YOUR LOVE HURTS ME

YOUR LOVE HURTS ME
Bab 78



Dena dengan cepat berlari mengangkat tubuh gemuk Richardo.


"Tenang, Sayang.... Jangan menangis... Mama akan membawamu keluar dari tempat ini." cicit Dena dengan suara bergetar. Ia menoleh kesana-kemari memperhatikan sekitarnya. Dena bernapas lega ketika sampai diluar lorong tersebut. Ia melihat beberapa pengawal Katherine berlari masuk ke dalam rumah Mega tersebut.


Dena dengan cepat melangkah pelan menjauh dari tempat tersebut. Dena melalui sebuah sungai yang cukup jernih. Tak ada lampu penerang yang menerangi langkahnya. Hanya sinar bulan malam yang membantunya melewati semak-semak berduri tersebut.


"Sayang, apa kamu haus? Tunggu sebentar ya. Mama akan berusaha mendapatkan air untukmu."ujar Dena menepuk-nepuk pelan bokong putranya.


Setelah dua jam berjalan melewati pepohonan dan semak berduri. Dena dan Richardo tiba di sebuah gubuk kecil yang tak terlalu jauh dari sebuah sungai kecil. Ia dengan cepat melangkah mendekati gubuk tersebut.


Tok


Tok


Tok


"Hallo, apa ada orang." panggil Dena dari luar gubuk. Namun, tak ada sahutan dari dalam gubuk. Dena berpikir mungkin tidak ada orang. Tanpa berlama-lama Dena langsung masuk ke dalam gubuk tersebut.


"Ini hanyalah sebuah gubuk yang terbengkalai. Aku yakin gubuk ini sudah lama tidak berpenghuni. Aku akan meminta bantuan Olivia bersembunyi dari meyer maupun Katherine." cicit Dena menatap wajah pucat Richardo.


"Sabar ya, Sayang... Mama akan menghangatkan tubuh kamu." Dena mendekap tubuh Richardo dengan lembut.


Tak beberapa lama terdengar suara guntur dari luar rumah. Tiba-tiba hujan deras dan angin kencang melanda hutan tersebut. Dengan perasaan cemas sekaligus takut, Dena semakin dalam memeluk tubuh Richardo. Richardo terlihat sangat nyaman berada di pelukan Dena. Anak itu sangat anteng dan tetap diam membisu di dalam pelukan sang ibu.


"Jangan takut, Mama akan melindungi mu." bisik Dena mengelus lembut rambut putranya.


Hujan deras diluar sana tak kunjung reda. Hingga membuat Dena tertidur pulas bersama Richardo.


Tepatnya jam 3 subuh, seorang pria melihat gubuk itu dari kejauhan. Ia dengan cepat melangkah mendekati gubuk itu dalam menatap tubuh meringkuk Dena di atas lantai gubuk. Perasaan bersalah melingkupi hatinya.


"Sayang, maafkan aku. Maafkan aku datang terlambat." bisik pria itu mengelus lembut kepala Dena.


"Tuan...."


"Jangan berisik..." jawab Meyer dengan suara pelan.


Dengan hati-hati Meyer melepaskan Richardo dari dekapan Dena. "Bawa Tuan kecil ke mobil." ujar Meyer menyerahkan Richardo ke dekapan pria itu.


Tak beberapa lama, Meyer mengendong tubuh Dena. Ia kemudian melangkah menjauh dari gubuk tersebut.


Meyer membaringkan tubuh Dena di kursi penumpang. Sementara Richardo sudah ada di pangkuannya tertidur lelap.


"Hancurkan kediamannya. Dan bawa wanita itu ke markas. Habisi siapapun yang menghalangi tugas kalian." ujar Meyer dengan wajah yang menyeramkan.


"Bagiamana dengan Damian?" tanya Ardan melirik sekilas kearah Meyer.


"Asingkan penghianat itu, setelah tugasnya selesai." ujar Meyer menarik tubuh Dena ke dalam pelukannya.


"Jalan." perintah Meyer dengan wajah datar.


Ceklek


Tatapan Meyer dan Dena bertemu. Meyer tersenyum hangat menatap kekasihnya. Sementara Dena menatap Meyer dengan perasaan campur aduk. Antara benci, kesal, marah dan cinta. Semua itu menjadi satu.


"Bagaimana keadaan kamu? Apa kamu baik-baik saja?" tanya Meyer mengendong Richardo mendekati Dena.


Dena malah melangkah mundur melihat Meyer. Pikirannya masih dihantui dengan video asusila yang dilihatnya kemaren. Dena dengan cepat masuk ke kamar dan menguncinya.


Meyer tentu saja terkejut melihat respon tak biasa Dena.


Tok


Tok


Tok


"Dena, Sayang, Apa kamu baik-baik saja?" Meyer tiba-tiba cemas dengan perubahan ekspresi wajah Dena ketika melihatnya.


"Pergi! Aku tidak mau melihat wajahmu!" teriak Dena dengan suara bergetar.


Meyer semakin bingung mendengar perkataan Dena.


"Apa kamu lebih percaya kepada orang lain, ketimbang memercayai ku yang sudah lama bersamamu?" tanya Meyer dengan sabar.


"Mulai sekarang aku tidak akan mempercayai mu lagi!" bentak Dena tidak mau membuka pintu untuk Meyer.


"Apa kamu tidak mau melihat Richardo juga? Putra kita sedari tadi mencarimu." bujuk Meyer memahami tingkah Dena.


"Aku akan meminta Arden yang memberikan Richardo kepadamu." tambah Meyer sebelum menjauh dari kamar yang ditempati Dena.


Dan benar saja. Tak beberapa lama, Arden mendekati kamar itu sembari mengendong Richardo. Sementara Meyer terlihat sudah rapi dan berniat keluar dari kediamannya.


"Nona muda, Tuan kecil ingin bertemu." ujar Arden dari depan pintu kamar.


"Apa Tuan mu masih ada di depan?" tanya Dena dari dalam kamar.


"Tuan sudah pergi, Nona." jawab Arden dengan sabar.


Dengan wajah cemberut Dena mengintip keluar pintu dari sela-sela pintu kamar yang terbuka sedikit. Dan benar saja, hanya ada Richardo dan Arden di depan pintu.


"Kemana dia pergi?" tanya Dena sedikit kepo.


"Ah, pasti bertemu dengan wanita itu. Tidak dijawab pun, aku juga sudah bisa menebaknya." sela Dena menjawab pertanyaannya sendiri.


Dena dengan cepat mengendong putranya ketika melihat kedua mata itu sudah berkaca-kaca. Apa Meyer sudah tahu mengenai kehamilan Dena? maka jawabnya tidak tahu. Karena Gerry belum ditemukan sampai sekarang. Sementara Damian masih sibuk menyelesaikan pekerjaan yang diberikan Meyer. Pria itu mengira jika Dena akan menyampaikannya sendiri setelah bertemu dengan sang bos.