
Seminggu kemudian
Meyer terlihat sedikit sedih dan frustasi melihat kekasihnya tak kunjung sadar. Ia mondar-mandir kesana kemari menghilangkan perasaan takut dan cemasnya.
Namun tak beberapa saat suara erangan kecil seseorang menghentikan pergerakan pria itu.
"Enghh...."
Dena mengerjapkan matanya berulangkali memastikan penglihatannya. Ia menyeritkan dahinya melihat interior putih kamar yang ditempatinya.
"Haus...." ucap Dena dengan lirih.
Namun suara Meyer mengalihkan perhatian Dena.
"Sayang! kamu sudah sadar?" tanya pria itu. Ia melangkah mendekati ranjang rawat sang kekasih.
Dena diam tak menjawab pertanyaan Meyer, karena wanita itu sedang berusaha mengingat-ingat alasan sesuatu. Mengapa dia bisa ada di rumah sakit melihat selang infus terpasang di tangannya.
Meyer tersenyum bahagia menatap wajah kekasihnya. Walaupun wajah itu terlihat masih sedikit pucat, setidaknya melihat Dena sudah sadar membuat rasa khawatir di hati Meyer jadi sedikit berkurang.
"Meyer? mengapa aku bisa ada di rumah sakit?" tanya Dena melirik sekilas kearah Meyer.
Deg
"Aku juga tidak tahu sayang, saat aku bangun, aku melihat kamu sudah pingsan di dalam bathtub." ucap Meyer sedikit gugup.
Dena lalu mengalihkan pandangannya menatap kearah tangannya yang di infus.
"Mengapa pergelangan tangan ku di perban?" tanya Dena lagi tanpa mengalihkan pandangannya dari pergelangan tangannya.
"Itu kemaren ada sedikit luka. Jadi dokter membalutnya dengan perban." jawab Meyer.
"Bagaimana? apa sekarang kamu merasa lebih baik? atau kamu merasa tubuhmu masih ada yang sakit?" tanya Meyer beruntun mengalihkan topik pembahasan mereka.
"Tidak. Hanya saja aku sedikit haus!" lirih Dena mengalihkan pandangannya menatap kearah kekasihnya. Ternyata Meyer sudah berdiri di samping ranjang rawatnya.
Dengan sigap Meyer menuangkan segelas air putih, lalu memberikannya kepada Dena.
"Minumlah, pelan-pelan." ucap Meyer mengarahkan sedotan ke mulut Dena.
"Terimakasih...." ucap Dena setelah meneguk habis air putih itu.
"Perutku tiba-tiba lapar." ucap Dena tersenyum kecil
"Kamu mau makan apa? Hem?" tanya Meyer dengan cepat.
"Pizza atau burger." ucap Dena pelan.
"Baiklah sayang. Tunggu sebentar." ucap Meyer
Pria itu lalu menghubungi Gerry agar membeli dua burger dan satu pizza kesukaan Dena.
30 menit kemudian Gerry datang membawa satu kotak pizza dan dua kotak kecil burger.
"Ini pesanannya Tuan!" ucap Gerry meletakkan pesanan Meyer di atas meja di samping kulkas.
"Saya permisi Tuan!"
"Hem...." gumam Meyer menjawab pamitan Gerry.
"Sayang. Kamu mau makan apa? pizza atau burger?" tanya Meyer sembari membuka kotak pizza.
"Pizza." ucap Dena tersenyum tipis.
"Aku mau disuapin." sambungnya sembari menaikkan sedikit tubuhnya agar bisa bersandar.
Meyer yang merasakan pergerakan dari ranjang rawat Dena langsung membantu kekasihnya. Pria itu menaikkan sedikit kepala ranjang rumah sakit agar kekasihnya bisa bersandar dengan nyaman.
Meyer menyuapkan sepotong demi sepotong pizza ke mulut Dena. Pria itu juga dengan telaten menghapus noda saus tomat yang menempel di sudut bibir Dena.
Dena tersenyum bahagia melihat perhatian Meyer.
Sementara dibalik pintu ruangan rawat inap itu, seorang wanita menatap nanar perhatian Meyer kepada Dena.
"Kau masih belum mengabulkan dua permintaan ku Meyer! aku akan membuatmu jauh dari Denada!" ucap wanita itu membalikkan tubuhnya berlalu dari sana.
Sebenarnya Ia tadi berniat menjenguk Denada, karena sekarang Meyer sudah ada di genggamannya dan akan segera menjadi miliknya. Dia tidak perlu takut lagi kalau sewaktu-waktu Meyer kembali ke pelukan Denada.
...***Bersambung***...