You Are My True Love Sir!

You Are My True Love Sir!
59



"Sabar adalah meneguhkan diri dalam menjalankan ketaatan kepada Allah, menahan diri dari perbuatan maksiat kepada Allah, serta menjaganya dari perasaan dan sikap marah dalam emnghadapi takdir Allah."


(Syaikh Shalih al-utsaimin)


🌹


Rehan berlari menuju taman belakang rumah sakit, Retina Rehan menagkap kursi panjang berwarna putih yang terlihat mencolok di malam hari dan dengan keadaan yang sunyi, tentu taman adalah tempat yang ita tuju.


Rehan melihat perempuan berjilbab yang sedang duduk di kursi panjang berwarna putih tersebut. Pandangannya tertunduk, wajahnya tertutup masker, tubuhnya tampak kurus, pundaknya terasa bergetar terasa dia sedang menangis.


Rehan mendekati wanita tersebut,dan harus memastikan kalau itu adalah ita atau bukan, semakin Rehan mendekat, makin jelas suara tangis dari perempuan itu.


Rehan sangat mengenal suara tangis itu, suara yang sudah lama tidak Rehan denhar, suara tangis yang terdengar samar-samar, namun begitu menyayat hati mengingat kesalahan Rehan yang tidak bisa disisi Ita disaat terburuknya.


Mata rehan ikut berkaca-kaca melihat sosok yang ia cintai menangis sendirian menahan semua sendiri, semua pasti terasa berat baginya. Rehan terduduk di sebelah Ita, mbak anita tidak menyadari kalau ada orang yang duduk di sebelahnya. Yang masih saja terus menunduk menangis.


Tangan kekar ia rehan perlahan mulai merangkul tubuh mungil Ita, dan menyandarkan kepala Ita di dada bidang Rehan. Ita yang sadar akan pelukan tersebut langsung manepis pelukan tersebut.


"Aisshhh siapa kamu!!" Sentak ita menepis tangan Rehan.


Pelukan rehan terlepas saat ita begitu kasar menepis pelukannya, beberapa saat kedua retina mereka bertemu, Ita menatap tak percaya ke arah Rehan, ia masih tidak percaya seorang yang kini berda di sebelahnya.


mata ita berkaca-keca mentap lama ke arah Rehan, sudah lama Ita merindukan sosoknya, Rehan mengangguk pelan meyakinkan Ita kalau yang berada di sampingnya sungguhlah diri Rehan.


tanpa berkata apa-apa, Rehan langsung memeluk tubuh Ita lagi, dan tentu Ita tidak ingin egois dengan berpura-pura tak ingin dekat dengan rehan. Ita sudah tidak sanggup menahan semuanya sendiri.


Ita menerima pelukan rehan, tangisnya juga pecah pada saat berada di pelukan rehan, rindu yang begitu besar yang telah sama-sama mereka pendam, akhirnya ditumpahkan juga pada malam itu.


"Hiks.. hiks.. hik.." tangis ita begitu keras terdengar, menyayat hati Rehan saat menfengar Ita menangis.


"Apa kakak merindukanku?" Tanya ita sembari menangis, tangannya masih erat merangkul Rehan.


"Aku bahkan hampir mati karna merindukanmu" jawab Rehan membelai tubuh mungil Ita.


"Lalu bagaimana denganmu, apakah kau merindukanku??" Tanya Rehan balik, air matanya juga sudah menetes sejak tadi.


"Apa pelukan ini masih belum bisa menjawab pertanyaanmu!?" Jawab Ita, suaranya terdengar parau karna menangis.


Rehan bersyukur karna rasa rindunya tidak bertepuk sebelah tangan. Rehan semakin erat memeluk ita, Rehan akan memastikan kalau dirinya akan selalu ada di sisi Ita, apapun yang terjadi ia akan bersama ita sampai di surga mereka dipertemukan kembali.


"Maafkan kakak, kakak terlalu egois, kakak tidak ada di sebelahmu saat kau benar-benar membutuhkan kakak, kakak sudah salah karna meninggalkanmu," Rehan membelai lebut kepala Ita.


"Mulai sekarang jangan menangis sendirian, jangan menangis sambil berjalan, tapi menangislah sandaran kakak, kita harus bersama-sama menghadapi semua jangan berjalan sendiri-sendiri kita tidak akan sampai" ujar Rehan tulus dari hati.


ita hanya mengangguk dalam pelukan rehan, pelukan yang begitu hangat terasa, kita merindukan ini, ita juga merindukan setiap kata yang keluar dari mulut rehan. ita merindukan ita semua kita tidak ingin malam ini terlewat begitu saja.


Rehan mengurai pelukan ita, menangkupkna kedua tangannya ke wajah Ita yang sembab karana menangi, "sudah jangan menangis" ucap rehan sembari mengusap air mata ita.


