YOUR LOVE HURTS ME

YOUR LOVE HURTS ME
Bab 37 Perhatian Meyer



Tak beberapa lama terdengar suara ketukan pintu dari luar kamar rawat Dena.


Tok Tok Tok


Cklek


Gerry menyembulkan kepalanya masuk melalui setengah pintu terbuka. Ia terkejut melihat Meyer duduk di samping ranjang rawat Dena sembari menatap tajam kearahnya.


"Masuklah!" perintah Meyer


"Tuan! Maaf pesanannya sedikit lama, karena saya kesulitan mencari mie ayam bakso pesanan Anda." ujar Gerry melangkah mendekati Meyer.


"Gajimu dipotong 10% bulan ini!" ujar Meyer mengambil mie ayam bakso yang dibeli Gerry.


Sementara Gerry terkejut mendengar ucapan Meyer. Jika gajinya dipotong, otomatis dia tidak akan bisa pergi ke Club memuaskan hasratnya pikirnya.


"Ta-tapi Tuan?"


"Tidak ada tapi-tapian!" tegas Gerry melangkah menuju meja. Namun langkahnya harus terhenti ketika mengingat-ingat tujuannya membeli mie ayam bakso permintaan Dena.


"Hari ini aku akan memaafkan mu, karena hari ini suasana hatiku cukup baik. Apa lagi sebentar lagi aku akan menjadi seorang Papa dan memiliki satu bayi lucu." celetuk Gerry tersenyum kecil. Ia mengalihkan pandangannya menatap Dena yang sedari tadi cemberut menunggu mie ayam bakso pesanannya.


Kedua mata Gerry membesar mendengar perkataan Tuannya. Bukan karena mendengar Meyer memaafkan kesalahannya dan gajinya tidak jadi dipotong. Tapi karena Meyer berkata, kalau pria itu akan menjadi seorang Papa dan memiliki satu bayi lucu.


"What!!"


"Jangan berisik! ini di rumah sakit!" ujar Meyer menuangkan segelas air putih ke gelas.


Ia lalu membawa mangkok berisi mie ayam bakso pesanan Dena dan segelas air putih.


"Sayang.... Mau makan sendiri atau disuapi?" tanya Meyer tersenyum hangat berusaha mengembalikan mood buruk kekasihnya.


"Hem...." angguk Dena sembari mencebikkan sedikit bibirnya mendengar pertanyaan Meyer.


Gerry menatap mereka bergantian masih dengan wajah terkejutnya.


"Sudahlah Ger! tidak perlu terkejut seperti itu. Lebih baik kau bantu aku mengerjakan beberapa tugas penting perusahaan besok pagi. Sepertinya mengantikan ku mengikuti rapat dan bertemu klien mungkin." celetuk Meyer sembari mendudukkan bokongnya di pinggir ranjang rawat kekasihnya.


"Bagaimana? enak?" tanya Meyer tersenyum hangat menatap wajah sang kekasih. Ia cukup bahagia melihat raut wajah Dena terlihat semakin ceria menikmati mie ayam bakso yang Meyer suap-kan.


"Hem...." gumam Dena sembari mengunyah mie ayam yang Meyer suap-kan.


Cup


Pria itu tiba-tiba mengecup sekilas bibir merah Dena. Meyer tidak tahan untuk tidak mengecup bibir itu saat melihat bibir merah sang kekasih menari-nari mengunyah makanan.


"Bau!" dengus Dena menghentikan kunyahan-nya, Ia lalu mengelap bibirnya menggunakan punggung tangannya yang tidak terpasang infus.


Gerry berusaha menahan tawanya saat mendengar perkataan Dena. Ia cukup takjub dengan keberanian Dena. Mungkin karena sedang hamil pikir Gerry. Ia sedari tadi belum keluar dari kamar rawat Dena.


Meyer mencium aroma mulutnya, tapi tidak bau sama sekali. Malahan aroma mulutnya mengeluarkan aroma mint. Karena pria itu teratur merawat kesehatan giginya.


"Sayang ini tidak bau. Aku---"


"Bau! bau! bau!" kesal Dena memalingkan wajahnya kesamping menatap keluar jendela. Setetes air mata mengalir keluar dari sudut matanya.


Meyer menyeritkan keningnya mendengar perkataan Dena. Tidak biasanya Dena bersikap seperti itu pikirnya.


"Gerry! kemari lah! tolong kau mendekati! apakah aroma yang dikeluarkan mulut ku bau?" tanya Meyer membalikkan tubuhnya menatap sang Asisten.


Gerry terkejut mendengar pertanyaannya Meyer


"Tuan, sebaiknya saya kembali ke apartemen. Besok saya akan mengantikan Anda rapat dan bertemu klien." ucap Gerry membalikkan tubuhnya melangkah keluar dari kamar rawat Dena.


"Ada-ada saja si bos!" gerutu Gerry sepanjang perjalanan keluar dari rumah sakit.


"Yang ada mah gue mencium aroma jigong!" sambungnya masuk ke dalam mobil.


Padahal Meyer sudah sikat gigi dan rutin melakukan perawatan gigi. Namun Dena aja yang akhir-akhir ini sedikit sensi.


...***Bersambung***...