YOUR LOVE HURTS ME

YOUR LOVE HURTS ME
Bab 41 Mood Berubah-Ubah



Katherine langsung masuk ke ruangan Papanya sehabis dari ruangan Calista.


"Pa! Ma!" panggilannya mendekati ruang tamu ruangan itu. Katherine melihat kedua orangtuanya sedang bersantai di ruang tamu.


"Apa kalian akan kembali ke California lagi?" tanya Katherine. Ia cukup kesepian melihat kedua orangtuanya terus-menerus pulang pergi keluar negeri.


"Minggu depan kemungkinan! ada apa sayang?" tanya Nyonya Matthew mengelus rambut putri bungsunya dengan lembut.


"Katherine mau pernikahan Katherine dengan Meyer di percepat!!" ujar Katherine manja sembari mencebikkan bibirnya.


Sementara Tuan Matthew hanya menggeleng-gelengkan kepalanya mendengar perkataan putrinya.


"Sayang...."


"Lebih baik kamu cari pria lain saja. Pria itu lagian sudah memiliki seseorang yang Ia cinta. Menikah tanpa cinta akan membuat pernikahan kalian hambar." ujar Tuan Matthew. Ia sedikit peka dengan pemberitaan media akhir-akhir ini. Ia merasa Meyer tidak benar-benar mencintai putrinya. Apa lagi setelah pertunangan mereka beberapa bulan yang lalu. Ia melihat Meyer langsung meninggalkan acara itu tanpa menyapa mereka.


Tangan Katherine mengepal mendengar ucapan ayahnya. Ia berusaha menyembunyikan perasaan kesalnya.


"Katherine cuma mau Meyer! titik! Katherine tidak mau menikah dengan pria lain!" ujar Katherine.


"Dasar keras kepala!" dengus Tuan Matthew mengalihkan pandangannya memeriksa laporan keuangan rumah sakit yang Ia kelola.


"Oh iya! Pa, obat penggugur kandungan yang bagus itu merek apa?" tanya Katherine tiba-tiba membuat kedua orangtuanya terkejut.


"Untuk apa obat itu? apa kau hamil dengan pria lain?" celetuk Tuan Matthew meletakkan dokumen yang sedang Ia periksa dengan sedikit kuat.


"Bukan untuk Katherine, Pa!" ucap Katherine mencebikkan bibirnya sedikit kesal mendengar pertanyaan ayahnya.


"Jadi?" tanya Tuan Matthew menatap serius putrinya.


"Untuk teman Katherine." Bohong Katherine tersenyum tipis menyakinkan kedua orangtuanya.


Tuan Matthew menganggukkan kepalanya mendengar perkataan putrinya.


"Biasanya orang-orang menggunakan obat dengan zat aktif misoprostol untuk melakukan aborsi." tukas Tuan Matthew.


"Baiklah Pa, Ma. Katherine mau ke mall dulu." ujar Katherine mengecup pipi kiri-kanan kedua orangtuanya sebelum keluar dari ruangan kerja ayahnya.


Katherine terdiam sebentar di depan pintu sembari tersenyum menyeringai.


#


#


Meyer dengan telaten menyuapi Dena, karena kekasihnya itu tidak mau makan, kalau tidak disuapi.


"Aku udah kenyang! kamu habiskan ya!" ucap Dena menerima suapan terakhir dari Meyer.


"Baiklah. Apa kau mau makan yang lain? buah? cemilan, atau yang lainnya?" tanya Meyer menawarkan makanan yang mungkin Dena inginkan.


"Hem. Sekarang aku masih sangat kenyang." sahut Dena. Ia merasa perutnya sedikit sesak karena kekenyangan.


Meyer lalu meletakkan nasi kotak ayam bakar yang tadi di beli Meyer di seberang rumah sakit. Pria itu dengan hati-hati membantu sang kekasih bersandar di atas ranjang.


"Jangan dulu tidur. Karena kamu baru selesai makan." ujar Meyer menasehati kekasihnya. Ia lalu menyibakkan selimut yang menutupi perut Dena. Meyer mengelus lembut perut rata kekasihnya dan memberikan kecupan berulangkali disana.


"Anak Papa harus tumbuh sehat di dalam! jangan nakal dan jangan sungkan kalau mau minta sesuatu kepada Papa." sambung Meyer menegakkan tubuhnya. Ia kemudian menyelimuti tubuh Dena kembali.


#


#


Keesokan harinya


Dokter mengijinkan Dena pulang setelah infus yang terpasang di punggung tangannya habis. 30 menit yang lalu infus Dena sudah habis.


Meyer merapikan barang-barang milik sang kekasih dan memasukkannya ke dalam paper bag.


"Ger! bawakan barang-barang ini ke mobil!" perintah Meyer membantu sang kekasih melangkah keluar dari kamar inap VIP rumah sakit itu.


Gerry langsung mengangkat dan membawa barang-barang yang diminta Meyer untuk Gerry bawa. Sementara Meyer mengendong tubuh ramping Dena ala bridal style keluar dari rumah sakit.


Dena cukup risih dan kesal melihat tatapan memuja para dokter, perawat dan wanita yang berlalu lalang di rumah sakit itu. Mood Dena tiba-tiba berubah melihat Meyer tersenyum tipis membalas tatapan mereka.


...***Bersambung***...