
Alih-alih mendengar pertanyaan wanita itu, Riyan malah melangkah dengan cepat mendekati sofa ruang tamu.
Pria itu memeriksa suhu tubuh Meyer kecil dengan termometer. Tak beberapa lama, termometer menunjukkan suhu tubuh Meyer kecil.
"Tuan, sepertinya Tuan muda kecil harus di rawat jalan. Kebetulan saya juga sudah membawa semua perlengkapannya." ujar Ryan Lewis.
"Lakukan yang terbaik." ujar Tuan Lendsky mengelus lembut kepala Meyer.
"Baik, Tuan." ucap Ryan
Ryan melakukan pekerjaan sebagai seorang dokter pribadi keluarga Lendsky. Ia memasang infus di tangan Meyer dan menyiapkan obat untuk anak kecil itu.
Tak beberapa, Ryan keluar dari kamar pribadi Meyer kecil. Ryan melihat wanita yang tadi mengejeknya masih ada disana.
"Hey, Tuan. Lain kali sebelum keluar rumah, penampilannya diperhatikan lebih dulu." imbuh wanita itu melangkah menjauh dari Ryan.
Ryan lalu memperhatikan penampilannya dari kepala hingga ujung kaki dengan seksama.
"Tidak ada yang aneh dengan penampilan ku" ucap Ryan dalam hati.
"Apa wanita itu sinting?" sambung Ryan.
Ryan mengamati ulang penampilannya untuk kedua kalinya. Namun matanya tiba-tiba membesar melihat pantulan tubuhnya di dalam cermin.
"Sial! aku terlihat seperti pria culun!" celetuk Ryan tiba-tiba. Sehingga membuat wanita itu tertawa terbahak-bahak.
Ryan mendengus kesal mendengar tawa wanita itu. "Meskipun penampilan ku seperti ini, tapi rudal balistik milik ku, tidak culun seperti penampilanku." gumam Ryan dalam hati. Ia keluar dari mansion Lendsky dengan perasaan kesal.
#
#
Seminggu kemudian
Kondisi Meyer kecil berangsur-angsur mulai membaik. Namun anak itu lebih banyak diam akhir-akhir ini. Ia tidak banyak berbicara ataupun merengek seperti sebelum-sebelumnya.
"Apa Meyer mau ke taman bermain bersama Kakek?" tanya Tuan Lendsky. Tapi Meyer kecil tidak merespon sama sekali.
"Jika perlu sesuatu, panggil pelayan atau Meyer bisa datang ke ruangan kerja kakek. Kakek ada disana." sambung Tuan Lendsky mengelus kepala cucunya.
#
#
Sementara Deven baru tiba di mansion Lendsky setelah dari perusahaan. Pria itu langsung melangkah menuju ruangan kerja Tuannya.
Tok
Tok
Tok
"Masuk" sahut Tuan Lendsky. Pria itu masih berjibaku dengan dokumen-dokumen penting perusahaan.
"Tuan...." sapa Deven sedikit menunduk.
"Apa tugas yang kuberikan seminggu yang lalu sudah kau lakukan?" tanya Tuan Lendsky tanpa mengalihkan pandangannya.
"Sudah, Tuan." sahut Deven terbata-bata. Terselip sedikit perasaan gugup sekaligus perasaan cemas di hatinya.
"Baguslah. Aku ingin pria itu merasakan kesakitan yang sama." sambung Tuan Lendsky tersenyum sinis.
#
#
Seorang wanita menangis histeris di hadapan suaminya. Ia menangis selama seminggu berturut-turut setelah kehilangan putrinya.
"Sayang, kita pasti menemukan putri kita. Kita cukup berdoa dan meminta petunjuk kepada sang maha pencipta." bujuk pria itu. Ia juga merasakan hal yang sama, seperti apa yang istrinya rasakan.
Pria itu terkejut melihat istrinya terbangun mencari-cari keberadaan putri mereka. Padahal, sebelum Dede keluar dari kamar rawat istrinya. Dede masih melihat putrinya tidur terlelap di dalam boks bayi. Namun, sekembalinya Dede dari luar membeli makanan, Ia sudah tidak melihat keberadaan putrinya.
"Mas.... putri kita hilang Mas.... putri yang sudah kita tunggu-tunggu selama lima tahun ini. Mas, cari putri kita, aku tidak mau putri kita kenapa-napa." mohon istri Dede mengenggam tangan suaminya.
