
"- Pasien tidak apa-apa. Hanya saja pingsannya pasien karena sedang mengandung dua bulan. Saya ucapkan selamat untuk Anda Tuan." ucap dokter itu menatap Meyer. Dokter itu mengira Dena istri dari Meyer.
Meyer terkejut sekaligus bahagia mendengar perkataan dokter itu. Senyum kebahagiaan tiba-tiba terpancar di wajah pria datar itu.
Sementara Oliva tertegun mendengar perkataan dokter yang bertanggung jawab memeriksa kondisi Dena.
"Perawat akan memindahkan pasien ke ruangan rawat inap. Saya sarankan, Anda memeriksa kandungan istri Anda ke dokter kandungan." sambung dokter itu sebelum berlalu dari sana.
Senyum di bibir Meyer semakin lebar mendengar perkataan dokter ini. Ia tidak sabar bertemu dengan kekasihnya.
"Cih! aku takut Dena akan tertekan mengetahui kehamilannya. Kau tahu sendiri seberapa besar usahanya hingga mencapai cita-citanya." sindir Olivia berlalu dari sana meninggalkan keterpakuan Meyer.
Oliva berlalu ke kantin rumah sakit membeli air putih.
Tak beberapa dua orang petugas mendorong ranjang rawat inap Dena keluar dari UGD. Meyer mengikuti mereka dari belakang menuju kamar VIP yang tadi Meyer pesan.
Di kamar rawat inap Dena
Meyer mendudukkan bokongnya di kursi samping ranjang Dena. Selang infus terpasang di punggung tangan kekasihnya.
"Sayang--"
"Bangunlah! sepertinya ini kedua kalinya kamu di rawat di rumah sakit."
"Namun kali ini, aku cukup bahagia." ucap Meyer mengelus perut rata Dena.
"Sebentar lagi kita akan memiliki baby." sambung Meyer tersenyum hangat menatap mata terpejam Dena.
"Ketika dokter berkata kamu sedang hamil dua bulan. Hatiku berdesir dan rasanya hati ini dipenuhi oleh ribuan kuntum bunga mawar.
"Betapa bahagianya aku mendengar kabar bahagia ini." ucap Meyer lagi mengecup lama punggung tangan Denada.
Olivia terdiam lama berdiri di luar pintu menatap keadaan di kamar rawat Dena melalui sela-sela kaca di pintu. Ia cukup sungkan menganggu kebersamaan sepasang kekasih itu. Apa lagi sekarang Dena sang sahabat sedang mengandung anak Meyer.
Olivia memundurkan langkahnya berlalu dari lorong ruangan Dena.
" Besok pagi saja menjenguk Dena." ucapnya keluar dari rumah sakit.
#
#
Dena mengerjapkan matanya berulangkali memastikan penglihatannya. Ia meringis merasa kepalanya sedikit pusing sekaligus berdenyut.
Sementara Meyer sedang mandi di kamar mandi rumah sakit. Pria itu belum sadar, kalau Dena sudah sadar.
Cklek
Suara pintu dibuka mengalihkan perhatian Dena. Ia terdiam lama melihat air dari rambut Meyer membasahi wajah pria itu.
Meyer tersenyum hangat melihat kekasihnya sudah sadar.
"Sayang. Ternyata kamu sudah sadar!" ucap Meyer melangkah mendekati ranjang rawat Dena.
Dena diam tak bergeming, Ia lalu mengalihkan pandangannya menatap keluar jendela. Kebetulan posisi ruangan Dena ada di lantai 3 rumah sakit itu. Ia bisa melihat lampu-lampu apartemen masih hidup di sebelah rumah sakit.
Meyer tertegun melihat Dena diam dan langsung mengalihkan pandangannya darinya.
"Sayang--" panggil Meyer menggenggam tangan kekasihnya.
Dena merasa tangan Meyer sedikit dingin. Mungkin karena baru selesai mandi pikirnya.
"Aku punya berita membahagiakan untukmu!" celetuk Meyer tersenyum hangat menatap wajah dena dari samping.
Dena cukup penasaran dengan perkataan Meyer. Ia lalu mengalihkan pandangannya menatap kearah Meyer. Dena menatap wajah Meyer dengan perasaan rumit sekaligus campur aduk.
" Apa kamu tahu--" tanya Meyer mengehentikan perkataannya menunggu reaksi sang kekasih.
Meyer lalu melanjutkan perkataannya saat melihat Dena menyeritkan dahinya menunggu ucapan Meyer selanjutnya. "Sebentar lagi.... Kita akan memiliki baby." sambung Meyer tersenyum lebar memamerkan jejeran rata gigi putihnya.
...***Bersambung***...