YOUR LOVE HURTS ME

YOUR LOVE HURTS ME
Bab 77



"Cari keberadaan nona muda, Richardo dan Tuan Gerry." perintah seorang pengawal kepada rekannya.


"Kamu!" tunjuknya kepada salah satu dari empat orang pengawal yang berdiri di sana.


"Ikut aku memeriksa situasi di gudang belakang."


Pria itu langsung melangkah cepat menuju gudang belakang kediaman Meyer. Saat sampai di sana, mereka melihat banyak jejak darah yang menetes di atas rumput. Tak beberapa lama terdengar kembali suara tembakan yang membuat kedua orang itu tewas di tempat.


Dor


Dor


Dor


Bruk


Bruk


Seorang wanita bertopeng tersenyum puas melihat kedua orang itu tewas di tempat.


"Tumpuk mayat mereka di gudang itu. Aku sudah tidak sabar melihat Meyer menikmati pemandangan indah ini." ujar wanita itu sebelum menghilang dari sana.


Sementara Damian dengan wajah emosi melaksanakan perintah wanita itu.


"Aku akan membunuhmu dengan tanganku sendiri, Katherine. Jika terjadi sesuatu dengan adikku."


Sementara disisi lain, Katherine tersenyum puas melihat Gerry dan Dena pingsan di kursi penumpang.


Tak beberapa lama, mobil itu melintas melewati hutan rimbun. Sebuah rumah besar berdiri megah di dalam hutan tersebut. Beberapa orang pria bertubuh besar terlihat berjaga-jaga di setiap sudut rumah tersebut.


"Masukkan mereka ke penjara bawah Tanah. Jangan beri makan ataupun minum hingga mereka memohon." ujar Katherine tersenyum menyeringai melangkah masuk ke dalam rumah.


Flashback end


Malam hari


"Jangan, Meyer. Jangan lakukan itu." cicit Dena berteriak kencang menatap layar monitor yang ditunjukkan anak buah Katherine. Semua itu mereka lakukan atas perintah Katherine sendiri.


"Meyer, aku sangat mencintaimu. Hingga aku rela melakukan apapun untuk mendapatkan mu." bisik Katherine di telinga Meyer.


Meyer merasa tubuhnya sedikit aneh ketika merasakan hembusan napas Katherine. Pria itu dengan cepat mencium Katherine dengan ganas.


Katherine terlihat melepaskan satu persatu pakaian yang membalut tubuh Meyer. Dan Dena sudah tidak kuat melihat rekaman itu. Ia langsung menundukkan kepalanya. Namun suara tangisan frustasi kecil itu masih bisa di dengar Gerry.


Tiba-tiba lampu di kamar itu mati, dan hanya terdengar suara-suara percintaan dari kedua makhluk itu.


Gerry cukup terkejut melihat rekaman itu. Meyer tidak mungkin gampang masuk jebakan Katherine. Karena Gerry tahu, seberapa sensitifnya Meyer dengan sekitarnya.


"Nona, tuan muda tidak mungkin mengkhianati Anda. Tuan muda sangat mencintai Anda. Itu pasti rekaman palsu." kata Gerry dengan cepat menenangkan Dena. Dena sedang hamil muda. Dan kehamilan itu masih di rahasiakan. Ia tidak mau terjadi hal yang tak diinginkan kepada pewarisan Meyer tersebut.


"Apa suara seseorang juga bisa di manipulasi? Katherine bilang dia ingin melahirkan seorang anak dengan Meyer. Bukankah aku pernah gagal menjadi seorang ibu? bisa saja Meyer terbujuk rayuan Katherine." jawab Dena menangis tersedu-sedu.


"Nona, sekarang bukanlah waktunya untuk menanggapi video itu. Sekarang merupakan waktunya untuk kita mencari cara keluar dari ruangan ini." sahut Gerry dengan cepat.


"Nona, saya akan menyelamatkan Anda. Tolong selamatkan diri Anda. Dan segera menjauh dari tempat ini." tambahnya.


Sementara suara tangisan Richardo semakin lama semakin nyaring hingga membuat dua orang penjaga diluar sana merasa terusik. Mereka dengan cepat masuk ke dalam penjara bawah Tanah dan berniat membekap mulut Richardo. Namun, di hentikan oleh teriakan Dena.


"Jangan sentuh putraku dengan tangan kotor mu, sialan!"


"Putramu terlalu berisik. Aku tidak segan-segan memotong lidahnya dan membuatnya berhenti menangis." jawab penjaga itu penuh intimidasi menatap Dena.


Gerry melihat ada sedikit cela bagi Dena bisa keluar dari tempat tersebut. Tiba-tiba ia mengeluarkan sebuah benda dari kantor celananya. Ia melemparkan benda itu kearah kedua penjaga itu Tiba-tiba asap tebal memenuhi ruangan pengap itu.


"Nona, bawa Tuan kecil keluar dari ruangan ini. Saya akan menahan mereka." teriak Gerry dengan cepat melompat cepat kearah kedua petugas itu. Gerry menubruk tubuh mereka hingga terpental ke dinding.


"Cepat lari!" teriak Gerry dengan kencang.