YOUR LOVE HURTS ME

YOUR LOVE HURTS ME
Bab 49 KML End



Seminggu sudah berlalu


Titik terang mengenai keberadaan putri Dede belum juga ada selama seminggu berjalan. Pencarian mereka harus dihentikan pada hari ke tujuh. Karena tidak ada angin, tidak ada hujan, mereka tiba-tiba dideportasi dari Kolombia. Mereka tidak melakukan kesalahan apa-apa, tetapi mereka tiba-tiba di deportasi kembali ke negara asal mereka. Bukankah itu terlihat benar-benar aneh?


"Mas.... Putri kita bagaimana? aku takut putri kita menangis karena haus. Aku takut putri kita tidak dirawat dengan baik." timpal Sahara tidak mau dideportasi dari Kolombia.


"Tapi kita harus kembali, Hara. Ini bukan Negara kita. Kita mana bisa tawar menawar dengan pemerintah disini." ujar Dede menjelaskan peraturan negara tersebut.


"Beberapa tahun lagi kita pasti bisa kembali ke Negara ini. Kita akan mendoakan putri kita, selama kita di deportasi dari negara ini." sambung Dede merangkul bahu istrinya.


"Ini cobaan, Sayang.... kita tidak bisa hidup hanya dengan kebahagiaan dari Tuhan. Kita juga perlu juga sekali-sekali diuji, agar iman kita semakin kuat." timpal Dede lagi.


Keesokan harinya


Dede dan istrinya kembali ke Indonesia, negara asal mereka. Mereka berasal dari Medan dan tinggal di Jakarta. Dede merupakan seorang pebisnis pemula, sementara Sahara masih kuliah. Sahara sedang menempuh pendidikan dokter spesialis.


Hari-hari mereka lalui dengan perasaan hampa, keluarga besar dari sang suami dan sang istri berlomba-lomba menyalahkan mereka. Tekan, cibiran, sindiran dan juga cemooh sudah menjadi santapan sehari-hari bagi Sahara, disaat sang suami sedang tugas diluar kota. Namun wanita itu tetap kuat dan sabar menghadapi ujian itu. Meskipun secara psikologis, Sahara benar-benar harus dianjurkan berobat.


4 bulan berlalu


Air mata mengalir deras membasahi wajah sepasang suami-istri itu. Dede menatap tak percaya kearah testpack positif yang digunakan istrinya Sahara.


"Say-sayang.... kamu isi lagi?" tanya Dede dengan mata berbinar. Ia tidak bisa membendung rasa bahagianya melihat hasil testpack itu. Ia benar-benar bahagia mendapatkan hadiah istimewa dari istrinya. Meskipun Ia tidak sedang berulang tahun.


Sementara Sahara masih gemetaran memegang testpack di tangannya. Pikirannya tiba-tiba blank menatap testpack itu. Ia seakan-akan tidak percaya dengan mukjizat yang Tuhan berikan kepadanya dan suaminya.


"Ma-mas? apa testpack ini nyata? tolong cubit lenganku sedikit kuat...." pinta Sahara agar suaminya mencubit lengannya.


Bukannya menuruti permintaan sang istri, Dede malah mengecup lama kening istrinya. "Sayang.... ini nyata...." Dede mengelus lembut pipi sang istri. Ia menatap sang istri dengan sorotan mata penuh cinta.


"Sayang!!" teriak Hara melompat ke pelukan suaminya.


"Ini nyata! hiks, hiks, hiks" sambung Sahara menangis terisak-isak.


"Iya sayang.... ini nyata...." sahut Dede dengan lirih.


"Kami tahu, Tuhan. Engkau sedang menguji iman kami, agar iman kami semakin kuat menghadapi cobaan berat dimasa mendatang. Kami dengan sabar menghadapi dan melewati kesedihan itu. Dan empat bulan kemudian, engkau menghadirkan malaikat kecil di rahim istriku. Lagi-lagi buah kesabaran kami membuahkan hasil."


"Keluarga kami berharap, malaikat kecil ini akan tetap tinggal bersama kami. Tuhan.... biarkan kami bahagia, walau hanya sejenak. Biarkan keluarga kami bahagia." pinta Dede dalam hati. Ia mengecup kepala istrinya berulangkali.


"Betapa beruntungnya aku memiliki istri sepertimu, Sayang." ucap Dede dengan lirih.


"Terima kasih sudah kuat dan sabar menghadapi ujian ini bersamaku...." sambung Dede dengan mata berkaca-kaca.


"Mas...." lirih Sahara melingkarkan tangannya di leher suaminya.


"Terima kasih sudah mendukung dan menggenggam kedua tanganku, ketika aku ingin menyerah melewati ujian hidup ini. I love you Tuan Wildan...." sambung Sahara meletakkan dagunya di bahu sang suami.


#


#


9 bulan kemudian


Sahara sudah melahirkan seorang bayi perempuan. Putri mereka terlihat sangat cantik, dan bola mata itu mengingatkan mereka kepada putri pertama mereka.


"Terima kasih sayang... terima kasih sudah berjuang kuat melahirkan putri kita. Kamu adalah istri dan ibu terbaik di hati kami berdua." ujar Dede tersenyum bahagia menatap putri kecil mereka. Bayi mungil itu tidak terusik sama sekali dengan perbincangan mereka. Bayi mungil itu tetap menyedot ASI eksklusif dari sang ibu.


"Apa kamu sudah mempersiapkan nama untuk putri kita??" tanya Dede tersenyum hangat menatap kearah istri dan putrinya bergantian.


"Sudah sayang... Aku sudah mempersiapkan nama indah ini sedari jauh-jauh hari." ujar Sahara tersenyum hangat menatap putrinya.


"Namanya siapa sayang?" tanya Dede penasaran.


"Namanya ---"


***Flashback of***


...***Bersambung***...