
"Kita tidak bisa membatalkan kontrak kerja sama itu Gina! aku harus membayar denda puluhan jutaan dolar membayar biaya ganti rugi." imbuh Denada mendengar jawaban manajernya.
"Kau tahu sendiri, aku tidak memiliki uang sebanyak itu. Aku bisa bangkrut kalau mengeluarkan uang sebanyak itu. Belum lagi kalau Meyer benar-benar menghancurkan karir ku...." timpal Denada tanpa mengalihkan pandangannya dari jalan raya.
"Kita tidak akan memiliki pemasukan lagi. Sementara aku hanya bekerja di agensi yang dinaungi oleh perusahaannya."
"Aku berharap ini bukan awal dari malapetaka Denada...." ujar Gina kembali menatap layar ponselnya.
#
#
Di Penthouse
"Tuan...."
"Wanita itu sudah tiba." ucap Jack berdiri di depan meja kerja Greyson.
"Suruh wanita itu menungguku di kamar tamu." pinta Greyson tanpa mengalihkan pandangannya dari dokumen-dokumen penting yang ada di atas meja kerjanya.
Sementara diparkiran penthouse
Denada menarik napasnya dalam-dalam menghilangkan perasaan gugupnya.
"Ayo Dena, pria brengsek itu juga sering menjajakan tubuhnya kepada banyak wanita penghibur dan penggoda di luar sana. Mengapa kau harus takut melakukan pekerjaan seperti ini. Greyson juga tampan, kaya raya dan memiliki tubuh yang lumayan kekar nan menggoda." monolog Dena dalam hati. Ia mengepalkan kedua tangannya, menghilangkan perasaan gusar dan ketidakyakinan di hatinya.
Tak beberapa lama, Dena tiba di depan pintu apartemen Greyson. Jack tiba-tiba membuka pintu itu dari dalam.
"Masuklah!" perintah Jack dengan nada tegas. Wajah datar, kaku dan dingin itu terpampang-pang jelas di penglihatan Dena.
"Ikuti aku." pinta Jack mendahului Denada.
Dena mengikuti langkah Jack menuju sebuah kamar yang tidak terlalu jauh dari pintu keluar.
"Masuklah ke kamar ini. Dan tunggu sampai Tuan Greyson datang. Jangan coba-coba membuatnya marah, ataupun kesal. Kalau tidak mau merasakan kekejamannya." pesan Jack sebelum berlalu dari sana.
Cklekk
Dengan pelan Dena membuka pintu kamar itu dan mengamati interior kamar yang Ia masuki. Dena lalu mendudukkan bokongnya di atas kasur. Setetes air mata mengalir dari sudut matanya.
Tiga puluh menit kemudian, Greyson masuk hanya mengenakan kimono saja. Pria itu meneliti penampilan Dena dari ujung kaki hingga ujung rambut.
"Bersihkan dirimu terlebih dahulu sebelum melakukan pekerjaan mu!" perintah Greyson. Ia lalu melangkah menuju balkon kamar tamu membawa sebotol wine.
"Kuharap kau mau bangun dengan pasangan barumu...." monolog Greyson menatap adik kecilnya yang masih tidur.
#
#
Di kamar mandi Dena berdiri dan menatap dirinya di depan kaca di atas wastafel. "Ayo Dena! kamu pasti bisa!" ucap Dena menyemangati dirinya.
"Aku tahu ini salah, tapi aku juga tidak bisa menutup mata akan penghianat Meyer!" batin Dena melangkah berendam di dalam bathtub.
Sejam kemudian Dena keluar dari kamar mandi sembari mengenakan lingerie seksi berwarna hitam sehingga membuat tubuh putihnya terlihat lebih seksi.
Cklek
Dena melangkah menuju balkon, dan berdiri dari jarak satu meter dari Greyson.
"Apa kau sudah siap melaksanakan tugasmu?" tanya Greyson. Ia meneliti tubuh Dena dari kepala hingga ujung kaki.
"Sudah, Tuan." ucap Dena terbata-bata. Ia merasa ritme jantungnya berdetak dua kali lipat lebih cepat dari biasanya.
"Lakukanlah!" perintah Greyson mengangkat kakinya ke atas sofa.
"Disini?" tanya Dena sedikit gugup.
"Ya, aku ingin merasakan sensasi berbeda." ucap Greyson dingin.
"Apa kau keberatan?" tanya Greyson melipat kedua tangannya di depan dada.
"Ti-tidak, Tuan." sahut Dena.
"Aku hanya ingin tahu, apa kau bisa membangunkan adik kecilku atau tidak. Aku akan memberikan kompensasi tambahan kepadamu, kalau kau bisa membangunkannya." sambung Greyson.
Dena lalu mendudukkan bokongnya di pangkuan Greyson. Meskipun ada sedikit perasaan gugup dihatinya. Karena tawaran menggiurkan dari Greyson membuat Dena lebih percaya diri.
Saat Dena ingin mengecup bibir Greyson, pria itu langsung menghentikannya.
"Aku tidak suka disentuh di area tertentu. Aku lebih suka kau menyentuh adik kecil ku." ucap Greyson dengan wajah datar.
Greyson lalu menaikkan setengah kimono yang Ia gunakan keatas, agar Dena lebih leluasa melakukan tugasnya.
Denada dejavu melihat tubuh kekar Greyson, tubuh pria itu terlihat sangat terawat.
"Sebelas dua belas...." lirih Dena dalam hati.