YOUR LOVE HURTS ME

YOUR LOVE HURTS ME
Bab 31 Permintaan Tuan Lendsky



Sersan dengan cepat melangkah menuju kamar Tuan Lendsky. Karena biasanya Ia meletakkan obat Tuan Lendsky didalam laci nakas samping tempat tidurnya.


Sersan melihat Meyer membaringkan tubuh Tuan Lendsky di atas tempat tidur.


"Kau lama sekali! cepat berikan obat kakek!" dengus Meyer menatap tajam kearah pria paruh baya itu.


Sersan langsung mengeluarkan beberapa butir obat dari resep dokter pribadi keluarga Lendsky.


"Minumlah Tuan." ucap Sersan menyerahkan beberapa butir obat kepada Tuan Lendsky. Tanpa lupa pria itu juga menyerahkan segelas air putih.


"Bagaimana? apa kakek sekarang merasa lebih baik?" tanya Meyer berdiri disamping tempat tidur Tuan Lendsky.


"Hem. Kakek baik-baik saja. Kakek cuma minta menikahlah dengan Katherine. Kalau kau tidak mau, maka jauhi wanita itu. Aku tidak mau memiliki calon cucu menantu sepertinya!" tegas Tuan Lendsky memalingkan wajahnya ke samping tidak mau mendengar bantahan cucunya.


"Bukankah Katherine sudah menolong hidup wanita itu, dengan mendonorkan darahnya kepada wanita itu. Bukankah kau harus menuruti permintaannya!" sambung Tuan Lendsky mengusap peluh keringat membanjiri dahinya.


"Meyer tidak mungkin menikahi wanita seperti Katherine kakek! bukan hanya itu, wanita itu juga memintaku memberikan seorang anak kepadanya setelah menikah nanti!"


"Aku tidak mau memiliki anak yang lahir dari rahim wanita murahan sepertinya!" ucap Meyer tetap kekeuh dengan keputusannya.


"Apa bedanya Katherine dengan wanita itu? bukankah wanita itu juga melakukan hal yang sama? melebarkan kakinya tidur dengan pria lain!" dengus Tuan Lendsky menatap tajam cucunya.


"Dena tidak seperti itu kakek! Dena wanita baik-baik! Dena hanya tidur dengan Meyer!" jawab Meyer penuh keyakinan mendengar perkataan kakeknya.


"Benarkah?" tanya Tuan Lendsky memincing kedua matanya menatap cucu satu-satunya.


"Sersan!! tunjukkan foto-foto itu kepada pria keras kepala ini!" dengus Tuan Lendsky melirik sekilas pelayan kesetiaannya.


Rahang Meyer langsung mengeras melihat foto-foto itu. Di foto itu Dena terlihat melangkah mendekati Greyson, lalu duduk di pangkuan pria itu. Dena juga terlihat berciuman dengan pria itu.


"Menurut mu apa bedanya wanita itu dengan Katherine?" tanya Tuan Lendsky menatap wajah merah padam cucunya.


"Bukan hanya karena alasan itu, kakek memintamu menjauh dari wanita itu!"


Meyer menyeritkan dahinya mendengar perkataan kakeknya. Rasa amarah tentu saja melingkupi hatinya. Apa lagi foto-foto itu terlihat asli dan buka


editan. Tapi Dena tidak mungkin mengingat kejadian itu. Karena Meyer sudah menghapus sebagai ingatan Dena dengan memberikannya setiap hari obat penghapus ingatan. Meyer selalu beralasan kalau obat itu adalah vitamin agar kekasihnya itu semakin fit saat mereka bercinta.


"Alasan apa?" tanya Meyer penasaran


"Suatu hari kau juga akan tahu. Yang penting turuti saja permintaan kakek!" pinta Tuan Lendsky penuh harapan menatap cucunya.


"Meyer tidak bisa kakek! Meyer terlalu mencintai Dena. Meyer tidak bisa hidup tanpa Dena." lirih Meyer menolak permintaan kakeknya.


"Kakek jaga diri kakek baik-baik. Meyer mau berangkat kerja ke kantor." sambung Meyer meninggalkan ruangan Tuan Lendsky.


Tuan Lendsky terdiam lama setelah kepergian Meyer.


"Tuan, apa Anda tidak terlalu memaksakan keinginan Anda menikahkan Tuan muda dan nona Katherine?" celetuk Sersan membuyarkan lamunan Tuan Lendsky.


"Aku melakukan semua ini agar Meyer tidak balas dendam suatu hari nanti, seandainya mengetahui kenyataan mengenai kejadian tragis dimasa lalu." ucap Tuan Lendsky dengan lirih, setetes air mata mengalir dari sudut mata pria paruh baya itu. Ia sebenarnya tidak ingin memisahkan cucunya dari cinta pertamanya. Tapi di satu sisi pria paruh baya itu juga takut, jika suatu hari Meyer menyakitkan wanita itu. Saat cucunya mengetahui kenyataan kejadian dimasa lalu.


...***Bersambung***...