YOUR LOVE HURTS ME

YOUR LOVE HURTS ME
Bab 65



Dena mengandeng tangan Rosalie masuk ke dalam panti asuhan. Sementara Meyer masih sibuk menurunkan barang-barang milik Dena. Mereka juga membawa bahan pokok makanan untuk 1 bulan ke depan.


Tak beberapa lama, seorang pria paruh baya keluar dari panti asuhan. Pria itu tertegun melihat Meyer ada disana. Pria itu mengira istrinya bergurau mengenai kedatangan Meyer.


"Tuan...." seru pria itu dengan suara pelan.


"Eh.... Pak Devendra."


Meyer tersenyum manis menatap pria setengah baya itu. Devendra sudah menikah dengan Rosalie saat Dena berusia 10 tahun. Sepuluh tahun lalu, Devendra juga sudah jujur mengenai asal-usul Denada. Namun Rosalie dan Deven, belum berani jujur kepada Denada. Karena mereka merasa takut, kalau Denada akan terguncang mendengar kenyataan yang sebenarnya. Apa lagi mereka tahu, jika Dena memiliki hubungan asmara dengan keturunan Lendsky.


Padahal Dena sudah mengetahui segalanya, hanya saja wanita itu memendam lukanya sendirian.


"Mengapa kalian membawa bahan makanan sebanyak ini.... kami merasa tidak enak, merepotkan kalian." seru Deven membantu Meyer mengangkat empat karung gandum, 4 kardus makanan ringan, satu kardus mainan, 1 karus perlengkapan mandi, 1 kardus bahan-bahan dapur dan terakhir 1 karus pakaian serta sepatu. Meyer sudah memesan semuanya dari jauh-jauh hari.


"Tidak usah sungkan, Pak. Kami hanya berbagi sedikit rejeki yang kami dapatkan."ucap Meyer tersenyum tipis.


"Ayo masuk. Sepertinya, sebentar jam makan siang. Kamu bisa istirahat terlebih dahulu di dalam." kata Deven mengajak Meyer masuk ke dalam.


#


#


Sementara di dalam panti


Dena bermain bersama anak-anak panti, ia merasa sangat senang berkumpul bersama mereka. Baru hari ini Meyer melihat wajah ceria Dena usai mengalami keguguran.


Tiba-tiba seorang anak kecil laki-laki berguling-guling mendekati Dena. Anak itu mengelus lembut perut rata Dena. Semua yang ada disana menyeritkan dahi mereka.


"Ada apa? Hem?"


Dena mengangkat tubuh mungil itu ke atas pangkuannya.


Dena terpesona melihat senyum itu, ia sepertinya melihat sosok putranya di raga itu. Meskipun pada kenyataannya, Dena belum pernah melihat putranya tersenyum.


"Ibu, berapa usia anak ini?" tanya Dena tanpa mengalihkan pandangannya dari anak laki-laki itu.


"Sembilan bulan." jawab Rosalie menghentikan pekerjaannya. Ia sedang membantu petugas menyiapkan makan malam untuk anak-anak panti.


"Bolehkah aku merawatnya." celetuk Dena tiba-tiba membuat Meyer tertegun.


Rosalie menyerahkan pekerjaan kepada salah seorang anak panti yang sudah tumbuh dewasa. Rosalie melangkah mendekati Dena. Rosalie duduk melantai di depan Dena.


"Apa kamu yakin? siapa yang akan merawatnya disaat kalian bekerja? dan apa Meyer akan menyetujui keinginanmu?"


Rosalie menatap Dena, anak kecil yang dulu Ia rawat dan berikan kasih sayang, layaknya seperti anak kandungnya sendiri.


"Jika Meyer tidak setuju dengan keinginanku, aku sendiri yang akan merawatnya. Aku akan membeli apartemen baru untuk kami tinggali." kata Dena dengan yakin. Mungkin dengan adanya anak itu, suasana di apartemen akan lebih berwarna pikirnya.


"Aku menyetujui apapun keputusanmu sayang...." sela Meyer dengan suara lirih. Meyer tahu Dena masih kesal padanya atas kepergian putra mereka. Mereka bisa mengangkat anak itu menjadi putra mereka, sebagai pengganti putra mereka yang sudah meninggal.


Rosalie tersenyum kecil mendengar kepatuhan Meyer. Karena Rosalie tahu sebesar apa cinta


Meyer kepada putrinya. Hanya saja restu Tuan Lendsky masih menjadi hambatan besar bagi hubungan mereka.


"Jika kalian sudah sepakat dengan keputusan kalian. Ibu tidak masalah kalian merawatnya. Dia juga masih kecil, mungkin didikan kalian akan membuatnya bisa berguna di masa depan. Ibu juga kasihan melihat bayi sekecil ini harus ditinggal mati oleh ibunya. Sementara keberadaan ayahnya tidak tahu dimana." kata Rosalie mengelus kepala anak itu.


"Dia anak yang ceria. Aku yakin kamu pasti bahagia kalau membawanya bersamamu."


...***Bersambung***...