
Tak beberapa lama Meyer dan Dena tiba di sebuah rumah minimalis yang lokasinya tidak terlalu jauh dari kediaman keluarga Lendsky. Mereka langsung melangkah menuju taman bunga di dalam rumah itu. Kebetulan rumah itu memiliki ruangan asri yang ditanami aneka ragam bunga mahal. Itu semua ditanam oleh Grandma dan Mama Meyer 23 tahun yang lalu. Mereka berdua memiliki kesukaan yang sama, yaitu senang berkebun dan mengoleksi berbagai jenis tanaman impor.
Meyer mengali tanah bak bunga ukuran 10 x 5 M dengan sekop kecil.
"Sayang kita akan mengubur jasad putra kita di tempat ini. Ketika kita merindukannya, kita bisa mengunjunginya kesini." ujar Meyer tersenyum hangat menatap kekasihnya.
"Apa kamu sudah mengiklaskan kepergian putra kita? kamu harus mengiklankan nya. Agar hati dan pikiran kamu lebih tenang." sambung Meyer mengenggam tangan Dena.
Wajah Dena tiba-tiba berubah pucat, karena terlalu lama berdiri. Ia merasa bekas operasi kemaren masih nyeri.
Meyer langsung meletakkan peti mati kecil tempat peristirahatan terakhir putranya. Ia khawatir melihat wajah pucat Dena.
"Lebih baik kamu beristirahat di dalam rumah. Biar aku yang memakamkan jasad putra kita." ujar Meyer mengangkat tubuh kekasihnya ala bridal style.
Meyer membaringkan tubuh Dena di atas sofa panjang. "Berbaringlah disini. Aku tidak akan lama."kata Meyer mengelus lembut kepala kekasihnya.
Meyer berlalu dari sana meninggalkan Dena sendirian. Air mata menetes lagi dari kedua sudut mata Meyer. Ia tidak mampu menutupi kesedihannya di depan peti putranya.
"Son.... kau tidak akan sendiri disana. Ada Buyut, Opa dan Oma. Mereka pasti senang melihatmu ikut dengan mereka. Sampaikan salam Papa pada mereka. Katakan kalau Papa sangat merindukan mereka. Minta mereka datang ke mimpi Papa." ujar Meyer menghapus air matanya. Ia lalu memasukkan peti kecil itu ke lobang yang tadi digali Meyer.
"Semoga suatu hari nanti kita bertemu kembali, meskipun sekarang kita berada di dunia yang berbeda." kata Meyer lagi menutup peti kecil itu dengan tanah.
Setelah melihat peti kecil itu tertutup dengan tanah. Meyer lalu menabur bunga merah di atasnya. Tak lupa Meyer juga menancapkan papan salib di atas bak itu. Papan itu sejajar dengan jasad kepala putranya.
"Mama dan Papa akan datang lagi di lain waktu. Semoga kamu senang dengan rumah baru kamu." timpal Meyer beranjak dari sana. Lama-lama di sana membuat dadanya sesak.
"Sayang.... apa kamu merasa lebih baik?" tanya Meyer berlutut di samping sofa.
"Hem...." gumam Dena dengan pelan.
"Ayo kita pulang. Kamu juga sepertinya harus istirahat total di apartemen." ujar Meyer mengenggam tangan dingin kekasihnya.
"Hem..." gumam Dena lagi.
Meyer tahu Dena memendam lukanya sendirian. Ia tahu Dena sebenarnya ingin menangis, namun tangisannya Ia tahan. Dena tidak mungkin menangis kencang didepan Meyer. Dena ingin menyimpan dan menyembunyikan lukanya sendirian. Karena hanya dia yang tahu seperti apa perasaannya. Orang-orang hanya bisa menjadi seorang pendengar, dan mereka tidak bisa menjadi obat pembalut luka.
"Apa kamu ingin menangis? maka menangis lah di pelukan ku. Jangan ditahan-tahan, karena itu hanya akan mempengaruhi kesehatan kamu." nasehat Meyer mendekap kekasihnya.
"Meyer.... mari berpisah...." ujar Dena dengan bibir gemetar.
"Hiks....hiks....hiks...."
"Meyer.... mari kita berpisah. Aku ingin pergi menjauh dari negara ini. Luka batin ini akan lama sembuh. Aku ingin melupakan semuanya dan memulai hidup baru di luar negeri." sambung Dena terisak-isak.
...***Bersambung***...