YOUR LOVE HURTS ME

YOUR LOVE HURTS ME
Bab 47 KML Part 5



Deven melanjutkan perjalanannya kembali ke ibukota Bogota.


Lima jam kemudian menempuh perjalanan, Deven akhirnya tiba di ibukota Bogota, tepatnya di mansion Lendsky.


Mansion Tuan Lendsky terlihat sudah dipenuhi oleh keluarga inti, seperti keluarga besar Lendsky dan keluarga Miller.


Beberapa orang menangis terisak-isak disamping jenazah. Dan beberapa lagi hanya diam dan menatap sendu ke arah peti itu. Mereka tidak tahu harus berekspresi seperti apa.


Mendengar kabar kepergian tiba-tiba sang ibu, anak dan sepupu, membuat hati mereka nyeri. Menangis pun rasanya sudah tidak sanggup lagi. Mungkin Tuhan lebih sayang kepada mereka.


Sementara Tuan Lendsky tidak berekspresi apa-apa di depan jenazah istri, anak dan menantunya. Namun kepalan tangan itu membuktikan apa yang sedang pria itu rasakan. Pria setengah baya itu sedang menahan amarahnya. Mereka tidak tahu, pria itu marah kepada siapa.


#


#


Tangisan seorang anak laki-laki mengalihkan perhatian mereka.


"Huaaaa!!"


"Mama! Papa! bangun!" teriak anak itu menangis tersedu-sedu di samping peti mati kedua orangtuanya.


"Meyer tidak mau ditinggal sendiri.... kalian harus bangun." ucap anak itu menarik-narik tangan ibunya. Tak ada jawaban atau respon dari ibunya. Tubuh kaku itu tetap diam seperti patung.


"Papa! bangunin Mama, Meyer mau dimasakin makan kesukaan Meyer." ucap anak itu menatap sang ayah. Namun tak ada respon sama sekali.


Pandangannya beralih kearah peti mati Grandma-nya. "Grandma, ayo bangun! mama dan papa tidak mau bangun! marahi mereka Grandma. Meyer mau dimasakin sarapan pagi dan juga Meyer mau jalan-jalan bersama mereka." ucap anak itu lagi menarik-narik tangan neneknya. Namun perempuan setengah baya itu juga tidak merespon.


Keluarga Lendsky dan Miller terdiam mendengar ucapan Meyer. Mereka speechless, tidak tahu harus berkata apa. Mereka takut kematian kedua orang tua Meyer akan mempengaruhi psikisnya.


"Grandpa! Mama, Papa dan Grandma, kenapa tidak bangun? apa mereka sedang mengerjai Meyer?" tanya pria itu dengan polos.


Tuan Lendsky mendekap tubuh kecil itu dengan erat. Pria itu tiba-tiba menangis kencang mendengar pertanyaan polos sang cucu. Ia tidak tahu harus berkata apa.


"Meyer.... ma-maafkan Grandpa. Maafkan Grandpa tidak bisa menyelamatkan mereka." ucap pria itu terisak-isak.


"Opa bohong! Mama, Papa dan Grandma, hanya bercanda! mereka sedang mengerjai Meyer." sela anak itu tidak percaya.


"Hua!!!"


"Mama, Papa, Grandma!!"


"Kalian jahat! kalian meninggalkan Meyer sendirian! kalian jahat! Meyer tidak mau bertemu kalian lagi!" ancam Meyer berlari menuju kamarnya.


Para pelayat terkejut mendengar perkataan Meyer. Mereka sangat kasihan melihat anak sekecil itu harus ditinggal mati oleh orangtuanya.


"Turut berdukacita kak. Jangan berlarut-larut dalam kesedihan. Aku yakin kakak ipar, Enzo, dan menantu kita sudah tenang di alam sana." ucap sepupu Tuan Lendsky.


"Terima kasih, Khrisna." balas Tuan Lendsky tanpa ekspresi.


Para pelayat lainnya juga ikut menyampaikan belasungkawa atas peristiwa yang menimpa keluarga Tuan Lendsky.


#


#


" Mahesa sudah waktunya mereka di makamkan. Kita harus merelakan mereka, agar mereka tenang di sorga. Sekarang kau masih punya tanggung jawab. Ingat, kau juga harus merawat cucu kita." ucap ayah Marisa Miller menepuk bahu sahabatnya.


"Kita tidak bisa menghindari takdir Mahesa. Itulah yang ku alami, ketika istriku meninggal setelah melahirkan putriku."


"Kita hanya perlu fokus merawat Meyer, cucu kita." sambung ayah Marisa.


"Kau benar." singkat Tuan Lendsky.


2 jam kemudian, proses pemakaman telah berjalan dengan lancar. Mereka di makamkan di halaman mansion belakang. Tuan Lendsky tidak mau jauh dari istri, anak dan menantunya. Meskipun wujud mereka tidak bisa lagi pria itu lihat.


#


#


Mereka kembali ke dalam mansion


Meyer kecil sudah duduk di sofa menunggu kepulangan mereka. Wajah anak itu terlihat pucat pasi menatap kearah mereka.


"Grandpa, Meyer bermimpi kalau Mama, Papa dan Grandma meninggalkan Meyer." gumam anak itu.


Namun tak beberapa lama tubuh anak itu tiba-tiba menggigil.


Tuan Lendsky dan yang lain, terkejut melihat tubuh menggigil Meyer. Tuan Lendsky tidak tahu harus berbuat apa, ketika merasa tubuh cucunya menggigil kedinginan. Padahal suhu di kota Bogota tidak dingin, karena disana masih musim kering.Tuan Lendsky memeriksa suhu tubuh cucunya sekali lagi. Matanya membesar, tiba-tiba suhu tubuh Meyer sangat panas.


"Cepat panggilkan dokter." perintah Tuan Lendsky meninggalkan suaranya.


Semua tamu yang hadir melayat di Mansion Tuan Lendsky. Tiba-tiba mengeluarkan ponsel mereka bersamaan.


"Biarkan saya saja yang menghubungi dokter Tuan-tuan dan Nyonya-nyonya." ucap Deven setibanya di dalam mansion.


Semua tamu yang melayat menghentikan pergerakan mereka. Mereka bernapas lega melihat kedatangan anak buah Tuan Lendsky.


"Dokter Riyan ke datanglah ke mansion Tuan Lendsky. Tuan muda kecil tiba-tiba demam tinggi." ucap Deven.


"Jangan lama-lama. Kalau sampai Tuan muda kecil kenapa-napa. Kepalamu yang akan kami penggal." sambung Deven mengancam dokter Riyan.


20 menit kemudian, seorang pria kita-kira berusia 35 tahun melangkah masuk ke dalam mansion. Terlihat jejak keringat membasahi wajahnya. Pria itu terdiam lama melihat para pelayat menatap kearahnya. Ia memperhatikan lengan jas-nya, tidak ada yang salah sama sekali. Namun bukan itu yang menjadi pusat perhatian para pelayat. Mereka terkejut melihat Riyan hanya mengenakan celana bokser, tanpa celana panjang.


"Apa Anda baru selesai bercinta, Tuan?" tanya seorang wanita muda berusaha menahan tawanya.


Mata para pelayat membesar mendengar pertanyaan wanita berusia 28 tahun itu.


...***Bersambung***...