.
Dena mengeser sedikit tubuhnya ke samping meminta Meyer tidur di sebelahnya. Meyer yang cukup peka dengan permintaan kekasihnya langsung membaringkan tubuhnya di samping Dena.
Meyer lalu menyelipkan lengannya dibawah bahu sang kekasih dan berbaring menyamping agar lebih leluasa menatap mata terpejam kekasihnya.
"Tidurlah. Aku akan menjagamu." ucap Meyer mengecup sekilas kedua mata, kening dan bibir sang kekasih.
Dena lalu memejamkan kedua matanya mendengar perkataan Meyer. Matanya sedikit berat setelah menangis tersedu-sedu.
#
#
Keesokan harinya
Tepatnya pukul 10 pagi, Meyer dan Dena melangkah menuju ruangan dokter kandungan. Hari ini merupakan pemeriksaan pertama mereka. Mereka sudah tidak sabar mendengar kabar baik dari dokter.
Setibanya di ruangan dokter kandungan, Dena dituntun Meyer berbaring di atas ranjang untuk melakukan pemeriksaan. Seorang dokter wanita mengoleskan gel di atas perut Dena setelah mengangkat sedikit pakaiannya. Lalu dokter itu mengerakkan alat transuder untuk melihat gambar ukuran janin dalam perut Dena.
Dari layar monitor USG dapat mereka lihat satu kantong janin yang akan berkembang menjadi calon bayi di rahim Dena.
"Saat ini kandungan ibu memasuki usia hamil 2 bulan atau 8 minggu, janin di dalam rahim kini berukuran sebesar kacang tanah dengan panjang 1.6 cm dan berat 1 gram. Di minggu ke-8 ini, janin akan mengalami berbagai perkembangan. Dia antaranya, tampilan wajah mulai terbentuk, dengan hidung dan kelopak mata yang mulai terlihat."
"Jadi sangat saya anjurkan kepada ibu untuk menjaga kesehatan tubuh maupun beban pikiran. Makanan makanan yang sehat dan bergizi serta tambah dengan asupan vitamin ibu hamil" ujar dokter itu menjelaskan secara detail.
"Untuk jenis kelaminnya akan terlihat di bulan ke empat nanti. Itu pun jika bayinya mau menunjukkan jenis kelaminnya dengan tidak menutup kedua kakinya" sambung dokter itu menjelaskan layar monitor USG.
Kedua bola mata Meyer berbinar bahagia mendengar kalimat demi kalimat yang keluar dari mulut dokter itu.
"Baik dokter, Terima kasih atas penjelasannya" ujar Meyer mengalihkan pandangannya menatap sang kekasih.
"Sayang--" lirih Meyer meneteskan air mata bahagia. Untuk pertama kalinya perasaan bahagia berkali-kali lipat melingkupi hatinya. Ia tidak mampu membendung rasa bahagianya mendengar perkataan dokter barusan. Di dalam hatinya, Meyer berjanji akan menjaga Dena dan bayi mereka seumur hidupnya. Dia akan melakukan apapun agar Dena dan anak mereka bahagia.
...***Bersambung***...