"Kaka tidak bisa membayangkan betapa kesepiannya dirimu, membayangkannya saja kakak tidak bisa, kakka sudah merasakan kesepian yang mendalam, lalu bagaimana dengan kamu yang saat itu butuh dukungan dari oramg yang mencintaimu, tapi tak ada kakak" ujar Rehan memeluk ita kembali.


Rehan teringat sesuatu, tentang oenyakit Ita, itu artinya gambar MRI yang waktu itu alya kirin adalah gambar MRI daei ita??tumor itu begitu besar, "ta.." panghil Rehan.


"Ya??."


Rehan mengurai pelukannya kembali, ia memegang kuat pundak Ita, "tatap kakak" titah Rehan. Ita mengusap air matanya, menguatkan dirinya kembali, menghela napas panjang.


Perlahan Ita mulai menatap sepasang retina mata Rehan, beberapa saat berlalu hanya dengan tatapan, tanpa suara.


"Kau harus segera mendapatkan operasi" ujar Rehan, ita tahu Rehan mungkin sudah tau tentang penyakit Ita, tumor yang ada di otak ita.


"Kakak aka minta hammam untuk melakukannya, kau tak perlu khawatir kakak yamin kamu pasti bisa pulih kembali" ujar Rehan menguatkan ita.


"Tidak kak" jawaban Ita membuat Rehan tersentak, kalau tumor itu tak segera diangkat, keadaan Ita akan semakin parah, tumornya akan tumbuh lebih besar.


"Kenapa tidak??" Tanya Rehan.


"Bagaiman kalau sampai ada kesalahan dalam operasi, Apa ita akan kehilangan penglihatan ita saat selelsai operasi?? Apa ita bisa mengingat beberapa hal lagi?? Dan apa ita bisa jadi dokter lagi" tangis Ita kembali pecah saag mengucapkan hal itu, ia kembali memeluk Rehan.


"Lalu apa kamu pikir bisa menjadi dokter dengan keadaanmu seperti ini??" Rehan tidak bisa melihat ita terus-terusan kejang.


"Dengarkan kaka, kau pasti sudah lihat hasil MRI mu, kita bisa angkat tumor itu, kau harus percaya, hammam adalh domter bedah saraf terbaik, jadi kau tidak perlu khawatir" ujar Rehan mencoba membuat Ita menurut.


"Lalau kenapa bukan kakak yang mengoperasi Ita??" Tanya Ita dengan pandangan yang tepat pada retina Rehan, kenaoa Rehan melimpahkan operasinya kelada orang lain?? Kenapa tidak dia sendiri yang mengoperasi Ita.


Rehan terdiam, kenapa ita bertanya mengapa ia tidak mengoperasinya.


"Karna kakak tidak bisa" jawab Rehan singkat.


Ita tersenyum pahit mendengar tak masuk akal dri Rehan, bagaiman abisa ita mempercai ucapan seperi itu?? Bagaimana bisa dokter bedah saraf terbaik di negeri ini bilang tidak bisa menanganinya??.


"Apa ita harus percaya alasan kakak??" Tanya Ita menyudutkan Rehan.


Rehan menghela napas panjang, menelan ludah, ia sulit membaritahukan alasannya.


"Apa kamu pikir kakak bisa melihatmu kesakitan??."


Ucapan Rehan langsung sampaindi hati Ita, ia hanya tidak ingin melihat Ita kesakitan tidak, ia tidak bisa karna ia tidak ingin menyebabkan ita kesakitan.


Ita terdiam, mereka tak bersuara, hanya angin malam yang bebicara menengahi diantara keduanya.


"Tidak, kakak tidak bisa melakukan operasi itu, tapi kamu tenang saja kakak yakin hammam pasti melakukannya dengan baik" Rehan meraih tangan ita, menggengam erat untuk menguatkan Ita.


"Ita tidak bisa jawab sekarang, masih banyak yang harus ita pertimbangkan" ujar Ita menunduk.


"Ta dengerin kakak, kita btidak bisa menunggu lebih lama, kita bisa membiarkan sel tumor tersenbut semakin tumbuh besar dan menekan saraf optik, kau tau kan apa yang akan teerjadi saat itu?."


"Ita akan buta" jawab Ita lirih.


"Tidak, kakak tidak ingin itu terjadi."


"Lalu bagiamna kalau operasinya gagal?? Ita juga akan buta?? Semua sama saja!! Hiks.. hiks.. hiks.." tangis ita tergugu.


Rehan memeluk ita yang kenbali menangis, Rehan tau ini bukanlah perkara mudah, ini sangat sulit bagi ita, Rehan sadar itu.


"Ssst.. sudah.. kakak minta maaf" Rehab menepuk lembut ounggung Ita agar Ita bisa sedikit merasa tenang.


