
Sementara Katherine sedang berjalan-jalan mengelilingi Mall mencari-cari barang-barang branded kesukaannya. Mulai dari high heels, pakaian santai, gaun, tas dan juga aksesoris-aksesoris terbaik yang keluar baru-baru ini. Wanita itu selalu menomor satukan penampilannya, agar terlihat semakin cantik dan menarik di depan kamera. Tanpa sengaja sekilas pandangannya melihat Dena dan Meyer bergandengan tangan dengan mesra turun dari eskalator.
Kedua tangan wanita itu mengepalkan menatap pemandangan itu dari kejauhan.
"Oh! jadi mereka diam-diam masih menjalin hubungan! aku harus memisahkan mereka! ini tidak bisa dibiarkan! aku harus mempercepat pernikahan kami! aku tidak rela kalau Meyer jatuh ke tangan wanita lain! jika aku tidak bisa mendapatkan Meyer, maka wanita lain pun tidak boleh mendapatkannya!" sinis Dena menatap sinis dan tajam kearah Meyer dan Dena.
"Awas kau Denada. Kau tidak boleh bahagia!" gerutu Katherine keluar dari toko barang-barang branded langganannya yang ada di Mall. Selera belanjanya langsung hilang setelah melihat adegan sepasang kekasih itu. Sebenarnya Katherine belanja hari ini untuk pakaian yang akan Ia kenakan menemui calon suaminya besok. Calon suami maksudnya menjurus ke Meyer sang tunangan. Wanita itu melangkah keluar mall sembari menggerutu dan mengumpat dalam hati.
#
#
Sementara Dena dan Meyer turun dari eskalator menuju restoran terdekat. Sedari tadi perut mereka sudah keroncong. Jam sudah menunjukkan pukul 10 malam. Ini menandakan Mall sudah mulai tutup.
"Sayang-"
"Hem!" sahut Dena menatap kekasihnya dari samping.
"Sepertinya kita makan di luar saja. Mall sudah mau tutup. Kita tidak akan bisa leluasa makan sembari mengobrol." ujar Meyer menghentikan langkahnya.
"Baiklah. Aku ikut kamu saja." sahut Dena tersenyum tipis.
Mereka lalu melangkah keluar dari Mall.
#
#
Sementara disisi lain
Katherine melajukan kendaraannya menuju kediamannya dengan kecepatan diatas rata-rata. Ia cukup cemburu, kesal bercampur marah mengingat-ingat kemesraan Dena dan tunangannya.
Citttttt
Katherine mengehentikan mobilnya di halaman kediamannya. Ia kemudian turun dari mobil dan membanting pintu mobil dengan sedikit kuat.
Bum
Katherine masuk ke dalam sebuah rumah bak istana dengan wajah kesal.
Cklek
"Bukan urusanmu!" dengus Katherine berlalu begitu saja melewati wanita itu.
"Cih! dasar anak manja!" celetuk wanita itu mencebikkan bibirnya melangkah menuju ruangan tamu.
Kedua orang tua mereka sedang ada tugas diluar negeri. Sementara di kediaman besar itu mereka tingga berdua.
Di kamar
"Apa yang harus aku lakukan?" lirih Katherine kesana-kemari memikirkan ide licik yang akan Ia gunakan esok hari menghasut kakek Meyer.
"Ah.... Aku tahu." celetuknya tiba-tiba tersenyum puas.
"Bersenang-senanglah. Sebelum aku benar-benar menghancurkan hubungan kalian!" ucap Katherine menyeringai sinis.
Ia lalu berlalu ke kamar mandi membersihkan tubuhnya.
#
#
Di sebuah restoran
"Bagaimana? apa kamu sudah kenyang sayang?" tanya Meyer tersenyum hangat menatap sang kekasih.
"Ah! aku sangat kenyang. Lihatlah sepertinya kalau begini terus, berat badanku bisa saja naik!" celetuk Dena menghela napas panjang.
"Aku malahan senang, kalau berat badan kamu naik. Tubuh ini akan semakin empuk, kalau aku peluk-peluk." ujar Meyer menaikkan sebelah alisnya menggoda kekasihnya.
"Setelah menikah. Sebaiknya kamu berhenti menjadi model. Aku mau kamu stay di rumah dan menemani hari-hari ku." sambung Meyer tersenyum hangat melihat ekspresi terkejut kekasihnya.
"Menjadi model merupakan impianku sejak kecil. Jika aku tidak berprofesi sebagai model, kemungkinan kita tidak akan pernah bisa bertemu." ucap Dena serius menatap Meyer.
"Sekarang kita sudah bertemu, dan akan ditakdirkan bersama. Bukankah lebih baik kamu menikmati hasil kerja kerasku di rumah sembari merawat putra-putri kita." ucap Meyer tersenyum kecil membayangkan saat dimana Dena merawat putra-putri mereka. Kekasihnya yang akan menjadi istrinya itu juga akan menunggunya pulang kerja setiap hari kerja.
"Baiklah Tuan Meyer Lendsky. Setelah menikah aku akan mengabdikan diri ku untukmu dan putra-putri kita." ujar Dena pada akhirnya melihat wajah bahagia kekasihnya.
...***Bersambung***...