
"Pak, seperti ada yang mengikuti kita." ujar Dena dengan mimik wajah tenang.
Anak buah Meyer langsung mengalihkan pandangannya menatap kaca spion. "Anda benar, Nona." sahut pria itu dengan wajah gusar.
"Pak, sebaiknya kita putar arah saja. Saya takut mereka memiliki niat jahat." ujar Dena tetap tenang. Ia tidak memikirkan nyawanya, malah memikirkan nyawa orang lain. Meskipun besar kemungkinan hari ini dia akan mati. Ia sudah pasrah, karena tidak akan ada orang yang menangisi kepergiannya.
Anak buah Meyer langsung membanting setir ke arah kanan, lalu memutar arah jalur kemudi. Sementara mobil hitam yang mengikuti mereka, ikut memutar arah jalur mobil yang mereka tumpangi. Mereka langsung tancap gas mengikuti mobil yang ditumpangi Dena.
"Nona, pasang sabuk pengaman yang di kursi penumpang. Saya akan menaikkan kecepatan kendaraan diatas rata-rata." kata anak buah Meyer. Ia masih ingat jelas peringatan Meyer sebelum mengantar Dena ke panti asuhan. Ia masih sayang dengan nyawanya. Ia tahu bagaimana kejamnya Meyer di dunia bawah.
Mobil hitam yang mengikuti mobil mereka, berusaha menabrak mobil yang ditumpangi Dena ke tepi jurang.
"Sepertinya mereka memiliki niat terselubung, Nona." ujar anak buah Meyer tetap fokus menatap jalan di depan sana.
"Dia berniat membunuh saya, Pak. Bukan nyawa bapak yang mereka incar, tapi nyawa saya."kata Dena tersenyum miris. Ia sudah dipisahkan dengan kedua orangtuanya secara paksa. Ia juga harus kehilangan putranya, karena obsesi wanita lain. Dan terakhir.... orang itu ingin menghilangkan nyawanya secara paksa juga. Nasib kejam mana lagi yang akan datang ke dalam hidupnya pikir Dena.
Anak buah Meyer terkejut mendengar perkataan Dena. Ia tidak menyangka wanita sebaik Dena juga memiliki musuh. Padahal Dena merupakan kekasih Meyer, pria yang ditakuti oleh penduduk Kolombia.
Anak buah Meyer langsung mengaktifkan akses GPS mobil yang dikendarainya. Ia juga mengirim sinyal bahaya kepada anak buah Meyer yang lainnya. Ia tidak mungkin melawan pembunuhan bayaran itu dengan tenaga dalam. Ia yakin pembunuh bayaran itu memiliki senjata. Tak beberapa lama terdengar suara letusan tembakan dari belakang mereka.
Dor
Dor
Dor
"Merunduk, Nona!!" pinta anak buah Meyer semakin ketar-ketir. Ia tidak takut dengan nyawanya. Tapi, ia takut dengan keadaan Dena nantinya. Sejam kemudian mereka akhirnya tiba di lingkungan penduduk. Akhirnya anak buah Meyer bisa bernapas lega.
"Apa anda baik-baik saja, Nona?" tanya anak buah Meyer melirik sekilas kearah kaca spion.
"Say-saya baik-baik saja, pak." sahut Dena dengan suara bergetar. Tubuhnya benar-benar gemetaran. Ia tidak sanggup lagi beranjak dari kursi penumpang, karena kakinya terasa mati rasa. Apa lagi Dena masih dalam keadaan nifas. Bisa saja sewaktu-waktu bekas jahitan itu terbuka kembali, karena terlalu lama merunduk.
Anak buah Meyer tetap melanjutkan kendaraannya kembali menuju kota. Ia tidak mau Dena kenapa-napa, setelah mendengar perkataan Dena.
Sementara di sisi lain
Meyer memerintahkan beberapa anak buahnya melacak keberadaan mobil yang ditumpangi Dena.
"Tuan, sepertinya Arden mengirim sinyal bahaya ke komputer kita. Mereka sudah putar arah balik ke kota, Tuan."kata pria itu memperbesar lokasi GPS keberadaan mobil yang dikendarai Arden.
"Kau culik Katherine, dan bawa wanita j4l4n9 itu ke markas!" perintah Meyer keluar dari markas mafia Devils. Meyer merasa darahnya tiba-tiba mendidih. Bukan hanya itu, emosi pria itu juga sudah sampai di ubun-ubun. Entah mengapa Katherine tidak kunjung menyerah dengan obsesinya.
...***Bersambung***...