Lama ita menangis dipelukan Ita, sampai akhirnya Ita bisa tenang dengansendirinya, ita hanya butuh ketenangan bersama orang yang ia sayangi, itu sudah cukup untuk mengobati sakitnya, semua akan terasa berat saat Ita melakukan nya sendiri.


"Jangan menangis sendirian, menangislah di dipundak kakak" itu adalah kata indah yang Rehan berikan, kini Ita menuenderlan kepalanya di pundak bidang Rehan, mereka tak bersuara, merekanhanya menikmati pemandangan malam, Ita dan Rehan menatap langit yang sama, bintang yang bertaburan dengan sangat indah, begitu besar Kekuasaan Allah, mereka mengagumi setipa ciptaan Allah yang tiada bandingnya.


"Kakak suka bintang itu" rehan menunjuknsalah satu bintang yang bersinar dengan cerah.


"..." Diam, tak ada jawabn dari Ita, yang rehan rasakan hanya deru nafas Ita yang begitu tersa sampai membuat pundak ita naik turun. Rehan melirik ke wajah Ita, matanya sudah tertutup, tidur setelah menangis memang hal yang sangat nikmat, apalagi tidurnya dipundak kekasih halal.


Rehan menggeser sedikit kepala Ita, rehan memakaikan snellinya untuk ita, angin malam tak baik untuk kesehatan, Rehan mengeluarkan ponselnya, ia menelpon suster di rumah sakit.


"Ya dokter??."


"Apa ada ruang VIP yang kosong??" Tanya Rehan.


"Oh sebentar dokter saya periksa dulu." Suster kemudian memeriksa ruangan VIP yang masih kosong.


"Masih ada dokter, di kamar VIP nomor 7 kosong" jawab suster.


"Tong siapkan sekarang, pasien rujukan yang di rawat di ruang 455 sekarng pindah ruang VIP" ujar Rehan.


"Ya dokter, ruangan biaa ditempati sekarang" ujar suster.


"Yasudah terimkasih ya."


Rehan menutup sambungan telponnya,kemudian Rehan menggendong tubuh ita yang sudah tertidur pulas, ita harus segera istirahat.


Tanpa rasa malu rehna masuk ke dalan rumah sakit dengan menggendong tubuh ita, sontak para perawat langsung menghampiri Rehan.


"Dokter saya ambilkan brankar sekarang" ujar Salwa yang siap sedia akan mengambilkan brankar untuk pasien yang di gendongan Rehan.


"Ah tidak-tidak, saya akan emmbawanya sendiri" jawab Rehan santinsembari tersenyum kepada Salwa.


"Ha??" Ucap Salwa refleks bukannya tak dengar, Salwa hanya ingin memastikan apa yang ia dengar. Rehan lewat begitu saja meninggalkan salawa.


"Waw" guamm Salwa, sejak kapan ia mau menggendong pasien perempuan?? Lagipula kemana dokter Ita. "Wah dokter Ita harusnya melihat ini" ucap salwa sembari menggelengkan kepalanya tak percaya. Daripada terus memperhatikan Rehan, lebih baik salwa kembali ke pekerjaannya.


Rehan menidurkan Ita di ranjang kamra VIP nomor 7, kini Ita resmi lindah di bangsal VIP. Rehanjuga tak akan meninggalkan Ita, sudah cukup ita sendirian selam abeberaoa hadi, jangan sampai ita mersa sendirian lagi, jadi Rshab menemani Ita tidur.


Rehan menatap wajah ita dengan lekat, ia mantap wajah itabyangbbegitu menenangkan bagi Rehan apalagi saat ia tertidur, rehan bahkan biaa tidak tidur semalaman hanya untuk memandangi wajah teduh ita.


Rehan memainkan jarinya, rehan menyentuh setiao sudut dari wajah ita, dari mulai hidungnya, matanya, alisnya, bibrnya, Rehan menyentuh setiap senti bagian wajh ita, kapan lagi Rwha bisa melukannya selain saat ita tertidur.


Rehan memandang wajah ita, kini pandangan rehan beeubah sendu saat melihat wajah ita, rshan teringat saat dimana rehan mendapatkan foto MRI ita dari Alya, alya bilang kalau itabtak punya keluarga satupun, tak ada yang menemani ita.


"Aku benar tak bisa membayangkan saat kamu sendirian tak ada yang menemani mu saat itu, aku yakin itu adalah hal terberat bagi kamu" ujar Rwha sembari menaik turunkn jarinya di hidung mancung ita.


"Jadi sebenarnya aku adakha suami yangbtak beryanggung jawab, aku bahkan memakinsendiri diriku saat mebdenagrvalya bikang maubadalah pasien yang sudh bersumi namun suami tak ada disisimu, aku bahkan mencaci suami itu, namun tetnyata itu adalah diriku sendiri, aku benar-benar tidak tahu malu."


