
Selama seminggu ini, Meyer jarang di rumah karena merawat Kakeknya di rumah sakit. Dena tidak pernah keluar rumah selama seminggu ini. Ia tidak mungkin pergi ke rumah sakit membawa Richardo, karena bayi itu masih berusia sepuluh bulan lebih.
Ting
Tong
Tiba-tiba terdengar suara bel dari luar rumah.
Cklek
Dena melihat anak buah Meyer berdiri di hadapannya membawa sebuah kotak besar. Dahi Dena langsung berkerut melihat kotak yang diangkat anak buah Meyer.
"Ini untuk siapa, Pak?" tanya Dena menatap pria berusia 35 tahun itu.
"Saya tidak tahu, Nona. Kurirnya bilang, kotak ini dari mantan rekan kerja, Nona." kata pria itu.
Entah mengapa perasaan Dena tiba-tiba cemas melihat kotak itu. Karena kotak itu, sama persis dengan gambar foto kotak yang dikirim si peneror.
"Coba bapak sendiri yang buka kotak itu." kata Dena dengan tangan gemetaran.
Dena lalu mengamati lingkungan sekitar halaman rumahnya. Tidak ada orang yang mencurigakan disana. Hanya beberapa orang anak buah Meyer yang berjaga-jaga di depan gerbang depan dan gerbang belakang.
Anak buah Meyer dengan hati-hati memeriksa isi dari kota itu. Ia mencium aroma bau amis dari dalam kotak itu.
Dena tiba-tiba berteriak histeris, melihat isi kotak itu. Rasanya perutnya tiba-tiba diaduk-aduk.
Hoek
"Pak, buang kotak itu ke tempat sampah." pinta Dena membekap mulutnya. Ia berlari masuk ke dalam rumah, mencari-cari kamar mandi terdekat.
Hoek
Hoek
Hoek
Anak buah Meyer ikut terkejut melihat isi kotak itu. Isinya adalah seekor kucing yang sudah dimutilasi dan dimasukkan ke dalam kotak. Tercium jelas aroma bau amis bercak darah dari dalam kotak. Anak buah Meyer langsung mengadu kepada Meyer mengenai teror yang dialami Dena. Karena anak buah Meyer sudah terbiasa dengan kekejaman dunia bawah. Dugaannya, musuh yang meneror Dena, bukan orang sembarangan.
Tak beberapa lama, Meyer tiba di kediamannya. Ia bergegas langsung masuk ke dalam rumah memastikan keadaan Dena dan putranya.
"Sayang...." panggil Meyer tergesa-gesa mengitari dapur, ruangan tamu dan kamar tidur. Ia melihat pintu kamar mandi dapur terbuka lebar. Meyer bergegas masuk ke dalam kamar mandi. Ia melihat Dena terduduk di atas closed duduk.
"Apa kamu baik-baik saja?" tanya Meyer berjongkok di depan Dena. Ia melihat raut wajah kekasihnya sudah pucat pasi. Bukan hanya itu, tangan Dena juga terasa dingin ketika Meyer menggenggamnya.
"Tidak usah takut, mereka hanya menggertak. Ada aku disamping kamu, dan ada malaikat kecil kita." sambung Meyer. Meyer mengangkat tubuh Dena menuju lantai atas. Ia tahu Dena masih ketakutan dengan teror hari ini.
Meyer membaringkan tubuh kekasihnya di atas tempat tidur. Meyer juga menyelimuti tubuh Dena agar tubuh dingin itu, kembali hangat. Meyer menemani Dena, hingga wanita itu tidur lelap.
"Sepertinya Dena harus diajari ilmu bela diri. Aku yakin sewaktu-waktu saat aku lengah, psikopat itu akan bertindak." gumam Meyer mengepalkan tangannya. Tangisan Richardo menarik atensi Meyer. Pria itu langsung berdiri dan melangkah kearah boks tempat tidur Richardo.
"Sayang... kenapa, Hem? apa kamu sudah haus?" tanya Meyer mengendong putranya. Meyer tersenyum manis melihat bola mata hitam pekat itu mengarah menatapnya.
Meyer mengalihkan atensinya menatap kekasihnya. Ternyata Dena tidak terusik dengan suara rengekan putra mereka. Meyer membawa Richardo ke lantai satu. Ia ingin membuatkan susu untuk putranya.
Meyer menuangkan tiga sendok susu ke dalam gelas dan menuangkan sedikit air panas. Meyer mengaduk susu dan air mendidih, hingga tercampur merata. Meyer lalu menuangkan susu itu ke dalam dot dan mencampurkan sedikit air dingin ke dalam dot.
"Apakah ini masih panas?" gumam Meyer mengecek suhu susu yang ada di dalam dot. Ia meneteskan beberapa tetes susu di punggung tangannya.
"Sepertinya aku harus menambah sedikit air dingin lagi, karena ini masih terlalu panas untuk anak seusia Richardo." timpal Meyer setelah mengecek suhu susu itu.
Saat merasa susu itu sudah tidak panas lagi, Meyer memberikan dot itu kepada putranya.
"Bagaimana? apa rasanya sama dengan susu buatan Mama?" tanya Meyer tersenyum hangat menatap putranya.
Richardo tersenyum lebar memperlihatkan beberapa gigi kecilnya. Ia merasa disayangi melihat wajah dan tatapan hangat Meyer.
...***Bersambung***...