
"Apa Anda tidak melihat kedua pipi sahabat saya bengkak dan memerah?" sindir Olivia menatap sinis kearah Diego dan Katherine.
"Mentang-mentang sering tidur sama, kesannya malah membela yang salah!" sambung Olivia menyindir Diego. Membuat suasana di ruangan itu semakin menegangkan.
Diego cukup terkejut mendengar perkataan modelnya. Olivia ternyata sudah berani menyindirnya secara langsung.
Sementara para karyawan perusahaan diluar sana saling berbisik-bisik mendengar perkataan Olivia.
Suara benda jatuh menghentikan obrolan mereka dari situasi menegangkan itu.
"Kau--" suara benda jatuh menghentikan ucapan Diego.
BUG
"Dena!!" teriak Olivia melihat Dena tiba-tiba pingsan jatuh ke lantai.
"Tolong angkat tubuh Dena ke mobilku!!" teriak Olivia dengan suara bergetar.
Fotografer yang biasa memotret mereka tiba-tiba masuk ke dalam melewati karyawan yang lain. Pria itu langsung mengangkat tubuh Dena ala bridal style menuju mobil Olivia.
"Aku akan membalas mu Katherine!!" ancam Olivia sebelum keluar dari ruangan itu.
Di luar ruangan
Gina cukup terkejut melihat fotografer profesional perusahaan itu mengendong tubuh Dena ala bridal style.
"Oliv! apa yang terjadi? mengapa Dena tiba-tiba digendong keluar?" tanya Gina cukup khawatir.
"Dena pingsan karena didorong Katherine. Kepala belakang Dena sepertinya terbentur kaca panjang yang ada di ruangan ganti." celetuk Olivia dengan mata berkaca-kaca.
"Saya mau membawa Dena ke rumah sakit. Tolong pemotretan hari ini diundur sampai Dena sembuh." sambung Olivia meninggalkan keterkejutan Gina.
#
#
Di rumah sakit
Dena langsung dimasukkan ke unit gawat darurat setibanya di rumah sakit. Dokter langsung memeriksa Denada. Tidak lupa mereka juga melakukan scan X-ray kepala Dena. Karena sebelum masuk ke ruangan pemeriksaan. Olivia terlebih dulu menceritakan mengapa Dena bisa pingsan.
Sementara di perusahaan Meyer
Pria itu masih bergelut dengan dokumen-dokumen penting yang baru saja di antar Gerry ke ruangannya. Namun tak beberapa lama, Gerry kembali masuk ke ruangan Meyer melangkah tergesa-gesa. Wajah pria itu terlihat gusar sekaligus khawatir.
Tok Tok Tok
"Tuan!" panggil Gerry mendekati meja kerja Meyer.
"Hem! kenapa Ger?" tanya Meyer tanpa mengalihkan pandangannya dari dokumen-dokumen yang harus pria itu tandatangani.
"Nona---"
"Nona siapa?" tanya Meyer menghentikan pekerjaannya.
"Nona Dena masuk rumah sakit setelah bertengkar dengan Katherine." ucap Gerry takut-takut.
"Apa!!!" teriak Meyer berdiri dari duduknya meninggalkan pekerjaannya. Pria itu langsung berlari keluar dari ruangannya, tanpa bertanya terlebih dahulu mengenai informasi rumah sakit mana Dena dirawat.
Gerry lalu mengejar langkah Meyer setelah mengunci pintu ruangan CEO.
#
#
Di rumah sakit
Keringat sebiji kacang tanah membanjiri wajah Meyer setelah 30 menit berkendara di jalan raya. Meyer melihat Olivia duduk di depan UGD sembari menutup kedua wajahnya.
"Olivia!" panggil Meyer mendekati kursi tunggu.
"Mengapa kau kemari?" tanya Olivia tanpa menatap kearah Meyer.
"Bagiamana keadaan Dena?" tanya Meyer menghiraukan pertanyaan Olivia.
"Apa kau belum puas menyakiti Dena?" tanya Olivia tiba-tiba berdiri dari duduknya. Ia menatap Meyer dengan tajam.
"Jika kau ingin Dena bahagia! maka menjauh lah dari hidupnya!" bentak Olivia menatap sinis Meyer.
"Aku tidak akan pergi dari hidup Dena! hanya aku satu-satunya pria yang bisa membahagiakannya!" ujar Meyer yakin.
Tak beberapa lama seorang dokter keluar dari UGD. Olivia langsung melangkah mendekati dokter itu, menanyakan bagaimana keadaan Denada.
"Dokter! bagaimana keadaan Denada?" tanya Olivia ingin tahu.
"Pasien--"
...***Bersambung***...