"Maafkan aku sayang" Rehan mengecup pipi ita.


"Cepat smbuh ya, kakak ingin kita lakukan lagi sama-sama, kakak ingin menebus beberapa hari kemarin saat kakak tidak ada disisimu" bisik rehan lembut di telinga kanan ita.


Bukannya tidur di sofa panjang yang ada di kamar VIP, namun Rehan lebih memilih tidur di kursi yang berda di sisi Ita, Rehan menidurkan kepalanya di ranjang Ita.


****


Sampai shubuh datang, Rehan sudah selesai sholat shubuh berjamah, ia kembali ke ruang rawat Ita, Ita sudah bangun, bahkan ia sekarang sedang berdiri di sisi jendela, seperti kebiasaannya ia selalu melihat matahari terbit.


"Assalamualaikum??."


Ita memebalikkan tubuhnya saat mendengar salam Rehan, "wa'alaikumussalam" jawab Ita, matanya kembali ke arah jendela, ia tidak bisa lebapa dari pemandangan indah ini sampai berakhir dengan sendirinya.


Rehan tersenyum menatap Ita, apapun yang dikatakan Rehan pasti hanya ditanggapi singkat oleh Ita, jadi Rehan memilih untuk pergi dulu sebentar, ia ingin menemui seseorang, "ta, kakak keluar dulu ya" pamit Rehan.


"Hmm?? Iya" jawab Ita, benar saja Ita sama sekali tidak jisa mengalihkan oandangannya dadi langit fajar, Rehan tersenyun melihat kebiaan ita ini, sebelum Rehan keluar, Rshan mengecup pipi ita, Ita bahkan tak mennaggapi apapun, ia masih saja larut dalam pandangannya.


"Mam?? Dimana??" Tanya Rehan di sambungan telpon menanyai hammam.


"Di dormitory, kenapa??" Tanya Hamam.


"Bisa bicara nggak, maksut gue sekarang lonada waktu nggak??" Tanya Rehan lagi, ia ingin membicarakan sesutu debgan Hammam.


"Yaudah sekarang aja, darpida nanti malah keburu ada pasien."


"Okey, gue tunggu di kantin rumaj sakit ya" ujar Rehan.


"Okey siap gue meluncur sekarang" ujar Hammam yang langsung berjalan menuju kantin run sakit.


Rehan sudah sampai duluan di kantin rumah sakit, taknlama setalh Rehan sampai, Hammampun sampai dan langsung duduk di depan Rehan, "ngga pesen lu??" Tanya Hammam sembari menata duduknya.


"Ujung-ujungnya kalau makan sama lu juga gue yang bayar" gerutu Rehan.


Hammam tertawa melihat sahabatnya yanh sok marah, padahal wajahnya samasekali tidak cocok untuk marah. "Bbbsssss."


"Apa sih ngajak ketemu shubuh-shubuh" ucap Hammam membuka obrolan.


Rehan mengeluarkan ponselnya, ia membuka galeri di ponselnya, kemudian memperlihatkan kepada Hammam, "lihat nih" Rehan menyodorkan ponselnya kepada Hammam.


"Apa nih" tanya hammam sembari mengambil ponsel Rehan.


Hammam mengamati gambar yang Rehan tunjukkan yang tak alin adalah hasil MRI ita, "bagaimana menurut lo??" Tanya Rehan.


"Ini si tumornya ukurannya besar si han" jawab Hamam yang masih memeperhatikna gambar tersebut.


"Ini udah nekan saraf optik kah" tanya hammam.


"Alhamdulillah belum," jawab Rehan.


"Ooohh ini si kudu cepet-cepet dioperasi." hammam hanya mengangguk menanggapi Rehan.


"Pasien lo??" Tanya Hammam lagi.


"Ham, lo bisa kan tolong gue, gue minta sama lo buat lo yang operasi pasien itu, gue mohon banget gue percaya sama lo" ujar Rehan memohon kepada Rehan, wajahnya benar-benar memelas, tak biasannya Rehan seperti ini.


"Tapi jadwal operasi gue seminggu kedepan udah padat han, dan gue yakin operasi lo seninggu kedepan juga udah full," ujar Hammam jujur dengan jadawalnya, "ooohh gue tahu, jadi karna jadwal lo padat 2 minggu kedepan ya??" Tebak hammam.


"Ish bukan itu," Rehan membantah, meskipun benarbjadwal Rehan padat 2 minggu kedepan tapi bukan itu alasannya tidak bisa mengoperasi Ita.


"Trus??."


"Karena..." Rehan ragu menyebutakna itu adalah MRI ita, namun untuk apa juga Rehan menutupi dari hammam, toh mau ditutupi juga Hammam akan tau kalau ia yang akan mengoperasi pasien tersebut.


"Kenapa woy?!" Rehan menggebrak meja sampai Rehan sadar dari lamunannya.