
[Hallo Tuan!] sahut Gerry dari seberang sana.
"Hallo Ger! apa kau sudah memesan tiket bioskop dan pakaian ganti yang ku katakan tadi siang?" ucap Meyer berdiri di depan kaca jendela transparan kamar pribadinya. Meskipun ia berdiri telanjang disana. Orang-orang di luar sana tidak akan melihatnya. Karena kaca itu hanya terlihat transparan dari dalam.
[ Sudah Tuan. Tadi sore setelah jam kantor usai, saya datang ke ruangan Anda. Namun pintu ruangan Anda terkunci. Jadi saya meletakkan semuanya di depan pintu ruangan Anda.] sahut Gerry dari seberang sana. Pria itu sedang duduk di sofa panjang sebuah Club menikmati masa mudanya.
"Apa kau berada di Club?" tanya Meyer mendengar suara-suara kencang dan bising dari seberang sana.
[Iya Tuan. Have fun dulu selagi masih muda.] ucap Gerry meneguk segelas wine yang ada di atas mejanya. Tak beberapa lama seorang wanita melangkah mendekati Gerry. Pakaian ketat dan seksi membalut tubuh proporsionalnya.
"Awas kualat Ger!" celetuk Meyer tiba-tiba tanpa sadar bahwa dirinya juga pernah nakal seperti Gerry.
[Anda juga pernah berperilaku seperti saya Tuan. Hanya saja sekarang Anda sudah bertemu dengan pawang yang tepat!]
"Baiklah. Jangan lupa pakai pengaman." ujar Meyer mengakhiri panggilannya.
Meyer lalu melangkah menuju pintu keluar ruangan kerjanya.
Cklek
Ia mendapati dua paper bag di letakkan di depan pintu. Ia lalu mengambil paper bag itu dan menutup pintu ruangannya kembali.
Meyer mendudukkan bokongnya di atas ranjang dengan kaki masih menapak ke lantai, sembari menunggu Dena selesai mandi.
30 menit kemudian Dena keluar dari kamar mandi mengenakan kimono sebatas lutut. Wajahnya terlihat lebih segar dari sebelumnya.
"Sayang, pakaian kamu ada di paper bag di atas tempat tidur." ujar Meyer melangkah masuk ke kamar mandi setelah melihat kekasihnya selesai membersihkan diri.
#
#
Meyer dan Dena bergandengan mesra mencari pintu teater nomor 1. Mereka tidak peduli dengan tatapan memuja para pria dan wanita yang mereka lalui sepanjang mencari pintu teater nomor 1. Mereka sudah terbiasa melihat wajah kagum orang-orang menatap wajah tampan dan cantik sepasang kekasih itu.
"Sayang kita nonton film apa?" tanya Dena mendudukkan bokongnya di kursi paling atas.
"365 days." jawab Meyer
Dena menganggukkan kepalanya mendengar perkataan kekasihnya. Namun tak beberapa lama film mulai ditayangkan. Sementara tidak ada satu orang pun penonton masuk ke dalam pintu teater nomor 1 terkecuali mereka berdua.
"Sayang--"
"Mengapa tidak ada satu orangpun penonton masuk ke pintu teater nomor 1?" tanya Dena mengamati kursi-kursi penonton yang kosong.
"Aku sengaja memesan pintu teater nomor 1 khusus untuk kita berdua."
"Lihatlah filmnya udah di mulai." ucap Meyer mengangkat tubuh Dena ke atas pangkuannya.
Meyer lalu melingkarkan tangannya di perut ramping Dena, lalu meletakkan dagunya di bahu Dena.
Mereka menikmati film 365 days itu berjam-jam dengan beberapa tampilan adegan erotis yang membuat tubuh mereka langsung panas dingin. Beberapa cuplikan adegan itu terlihat seperti hal-hal intim yang sering mereka lalu saat liburan keluar negeri.
"Bukankah kisah mereka terlihat cukup mirip dengan kisah kita" tanya Meyer mengelus lembut perut rata kekasihnya.
"Ya sepertinya." sahut Dena susah payah menelan ludahnya melihat adegan dilayar lebar sana. Meskipun adegan itu tidak lagi tabu bagi Dena, tapi tetap saja jantungnya berdetak kencang melihat adegan-adegan hot film 360 days.
...***Bersambung***...