
"Ya, Dena sedang mengandung calon pewaris tahta Lendsky."
"Apa!!" Sahara dan Dede terkejut mendengar perkataan Olivia. Namun, mengingat pergaulan bebas diluar negeri membuat mereka sadar.
"Lalu, mengapa pria itu tidak datang bersama kalian? Apa dia sudah memperlakukan kamu dengan buruk?" tanya Dede menatap wajah Dena dengan serius.
"Tidak, Pa. Karena aku kabar dari rumah." cicit Dena tiba-tiba menangis tersedu-sedu.
Sahara langsung memeluk tubuh bergetar putrinya. Baru saja mereka bertemu dan melepas rindu karena terpisah selama bertahun-tahun lamanya. Namun, mereka harus mendengar kabar tak menyenangkan dari putrinya.
"Dena..." lirih Dede dengan suara bergetar.
"Dia juga tidak tahu kalau aku sedang mengandung. Karena aku menyembunyikannya." cicit Dena lagi dengan pikiran kacau. Ia tidak mau keberadaan Katherine menjadi malapetaka bagi keluarganya.
"Aku tidak akan membiarkannya bertemu dengan mu dan juga cucuku. Papa bersumpah akan menjaga kalian dan membahagiakan kalian."
"Jangan menangis, Nak. Ada kami yang akan selalu menerima mu dengan lapang dada. Kami akan merawat mu meskipun suatu hari pria itu menolak keberadaan kalian." Dede mengecup kepala putrinya berulangkali.
"Pa..."lirih Dena merasa sedikit lega mendengar perkataan Dede. Ia mengira kedua orang tuanya akan malu mendengar kabar kehamilannya. Namun, ternyata dugaannya salah. Mereka malah menerima keadaan Dena dengan tangan terbuka.
"Mama juga akan menjaga kalian. Karena kehadiran kalian akan mengubah suasana rumah kita menjadi lebih berwarna lagi."
Dena tersentuh mendengar perkataan Sahara.
"Terima kasih, Ma, Pa." cicit Sahara merasa lega.
Olivia tersenyum hangat melihat senyuman bahagia di wajah kedua orangtuanya. Apa lagi keberadaan Dena ternyata membawa perubahan untuk keluarganya.
Olivia tiba-tiba berdehem kencang melihat ke so sweet keluarganya.
"Ah, Mama sampai lupa karena terlalu bahagia. Sini, sayang." panggil Sahara dengan suara serak.
Olivia langsung melangkah mendekati Sahara.
Sahara langsung merangkul pundak Olivia dan mengecup kepalanya berulangkali.
"Ternyata kedua putrinya Mama dan Papa sudah dewasa. Maafkan kami karena tidak bisa memberikan masa kecil yang bahagia. Kami tidak akan menjanjikan segala sesuatunya berjalan dengan sempurna. Tapi, mulai dari sekarang, kami akan selalu berusaha menjadi orang tua yang selalu ada disaat-saat tersulit kalian."
Mereka saling berpelukan sembari melepas rindu yang sudah lama terpendam.
"Sebaiknya kita makan siang terlebih dahulu. Papa juga mau mengajak kalian ke suatu tempat."
"Bagaimana dengan kesalahpahaman itu, Pa? Apa Papa akan tetap membiarkan kesalahpahaman ini berlarut-larut? Bagaimanapun untuk kedepannya kita akan terikat dengan keturunan Lendsky." ujar Olivia menatap Denada dengan sendu.
Kesalahpahaman ini tentu saja akan membawa kesalahpahaman lain ke dalam kehidupan Dena. Apa lagi dengan sifat keras kepala kakek Meyer. Kesalahpahaman itu akan sulit diselesaikan.
"Mungkin aku membutuhkan bantuan Meyer untuk menyelesaikan kesalahpahaman ini." cicit Olivia menunggu jawaban Denada.
"Tidak perlu. Karena Meyer sudah menyelidiki semuanya. Hanya saja Meyer belum menemukan orang yang mengambinghitamkan keluarga kita." jawab Dena dengan lirih.
"Apa kau yakin?" tanya Olivia memastikan perkataan Denada.
"Ya, aku yakin. Meyer pasti menyelidik peristiwa itu hingga akar-akarnya." jawab Denada penuh percaya diri. Ia yakin Meyer bukalah pria yang sembrono dalam mencari sebuah kebenaran.
"Baiklah." kata Olivia tersenyum lega.
Sahara tersenyum hangat melihat keakraban putrinya. Begitu juga dengan Dede. Ia mengecup kening istrinya mengucap syukur atas kembalinya Denada. Ia juga tidak lupa mengecup kepala kedua putrinya secara bergantian.