
2 Minggu kemudian, hubungan Dena dan Meyer masih terasa dingin. Dena berusaha menyembunyikan kehamilannya dari Meyer setelah mengancam Arden agar tidak mengatakan mengenai kehamilannya. Dena juga berusaha menjaga jarak dari Meyer agar pria itu tidak curiga dengan rahasia yang sedang Ia sembunyikan.
Dena terlihat sudah rapi dengan pakaiannya. Ia mengenakan sepasang pakaian kasual dan sepatu heels 3 cm berwarna hitam.
"Kamu mau kemana?" tanya Meyer menghampiri Dena.
"Aku ingin menemui Olivia." jawab Dena dengan cuek. Dena terlihat tidak peduli dengan keberadaan Meyer.
"Aku tidak akan mengijinkan mu pergi keluar." Jawab Meyer dengan cepat. Keberadaan Gerry masih belum ditemukan sampai sekarang. Bagaimana mungkin Meyer membiarkan Dena keluar sendirian tanpa pengawal. Sementara Katherine seperti manusia belut, psikopat yang sangat licin. Dan sampai hari ini keberadaan gadis itu tak kunjung ditemukan.
"Aku mau menemui Olivia di perusahaan!" Dena melangkah melewati Meyer begitu saja. Namun, saat membuka pintu. Beberapa anak buah Meyer menghalangi langkah Dena.
"Kau tidak akan bisa keluar dari mansion ini, tanpa seijin ku!" ujar Meyer melangkah melewati Dena dan para penjaga.
"Jangan biarkan Nona muda keluar dari manusia. Jika ia berani melangkah selangkah saja keluar dari mansion. Kalian bisa mematahkan kakinya." timpal Meyer menatap tajam beberapa anak buahnya yang masih berdiri di hadapan Dena.
Saat ingin menyela perintah Meyer kepada bawahannya. Pria itu dengan cepat melanjutkan langkahnya masuk ke dalam mobil.
"Lebih baik Anda kembali ke dalam, Nona muda. Saya kita, Tuan kecil sedang membutuhkan Anda."
Mau tidak mau, Dena akhirnya menurut. Bagiamana pun Richardo pasti membutuhkannya.
Dena akhirnya melangkah menuju kamar. Ia melihat seorang wanita paruh baya sedang bermain dengan putranya.
"Apa Anda pengasuh baru untuk putra saya?" tanya Dena melangkah mendekati wanita itu.
"Benar, Nona. Hari ini merupakan hari pertama saya bekerja di kediaman Tuan muda Meyer." jawab wanita itu tersenyum tulus.
"Siapa nama ibu?" tanya Dena sembari mengelus kepala putranya yang sedang bermain.
"Rosyidah." jawab wanita itu dengan singkat.
"Nama saya Denada.... ibu bisa memanggilku dengan panggilan Dena." balas Dena memperkenalkan dirinya.
"Baik, Nona." balas Rosyidah tersenyum tipis.
"Ya, saya memilikinya, Nona. Apa Anda membutuhkan sesuatu?" tanya Rosyidah mengamati raut wajah khawatir Dena.
"Hm.... saya ingin menghubungi sahabat saya." cicit Dena berkata lirih. Dena lupa meletakkan ponselnya dimana sebelum penculikan itu. Meyer juga tidak mengijinkannya keluar dari kediamannya untuk bertemu dengan Olivia.
"Anda bisa menggunakan ponsel saya untuk menghubunginya, Nona." meskipun merasa sedikit janggal dengan alasan Dena. Wanita itu tetap berinisiatif meminjamkan ponselnya kepada Dena.
Dengan senang hati, Dena menerima ponsel itu. Ia langsung mengetik nomor ponsel Olivia dan menghubungkan panggilan keluar.
Tut
Tut
Tut
[Hallo.]
"Olivia, ini aku Dena." jawab Dena dengan suara berbisik.
[Astaga, Dena. Aku pikir Meyer belum menemukan mu. Aku sungguh mengkhawatirkan keadaan mu.] celetuk Olivia dari seberang sana.
"Olivia, aku sangat membutuhkan bantuan mu. Ini semua aku lakukan untuk keselamatan seseorang." ujar Dena melangkah menjauh dari Rosyidah.
"Bisakah, kau berkunjung ke mansion Meyer. Aku ingin bertukar identitas dengan mu." tambah Dena.
[Apa bantuan ini benar-benar urgent?] tanya Olivia memastikan perkataan Dena.
"Ya. Ini demi keselamatan seseorang." lirih Dena sembari mengelus perutnya.
[Baiklah, aku akan segera kesana.] jawab Olivia mengakhiri panggilan telepon dari Dena.
Setelah selesai bicara dengan Olivia, Dena kemudian menyerahkan ponsel Rosyidah. Dena tak lupa mengucapkan terima kasih kepada wanita itu.