
"Apa kamu pikir hanya kamu yang terluka disini? Hem...."
"Apa kamu mengira aku juga tidak terluka dengan kepergian putra kita?"
"Aku juga terluka Dena!" ucap Meyer mendekap erat tubuh Denada.
"Apa kamu hanya memikirkan bagaimana perasaan mu, tanpa memikirkan bagaimana perasaanku?" Meyer menatap kedua mata kekasihnya.
"Apa kamu tidak memikirkan bagaimana perasaan ku nanti setelah kepergian kamu? aku juga terluka dan sedih atas meninggalnya putra kita. Tapi hatiku juga akan semakin terluka, kalau kamu juga ikut pergi meninggalkan aku sendirian, Dena." kata Meyer meneteskan air mata.
"Apa kamu tidak bisa mempertimbangkan perasaanku? aku mohon tetaplah disisi ku." mohon Meyer menatap dalam kedua mata kekasihnya.
"Aku ingin hidup damai Meyer. Aku lelah hidup seperti ini. Aku ingin berhenti jadi model. Aku ingin kembali ke panti asuhan. Aku ingin mencari ketenangan disana. Waktu belum tentu bisa mengobati luka ini. Aku merasa hubungan kita lama kelamaan semakin hambar."
"Aku merasa kehilangan jati diriku setelah bertahun-tahun tinggal disini. Aku ingin hidup tenang, dan jauh dari masalah." seru Dena dengan mata berkaca-kaca.
"Meyer.... jika kau mencintaiku....maka tolong lepaskan aku. Biarkan aku pergi." pinta Dena dengan suara bergetar.
"Tidak boleh! kamu tidak boleh meninggalkan ku. Aku tidak mau jauh darimu, Denada. Tolong mengertilah dengan perasaan ku."mohon Meyer mendekap Dena. Ia tidak bisa hidup ataupun tinggal jauh dari Dena. Ia ingin Dena selalu di sisinya.
Dena lelah berbicara terlalu banyak kepada Meyer. Karena pria itu tetap kekeuh dengan ucapannya. Pria itu terlalu egois dan hanya mementingkan perasaannya saja. Padahal hati Dena yang lebih terluka disini. Dipisahkan secara paksa dengan orang tua kandungnya. Dan ditinggal mati oleh putranya. Psikis Dena juga bisa terguncang, kalau terus-menerus berada di sisi Meyer.
"Mari kita pulang...." ucap dena dengan lirih.
Meyer langsung melepaskan dekapannya mendengar ucapan kekasihnya. Ia membantu Dena beranjak dari sofa.
"Apa bekas operasinya masih sakit?" tanya Meyer menatap kearah perut kekasihnya.
"Hanya sedikit ngilu."
Gerry membukakan pintu untuk Dena, sementara Meyer membantu istrinya naik ke mobil.
Meyer dan Dena sudah duduk di kursi penumpang. Sementara Gerry melirik sekilas kearah kursi penumpang menatap Dena dan Meyer bergantian.
"Kita mau kemana, Tuan?" tanya Gerry menunggu instruksi dari Meyer.
"Apa kamu mau makan sesuatu?" tanya Meyer mengenggam tangan Dena.
"Aku mau langsung pulang saja. Aku mau langsung istirahat." sahut Dena bersandar di kursi. Ia langsung memejamkan kedua matanya.
"Kita langsung pulang saja." ujar Meyer tanpa melepaskan genggamannya dari tangan Dena.
Gerry langsung menghidupkan mobil yang mereka tumpangi dan meninggalkan bangunan minimalis itu. Suasana di dalam mobil sangat hening. Hanya suara mesin mobil yang terdengar di telinga mereka.
Dua jam kemudian, mobil yang mereka tumpangi tiba di lobi apartemen.
"Ger.... aku masih cuti, ya. Jangan lupa datang besok rapat." ujar Meyer menatap asistennya.
Meyer melihat Dena masih memejamkan kedua matanya. Tanpa membangunkan Dena terlebih dahulu, Meyer langsung mengendong Dena keluar dari mobil.
Sementara Gerry langsung melajukkan kendaraan roda empat milik Meyer menjauh dari apartemen sang Tuan.
Meyer mengendong tubuh ringan Dena menuju kamar apartemen mereka. Ia tahu Dena pasti kelelahan, setelah menempuh perjalanan selama 2 jam. Apa lagi Dena baru saja keluar dari rumah sakit, dan bekas operasi kemaren juga belum terlalu kering.
...***Bersambung***...