YOUR LOVE HURTS ME

YOUR LOVE HURTS ME
Bab 25 Rencana Ngedate



Meyer mendekap tubuh Dena dengan erat setelah percintaan mereka barusan. Pria itu tidak pernah bosan dengan aktivitas yang berkaitan dengan hal-hal seperti itu. Karena pria itu akan selalu ketagihan melakukanya bersama Dena.


Meyer mengusap lembut wajah berkeringat sang kekasih, lalu meninggalkan sebuah kecupan di kening Dena. Ia tahu Dena selalu tahu bagaimana cara memuaskan hasratnya di atas ranjang. Ia akan selalu puas dengan servis kekasihnya itu.


Meyer lalu memejamkan matanya mengikuti Dena terlelap masuk ke dalam mimpi. Suasana di dalam kamar itu tiba-tiba berubah hening. Hanya suara napas teratur yang keluar dari hidung mereka berdua.


Jam di dinding ruangan CEO itu terus bergerak hingga pukul 6 sore. Langit di luar sana semakin lama semakin gelap. Tapi sepasang kekasih itu masih nyaman saling mendekap.


Sejam kemudian


Meyer mengerjapkan matanya berulangkali memastikan penglihatannya. Ia merasa penglihatannya sangat gelap. Karena tidak ada cahaya yang masuk ke dalam kamar. Tiba-tiba kesadarannya mulai pulih sepenuhnya. Ia baru ingat, kalau lampu kamar itu belum di hidupkan. Pria itu meraba-raba nakas di samping kepalanya mencari-cari ponselnya. Meyer menyipitkan matanya, ia merasa silau ketika melihat jam di layar ponselnya.


"Ah.... ternyata sudah jam 7 malam." ucapnya dengan lirih mengenggam ponselnya.


"Sayang...."


"Ayo bangun. Mandi dulu yuk! aku mau ngajak kamu ngedate." ujar Meyer mengusap lembut kepala kekasihnya. Kamar itu masih terlihat gelap, hanya cahaya rembulan dari luar yang membantu menerangi sedikit penglihatan Meyer.


"Enghh!"


"Sudah jam berapa?" tanya Dena melonggarkan pelukannya tanpa membuka matanya.


"7 malam. Kamu mandi duluan. Aku mau menghubungi Gerry terlebih dahulu sekalian menyuruhnya membeli pakaian ganti untuk kita." ujar Meyer mengangkat tubuh polos kekasihnya ke atas pangkuannya.


Dena langsung membuka matanya dan melingkarkan tangannya di leher kekasihnya saat merasa Meyer mengangkat tubuhnya.


"Kenapa kamar ini sangat gelap?" tanya Dena mengerjapkan matanya menatap kedua bola mata kekasihnya.


"Ish!! apaan sih!!" sahut Dena mencubit kecil pinggang Meyer.


"Jangan bangunkan anakonda lagi sayang, kalau tidak mau acara ngedate-nya batal!" ujar Meyer mendudukkan tubuh polos Dena di atas kasur dan menyelimutinya.


Meyer lalu mengambil selembar handuk menutupi setengah tubuh polosnya. Meyer lalu menghidupkan lampu kamar itu, lalu melangkah menuju kamar mandi. Pria itu mengisi penuh bathtub dengan air hangat dan ditambah aroma terapi agar tubuh kekasihnya lebih fresh.


Tak beberapa lama, Meyer keluar dari kamar mandi menghampiri kekasihnya.


"Sayang--"


"Hem!" gumam Dena menyahuti panggilan Meyer.


"Mandilah! aku sudah menyiapkan air hangat dicampur aroma terapi di dalam bathtub." ucap Meyer tersenyum hangat menatap muka bantal Denada.


"Gendong." ucap Dena manja mengulurkan kedua tangannya agar Meyer menggendongnya.


Meyer tersenyum hangat melihat tingkah manja sang kekasih. Tanpa berlama-lama, Meyer langsung mengangkat tubuh polos Dena menuju kamar mandi. Dengan hati-hati pria itu meletakkan tubuh Dena ke dalam bathtub.


"Mandilah! panggil aku kalau kamu sudah selesai." ucap Meyer mengacak-ngacak rambut panjang sang kekasih. Dena tersenyum lebar mendapatkan perhatian dari kekasihnya. Ia cukup bahagia dengan perhatian Meyer mulai saat Ia keluar dari rumah sakit.


Dena lalu merilekskan sebentar tubuhnya di dalam bathtub setelah Meyer keluar dari kamar mandi. Ia tersenyum tipis mencium aroma terapi dari air.


"Beruntungnya aku memiliki kekasih seperti Meyer." gumamnya memejamkan matanya menikmati kehangatan air beraroma terapi.


...***Bersambung***...