YOUR LOVE HURTS ME

YOUR LOVE HURTS ME
Bab 66



Anak kecil itu mulai nyaman dengan Dena, Ia tidak mau berjauhan dengan Dena. Seperti saat ini, anak itu sudah tidur terlelap di dekapan Dena. Sementara Meyer mendengus kesal melihat itu. Meyer cemburu melihat Dena lebih perhatian kepada anak laki-laki itu.


"Sayang.... apa kamu tidak bisa melihat keberadaan ku disini? aku ada di hadapan kamu sedari tadi, tapi kamu seakan-akan tidak melihatku, dan menganggap ku hantu." tuduh Meyer cemberut.


"Come on Meyer.... Richardo hanya seorang anak kecil yang belum mengerti masalah hati orang dewasa." kata Dena tanpa mengalihkan pandangannya dari wajah polos Richardo.


"Berbaringlah di samping putra kita." pinta Dena menatap Meyer. Mau tidak mau, Meyer terpaksa membaringkan tubuhnya disamping Richardo.


"Kamu terlihat imut dengan moncong bebek ke depan seperti itu." goda Dena mengejek Meyer.


Alih-alih terpancing dengan godaan Dena, Meyer malah memunggungi Richardo dan Dena.


"Bagaimana kalau kita menambahkan nama kita di belakang namanya." celetuk Dena tiba-tiba membuat Meyer membalikkan badannya, hingga berhadapan dengan Richardo dan Dena.


Denada tersenyum melihat Meyer membalikkan badannya. "Menurutmu.... nama tengah apa yang cocok untuk Richardo?" tanya Dena menatap raut wajah Meyer. Meyer terlihat sedang memikirkan sesuatu.


"Hem.... bagaimana kalau Richardo Lewandowski." celetuk Meyer tiba-tiba membuat dahi Dena berkerut.


"Lewandowski? mengapa kamu menggunakan nama itu? kepanjangannya apa?" tanya Dena menatap kekasihnya.


"Biar keren saja sayang...." seru Meyer cengengesan.


"Hem.... bagaimana kalau---"


"Richardo Maynard Lewandowski?" celetuk Dena setelah berpikir beberapa saat.


"Boleh.... nama itu juga terlihat bagus."kata Meyer tersenyum bahagia.


"Baiklah, sekarang waktunya kita tidur." ujar Dena menyelimuti tubuh Meyer dan Richardo.


"Sayang.... bagaimana kalau kita pindah ke sebuah rumah minimalis, memiliki halaman luas dan jauh dari hiruk-pikuk keramaian."celetuk Meyer tidur terlentang. Ia menatap langit-langit kamar yang mereka tempati.


"Aku takut di teror, kalau kamu meninggalkan kami di rumah tanpa penjagaan ketat." sahut Dena menatap wajah kekasihnya.


"Aku akan mengirim beberapa anak buah Devils menjaga kalian dari kejauhan. Menurutku mereka tidak akan berani mendekati rumah kita. Kalau bisa, kamu rehat sejenak dari pekerjaanmu sebagai model. Supaya kamu bebas menjaga dan merawat Richardo." saran Meyer memejamkan matanya.


"Kamu bisa memikirkan saranku selama kita disini." sambung Meyer membuka matanya. Banyak kekhawatiran di hati pria itu. Hanya saja, Meyer tidak mau menunjukkan perasaan cemas dan khawatir-nya di depan Denada.


Meyer memposisikan tubuhnya tidur menyamping. Ia mengelus lembut punggung kecil Richardo.


Dena tersenyum tipis melihat apa yang dilakukan Meyer.


#


#


Meyer dan Dena sudah kembali ke kota Bogota, membawa Richardo ikut serta bersama mereka. Mereka juga sudah pindah ke sebuah rumah minimalis yang baru dibeli Meyer beberapa hari yang lalu.


Dena memutuskan berhenti dari pekerjaannya setelah berfikir selama satu minggu. Ia dengan telaten merawat, menyuapi, memandikan dan menyiapkan segala keperluan Richardo. Meskipun mereka belum menikah sampai saat ini, hubungan mereka terlihat semakin baik-baik saja. Seperti saat ini....


Meyer baru saja sampai di rumah, setelah pulang kerja. Dena sudah menunggu kepulangan Meyer di ruang tamu, bersama putranya. Richardo sudah tertidur lelap di dekapan Dena, setelah meminum susu kaleng.


"Sayang.... apa putra kita sudah tidur?" tanya Meyer mengecup kepala kekasihnya.


"Sudah.... Richardo sepertinya kekenyalan."seru Dena tersenyum manis.


"Apa Richardo rewel hari ini?" tanya Meyer setelah mengecup kening putranya.


Meyer lalu duduk di samping Dena.


"Masih, tapi sudah jarang. Giginya sepertinya mau tumbuh lagi. Aku melihat gusinya sedikit bengkak."


Dena pikir, Richardo sering rewel akhir-akhir ini, karena beberapa giginya mulai tumbuh lagi.


"Lebih baik kamu mandi terlebih dahulu. Aku mau menyiapkan makan nakal untuk kita." kata Dena berdiri dari duduknya. Ia ingin membaringkan Richardo di boks bayi di dalam kamar.


Dena meletakkan Richardo di boks bayi dengan hati-hati agar tidak terbangun, lalu menyelimutinya. Tak lupa Dena meninggalkan sebuah kecupan di kening putranya. Meskipun Richardo tidak lahir dari rahimnya, tapi ikatan batin mereka mulai terjalin erat.


"Sayang.... aku sudah menyiapkan pakaian di atas tempat tidur."ujar Dena menatap kekasihnya.


"Sayang.... tolong siapkan air hangat aroma terapi. Aku ingin berendam." pinta Meyer meletakkan tas kerjanya di atas meja.


"Tunggu, sebentar..." kata Dena melangkah menuju kamar mandi. Dena dengan cekatan menyiapkan handuk dan air hangat aroma terapi untuk Meyer.


"Andaikan kita sudah sah menjadi sepasang suami-istri, bukankah kebahagiaan ini akan lebih terasa nyata...." gumam Dena tersenyum miris.


"Ah...." Dena menghela napas panjang, karena suka sekali berandai-andai.


"Everything will be fine in time!" kata penyemangat yang selalu hadir di hati Denada.


...***Bersambung***...