YOUR LOVE HURTS ME

YOUR LOVE HURTS ME
Bab 18 Bunuh Diri



Keesokan harinya


Meyer terbangun dari tidurnya, tanpa mengenakan sehelai benangpun ditubuhnya. Hanya selimut tipis yang menutupi tubuh polosnya. Pria itu mengerjapkan matanya berulangkali memastikan penglihatannya. Ia mendudukkan tubuhnya di sofa sembari memijit pelipisnya.


"Sepertinya aku terlalu banyak mengonsumsi alkohol kemaren malam.." ucapnya dengan lirih. Ia belum sadar, kalau tubuhnya masih polos dan tidak mengenakan sehelai benangpun.


Meyer lalu berdiri dari duduknya ketika merasa sedikit haus. Sensasi dingin yang menerpa kulitnya, membuat Meyer langsung tersadar. Pria itu lalu mengalihkan pandangannya meneliti tubuhnya. Kedua bola matanya membesar melihat tubuh polosnya.


"Apa yang sudah terjadi tadi malam?" tanya Meyer dengan lirih. Ia lalu mengalihkan pandangannya menatap kembali kearah sofa.


Dengan cepat Meyer mengambil selimut tipis yang ada diatas sofa. Pria itu lalu membalut tubuhnya menggunakan selimut tersebut.


"Apa aku sudah melakukan kesalahan besar?" tanya Meyer lagi sedikit cemas. Ia takut kejadian sebelum -sebelumnya terjadi lagi. Dengan tergesa-gesa Meyer melangkah menuju kamar Dena.


Meyer tidak melihat keberadaan Dena di dalam kamar. Namun suara air tumpah dari dalam kamar mandi menarik perhatian Meyer. Tanpa berlama-lama, Meyer langsung membuka pintu itu.


CKLEK!


BRAK!!!


Meyer terdiam kaku melihat Dena tengelam di dalam bathtub. Dena sudah tidak sadarkan diri tengelam di dalam bathtub. Air di dalam bathtub juga berubah menjadi warna merah darah. Meyer menurunkan pandangannya ke lantai. Ia terkejut melihat pecahan gelas kaca sudah berserakan di lantai kamar mandi. Tanpa memperdulikan penampilannya yang masih polos. Karena belum mengenakan pakaian sehelai benangpun. Meyer langsung berlari masuk ke dalam kamar mandi. Pria itu dengan tangan gemetaran, langsung menganggap tubuh Dena keluar dari bathtub.


Meyer langsung membopong tubuh Dena keluar dari kamar mandi. Pria itu lalu meletakkan tubuh Dena di atas ranjang. Dengan tangan gemetaran, Meyer memeriksa denyut nadi Dena.


"Lemah...." lirihnya langsung mencari-cari keberadaan ponselnya.


"Sial!!" umpat Meyer berlari keluar dari kamar Dena. Pria itu lalu merogoh kantong celananya mencari-cari ponselnya. Setelah menemukan ponselnya, Meyer langsung menghubungi unit gawat darurat rumah sakir.


"Hallo sekarang datang ke apartemen jalan------"


"Jangan pakek lama! karena kondisi pasien sangat kritis!!!!" ucap Meyer penuh penekanan.


#


#


Meyer langsung keluar dari apartemen mengikuti para petugas, setelah memastikan barang-barang bawaannya.


"Hallo Gerry brengsek!! sekarang juga temui aku di rumah sakit!!!" teriak Meyer langsung mematikan panggilannya tanpa menunggu jawaban dari sang Asisten.


#


#


Di rumah sakit


Dena langsung dimasukkan ke ruangan UGD setelah kehilangan banyak darah. Meyer cukup ketar-ketir melihat lampu ruangan UGD dari sejam yang lalu masih berwarna merah. Tak beberapa lama seorang perawat keluar dari dalam ruangan UGD.


"Bagaimana keadaan kekasih saya suster?" tanya Meyer dengan suara serak. Pria itu sedari tadi cukup khawatir dengan keadaan Dena. Meskipun pria itu sudah terbiasa melihat darah menempel ditangannya. Tapi tidak dengan darah yang mengalir dari tubuh kekasihnya. Semua itu karena Ia sangat takut kehilangan Dena.


"Tuan, kekasih Anda kehilangan banyak darah sehingga kami kekurangan stok darah golongan darah AB." ujar perawat itu.


"Ambil darah saya saja suster, kami memiliki golongan darah yang sama." celetuk seorang wanita tiba-tiba mengenggam tangan Meyer.


Sementara Meyer terkejut melihat tunangannya ada di sampingnya.


"Siapa yang menyuruhmu datang kesini!!" bentak Meyer penuh penekanan.


"Rumah sakit ini adalah milik keluargaku! jadi aku memiliki hak dong datang kemari!" ucap Katherine melipat kedua tangannya di depan dadanya.


"Apa Anda serius Nona dengan ucapan Anda sebelumnya? kita tidak memiliki banyak waktu mencari orang yang bersedia mendonorkan darahnya kepada kekasih Tuan ini. Kita harus secepatnya menolong nyawa Nona itu sebelum napasnya berhenti berhembus." celetuk perawat itu menghentikan pertengkaran mereka berdua.


"Aku mau mendonorkan darahku kepada Denada, asalkan kau mau menuruti dua permintaan ku!" ucap Katherine tersenyum licik tidak mau rugi.


"Apa kau sedang mencoba mencari kesempatan dibalik duka orang lain? betapa egois dan liciknya kau menjadi seorang wanita!!" bentak Meyer menatap Katherine tajam.


"Tuan waktu terus berjalan! apa Anda mau kekasih Anda kehilangan nyawanya?" tegur perawat itu cukup jengah mendengar pertengkaran antara Meyer dan Katherine.


...***Bersambung***...