
Dena membuka matanya setelah Meyer keluar dari kamar. Di kepala Dena masih teringat jelas akan tulisan dalam kotak itu.
"Aku akan membunuhmu seperti hewan ini, jika kau masih kekeh tetap tinggal bersama Meyer."
Tangan Dena tiba-tiba gemetaran memikirkan teror yang selama ini dialaminya. Ia merasa tidak mempunyai masalah terhadap siapapun, kecuali dengan Katherine yang selama ini mencari masalah kepadanya.
"Aku sangat lelah dengan jalan hidup seperti ini. Bolehkah aku menjauh saja, dan meninggalkan semuanya...." gumam Dena dengan lirih. Setetes air mata mengalir dari sudut matanya.
Cklek
Dena buru-buru menghapus air matanya dan kembali memejamkan matanya. Ia tidak mau Meyer tahu, kalau sebenarnya Dena belum tidur.
Meyer membaringkan Richardo di dalam boks bayi, karena Richardo sudah tidur kembali. Ia tersenyum tipis melihat wajah terlelap putranya.
"Tumbuhlah menjadi pria yang lembut suatu hari nanti, saat kamu sudah dewasa" pinta Meyer berbisik di dekat telinga putranya. Meyer lalu menyelimuti tubuh Richardo dengan selimut tipis, sebelum berbaring di samping Dena.
#
#
Keesokan harinya
Meyer masih terlelap dalam tidurnya, sementara Dena sudah berada di dapur membuatkan sarapan untuknya dan Meyer. Tidak ada sedikitpun rasa lelah di raut wajahnya hingga terdengar pecahan kaca dari belakang tubuhnya. Entah mengapa, Dena merasa tubuhnya gemetaran.
Dena membalikkan tubuhnya melihat siapa yang ada dibelakangnya. Ia melihat seseorang sudah berdiri di belakangnya. Ia menghembuskan napas lega melihat Meyer sudah berdiri di belakangnya.
"Astaga.... aku sampai menyenggolnya." kata Meyer menepuk jidatnya.
"Apa kamu ingin mengagetkanku?" celetuk Dena tersenyum tipis.
"Hah.... ternyata kamu bisa menebaknya, Sayang...." keluh Meyer membersihkan pecahan kaca di lantai.
Dena ingin berjongkok dan berinisiatif membersihkan pecahan kaca itu.
"Aku mau mengambil serokan terlebih dahulu. Ingat! jangan sentuh pecahan itu!" kata Meyer penuh peringatan. Ia tidak ingin tubuh ataupun kulit Dena terluka sedikitpun.
Dena menghela napas panjang mendengar perkataan posesif Meyer. Dena lalu melanjutkan kegiatannya. Ia menyajikan sarapan pagi di atas meja.
"Apa yang kamu masak tadi?" tanya Meyer meletakkan serokan di belakang pintu dapur.
"Aku tidak tahu ini makanan apa." celetuk Dena menatap bubur di dalam mangkuk kecil.
"Apa ini sejenis beras berwarna ungu?" tanya Meyer menatap lama bubur yang disajikan Dena.
"Aku membelinya di supermarket depan rumah. Aku membuat semua ini berkat belajar dari you tobe." kata Dena cengengesan.
Dahi Meyer tiba-tiba berkerut mendengar perkataan Dena. Ia tidak mungkin membuang makan itu, karena Dena sudah berusaha membuatkannya untuknya.
Meyer menyuapkan sesendok bubur pulut itu ke dalam mulutnya. Ia terdiam sebentar menatap wajah kekasihnya.
"Hem.... ternyata makanan ini enak juga. Untuk pertama kalinya aku memakan makanan seperti ini." kata Meyer memuji sarapan yang disajikan Dena.
"Apa kamu tidak mau mencoba makanan hasil masakanmu sendiri?" tanya Meyer menghentikan suapannya.
"Ini benar-benar enak, Sayang." ujar Meyer menghabiskan sarapannya.
"Benarkah?" tanya Dena memastikan perkataan Meyer.
"Benar! coba saja. Kalau tidak suka, biarkan aku yang menghabiskannya." kata Meyer tersenyum hangat.
Dena menyuapkan sesendok bubur pulut di campur gula aren ke dalam mulutnya.
"Hem.... kamu benar, makanan ini enak. Lain kali aku mau mencobanya lagi." kata Dena memuji masakannya sendiri.
...***Bersambung***...