"Hara.... Mas, pasti mencari putri kita. Coba tenangkan pikiran dan hati kamu dulu. Putri kita pasti baik-baik saja." bujuk Dede menyakinkan istrinya.
"Ta-tapi, putri kita masih kecil, Mas. Putri kita masih butuh ASI dari Hara." timpal Sahara Diandra.
"Kita juga tidak bisa berlama-lama di Negara ini. Kita datang hanya karena urusan pekerjaan." sambung Sahara mengingatkan suaminya.
"Tunggu disini. Kamu makan duluan. Mas akan ke ruangan CCTV rumah sakit terlebih dahulu." bujuk Dede mengelus tangan istrinya.
Hasilnya nihil, tidak ada bukti rekaman yang bisa menjadi petunjuk kemana hilangnya putri mereka. Dugaan sementara Dede, rekaman itu hilang atau sudah dihapus sebagai. Sepertinya ada seseorang yang berusaha mengusik keluarganya pikirnya. Kurang lebih selama satu jam Dede berdiri di depan layar lebar CCTV rumah sakit bersama petugas keamanan.
"Tuan, apa rekaman ini sudah dihapus sebagai? karena kalau kita pikirkan dari segi logika. Putri saya tidak mungkin menghilang karena dirinya sendiri. Putri saya juga masih bayi, jangankan jalan kaki, berbicara saja putri saya belum mampu. Apa kalian di sogok untuk menghapus sebagai CCTV ini? saya bisa jadi menuntut kalian. Saya tidak takut menuntut rumah sakit ini." ucap Dede beruntun mengancam petugas keamanan.
"Ma-maaf Tuan atas ketidaknyamanannya. Anda bisa menuntut kami sesuka hati Anda. Tapi CCTV ini benar-benar hasil dari rekaman keseluruhan." ucap petugas itu penuh keyakinan.
"Aku tidak mungkin menuntut rumah sakit sebesar ini. Para petingginya bisa saja menyogok para pihak keamanan agar tidak menindaklanjuti laporan yang kuberikan." ucap Dede dengan lirih menggunakan bahasa Indonesia.
"Tuhan.... apa yang harus aku lakukan? aku takut hal ini mempengaruhi psikis istriku. Apa lagi Ia baru saja melahirkan...." sambung Dede dalam hati.
Dede pada akhirnya mengalah dan tidak memperpanjang pembicara mereka. Tubuh pria itu bergetar dan berjalan lunglai menuju kamar rawat istrinya.
Sementara seseorang tersenyum puas, karena merasa rencananya telah berhasil. Ia mengkambinghitamkan keluarga Dede dalam rencananya. Semua itu tak lain dan tak bukan Ia lakukan hanya karena keserakahannya.
Cklek
Dede masuk ke dalam kamar rawat istrinya dengan perasaan tak menentu. Ia tidak tahu harus berbicara seperti apa kepada istrinya.
"Mas, bagaimana? apa putri kita sudah ditemukan? tanya Sahara penuh harapan.
Dede terdiam sebentar sebelum menjelaskan panjang lebar kepada istrinya.
"Sayang.... Mas--"
"Tidak ada bukti rekaman yang bisa kita jadikan sebagai petunjuk. Aku sudah melihat beberapa rekaman CCTV dari ruangan petugas keamanan." terang Dede menghembuskan napasnya.
Wajah Sahara tiba-tiba berubah pucat pasi mendengar ucapan suaminya. Ia merasa dunianya runtuh seketika. Air mata membanjiri pipi cabi ibu muda itu.
"Mas, Mas pasti bohong kan? putri kita tidak mungkin hilang kan, Mas?" tanya Sahara memastikan pendengarannya.
Perkataan selanjutnya yang terucap dari bibir sang suami membuat tubuh Sahara bergetar. Ia merasa jantungnya seperti ditikam oleh ribuan pisau. Ia tidak sanggup melewati musibah berkali-kali.
"Mas tidak bohong Hara...." ucap Dede dengan lirih.
"Mas! kamu bohong, Mas! putri kita tidak mungkin hilang dari boks bayi, kalau tidak diculik orang lain. Putri kita tidak bisa berdiri, merangkak atupun berbicara!" bentak Sahara tiba-tiba marah kepada suaminya.
"Itu kenyataan, Hara." ucap Dede dengan lirih.
Dede melangkah memeluk tubuh tubuh bergetar istrinya.
"Aku akan berusaha mencari keberadaan putri kita sampai ketemu. Meskipun kita harus menunggu selama bertahun-tahun." bujuk Dede memenangkan hati sang istri.
...***Bersambung***...